TOKO 0SCAR CLASSER

Jumat, 15 Januari 2016

filsafat ilmu "Epistemologi"



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Jika mempelajari filsafat ilmu, kita pasti menjumpai istilah “Epistemologi”. Yang merupakan salah satu cabang ilmu filsafat. Dan karena Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas dan metode, dan kesahihan pengetahuan. sehingga dalam kesempatan kali ini akan dibahas lebih lanjut mengenai pengertian epistemologi ilmu. Sejak semula, epistemologi ilmu merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit. Sebab epistemologi ilmu menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang luas, sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya.

Kami juga mencoba menjelaskan tentang sumber-sumber ilmu pengetahuan. Tentu yang dianggap sebagai sumber pengetahuan itu beragam dan berbeda sebagaimana beragam dan berbedanya aliran pemikiran manusia. Selain pengetahuan itu mempunyai sumber, juga seseorang ketika hendak mengadakan kontak dengan sumber-sumber itu.
Dalam makalah ini memuat tentang pengertian dari epistemologi ilmu, sumber ilmu pengetahuan, cara-cara mendapatkan ilmu, dan metode berfikir ilmiah. Makalah ini disusun guna menambah wawasan bagi para pembaca khususnya mahasiswa mengenai pembahasan makalah epistemologi ini.






B. Rumusan Masalah
Saya menyusun  makalah ini karena ada beberapa faktor yang harus saya jelaskan diantaranya:
1.    Apa pengertian epistemologi ilmu?
2.    Bagaimana sumber  ilmu pengetahuan?
3.    Bagaimana cara-cara mendapatkan ilmu?
4.    Bagaimana metode berfikir ilmiah?

C. Tujuan Makalah
Sebagaimana gambaran rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dalam makalah ini adalah:
1.    Ingin mengetahui apa pengertian epistemologi ilmu.
2.    Ingin mengetahui bagaimana sumber  ilmu pengetahuan.
3.    Ingin mengetahui bagaimana cara-cara mendapatkan ilmu.
4.    Ingin mengetahui bagaimana metode berfikir ilmiah.



B.   
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Epistemologi Ilmu
1.    Pengertian Epistemologi
Secara linguistik kata “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu: kata “Episteme” dengan arti pengetahuan dan kata “Logos” berarti teori, uraian, atau alasan. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan.
Epistemologi sering juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Epistemologi lebih memfokuskan kepada makna pengetahuan yang berhubungan dengan konsep, sumber, dan kriteria pengetahuan, jenis pengetahuan, dan lain sebagainya.
Istilah epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan. Secara terminologi epistemologi adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan.
Beberapa ahli yang mencoba mengungkapkan definisi dari pada epistemologi adalah P. Hardono Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Tokoh lain yang mencoba mendefinisikan epistemoogi adalah D.W Hamlyin, beliau mengatakan bahwa epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat  dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian – pengandaian serta secara umum hal itu dapat  diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.
Selanjutnya, pengertian epistemologi yang lebih jelas diungkapkan Dagobert D.Runes. Dia menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan”.

2.    Pengertian Ilmu
Ilmu merupakan suatu istilah yang berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘alima yang terdiri dari huruf ‘ayn, lam, dan mim. Al-Qur’an sering menggunakan kata ini dalam berbagai sighat (pola), yaitu masdar, fi’il mudari, fi’il madi, amr, isim fa’il, isim maf’ul dan isim tafdil. Kata Al-‘Ilm terdapat dalam firman Allah QS. Maryam : 42-43. Dalam ayat ini berarti pengetahuan yang berisi risalah ilahiyah yang diterima Ibrahim dari Allah. Risalah itu berisi ajaran tauhid dan ketentuan-ketentuan Allah yang mesti dipatuhi manusia. Firman Allah menggambarkan tentang manfaat suatu pengetahuan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, dapat mengantarkan manusia kejalan yang benar, yang penuh kesenangan dan kebahagiaan.
Secara harfiah “ilmu” dapat diartikan kepada tahu atau mengetahui. Secara istilah ilmu berarti memahami hakikat sesuatu, atau memahami hukum yang berlaku atas sesuatu.
Pada hakikatnya, ilmu adalah salah satu sifat Allah, karena sifat itulah Dia disebut ‘Alim (Yang Maha Tahu). Dia adalah sumber utama ilmu. Ilmu Allah tiada terbatas, manusia hanya memperoleh sedikit saja dari padanya.

3.    Pengertian Epistemologi Ilmu
Pengertian epistemologi ilmu secara ringkas yaitu suatu teori untuk memahami/mengetahui mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan. Metode ini berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan sangat bergantung pada metode ilmiah. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif. Sebagai teori pengetahuan ilmiah, epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada.
Epistemologi ilmu dalam filsafat akan terus  mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologi, yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu, perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu, dan sebagainya.

B.  Sumber Ilmu Pengetahuan
Sumber ilmu pengetahuan adalah tanda-tanda yang ada di dalam alam semesta, yang ada dalam diri manusia sendiri, dalam sejarah, atau dalam berbagai peristiwa sosial dan berbagai aspek bangsa dan masyarakat, dalam akal atau prinsip-prinsip yang sudah jelas dan didalam hati.
Sumber-sumber
ilmu pengetahuan itu secara garis besar ada tiga, yaitu alam semesta (alam fisik), alam akal (nalar) dan hati (intuisi dan ilham).

1.    Alam Semesta (Alam Fisik)
Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif. Hubungan manusia dengan materi , menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya materi pula, yakni indra, karena sesuatu yang materi tidak bisa diubah menjadi yang tidak materi . Contoh yang paling nyata dari hubungan dengan materi dengan cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, seperti makan, minum, dan lain sebagianya. Dengan demikian, alam semesta yang materi merupakan sumber pengetahuan yang paling awal dan indra merupakan alat untuk mendapatkan pengetahuan dari alam fisik ini.
Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam fisik. Pengetahuan indrawi bersifat parsial, disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya. Masing-masing indra menangkap objek atau sesuatu yang berbeda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ tertentu, oleh karena itu, secara objektif, pengetahuan yang ditangkap satu indra saja, tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh. Namun pengetahuan indrawi menjadi sangat penting karena bertindak sebagai pintu gerbang pertama menuju pengetahuan yang lebih utuh. Dalam filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksioamatis (Analityca Posteriora). Benda-benda alam seperti bumi, langit, matahari, lautan, dan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang dapat ditangkap manusia dengan indra disebut sebagai hal yang dapat disimpulkan atau dipersepsi .

2.    Alam Akal (Nalar)
Kaum Rasionalis, selain alam semesta atau alam fisik, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yang berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya.
Alam akal digolongkan sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan karena:
a.    Dalam pemikiran akal menarik kesimpulan
 Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dalam istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif.
b.    Mengetahui konsep-konsep yang general
Mengatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman
ke dalam benak, dan penyimpulan.



c.    Pengelompokkan Wujud
Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok, misalnya realita-realita yang dikelompokkan ke dalam substansi, apakah benda itu bersifat cair atau
Keras, pemilihan dan penguraian.
d.   Akal dapat menggabungan dan dapat menyusun. Akal juga dapat memilah dan menguraikan.
e.    Kreativitas.
Dalam hal ini, akal dapat bersifat membangun dan mengeluarkan pendapat atau pemikiran dalam mengefisiankan sesuatu.

3.    Hati (Intuisi dan Ilham)
Organ fisik yang berkaitan dengan fungsi hati atau intuisi tidak diketahui dengan pasti, ada yang menyebut jantung, ada juga yang menyebut otak bagian kanan. Pada praktiknya, intuisi muncul berupa pengetahuan yang tiba-tiba saja hadir dalam kesadaran, tanpa melalui proses penalaran yang jelas, non-analitis, dan tidak selalu logis. Intuisi bisa muncul kapan saja tanpa kita rencanakan, baik saat santai maupun tegang, ketika diam maupun bergerak. Kadang ia datang saat kita tengah jalan-jalan di trotoar, saat kita sedang mandi, bangun tidur, saat main catur, atau saat kita menikmati pemandangan alam. Intuisi disebut juga ilham atau inspirasi. Meskipun pengetahuan intuisi hadir begitu saja secara tiba-tiba, namun tampaknya ia tidak jatuh ke sembarang orang, melainkan hanya kepada orang yang sebelumnya sudah berpikir keras mengenai suatu masalah. Oleh karena itu intuisi sering disebut supra-rasional atau suatu kemampuan yang berada di atas rasio, dan hanya berfungsi jika rasio sudah digunakan secara maksimal namun menemui jalan buntu.




C.  Cara-cara Mendapatkan Ilmu
Yang dimaksud cara-cara dalam pembahasan pada makalah ini ialah suatu cara yang sistematis yang dapat digunakan dalam mencari ilmu pengetahuan, yakni ilmu pengetahuan yang logis dan rasional.
Cara-cara yang dipakai dalam mencari ilmu pengetahuan hendaknya juga merupakan cara yang efektif agar ilmu pengetahuan yang diperoleh benar-benar ilmu pengetahuan yang tidak lagi diragukan kebenarannya. Sebab diusahakan dengan cara yang benar. Adapun kebenaran yang dimaksud ialah kebenaran yang tegas dan pasti. Sebab kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu.
Menurut Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani dalam buku Filsafat Umum, mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan tiga cara, yaitu: Dari gagasan dalam pikiran atau ide, pengalaman, dan intuisi.
Adapun menurut Yuyun S. Suryasumantri (2001: 50) pada dasarnya ada dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan kedua mendasarkan diri kepada pengalaman.
Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mencari ilmu pengetahuan, menurut filsuf barat adalah dengan metode Trial and Error (metode mencoba-coba), yaitu:
1.         Rasionalisme
Pengetahuan rasionalisme atau pengetahuan yang bersumber dari akal (rasio) adalah suatu pengetahuan yang dihasilkan dari proses belajar dan mengajar, diskusi ilmiah, pengkajian buku, pengajaran seorang guru, dan sekolah.
Hal ini berbeda dengan pengetahuan intuitif atau pengetahuan yang berasal dari hati. Pengetahuan ini tidak akan didapatkan dari suatu proses pengajaran dan pembelajaran resmi, akan tetapi, jenis pengetahuan ini akan terwujud dalam bentuk-bentuk kehadiran, dan penyingkapan langsung terhadap hakikat-hakikat yang dicapai melalui penampakan mistikal, penelitian jalan-jalan keagamaan, dan penelusuran tahapan-tahapan spiritual. Tokoh-tokoh paham rasionalisme yaitu : Agustinus, Johanes Scotus, Avicena, Rene Descrates, Spinoza, Leibniz, Fichte, Hegel, Plato, Galileo, Leonardo da Vinci.

2.         Empirisme
Tak diragukan bahwa indra-indra lahiriah manusia merupakan alat dan sumber pengetahuan, dan manusia mengenal objek-objek fisik dengan perantaraanya. Setiap orang yang kehilangan salah satu dari indranya akan sirna kemampuannya dalam mengetahui suatu realitas secara partikular. Misalnya seorang yang kehilangan indra penglihatannya maka dia tidak akan dapat menggambarkan warna dan bentuk sesuatu yang fisikal, dan lebih jauh lagi orang itu tidak akan mempunyai suatu konsepsi universal tentang warna dan bentuk.
Dengan demikian bahwa indra merupakan sumber dan alat makrifat dan pengetahuan ialah hal yang sama sekali tidak diasingkan. Tokoh-tokoh paham Empirisme yaitu : John Locke, Berkeley, David Hume, Gothe, August Comte.

3.         Fenomenalisme
Paham ini dikemukakan oleh Immanuel Kant, filsuf Jerman. Dia berusaha mendamaikan pertentangan antara empirisme dan rasionalisme. Menurut Kant, pengetahuan hanya bisa terjadi oleh kerjasama antara pengalaman indra dan akal budi, dan tidak mungkin yang satu bekerja tanpa yang lain. Indra hanya memberikan data yakni warna, cita-rasa, bau, dan lain-lain. Untuk memperoleh pengetahuan, kita harus keluar atau menembus pengalaman, pengetahuan terjadi dengan menghubung-hubungkan, dan ini dilakukan oleh rasio (akal).

4.         Intuisionisme
Henri Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek yang selalu berubah, demikian bargson. Jadi, pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelektual atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu, jadi dalam hal itu manusia tidak mengetahui keseluruhan (unique), tidak dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Misalnya manusia mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. Dengan menyadari kekurangan dari indera dan akal maka Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi.
 Oleh karena itu intuisi sering disebut supra-rasional atau suatu kemampuan yang berada di atas rasio, dan hanya berfungsi jika rasio sudah digunakan secara maksimal namun menemui jalan buntu.

5.         Wahyu
Wahyu adalah pemberitahuan langsung dari Tuhan kepada manusia dan mewujudkan dirinya dalam kitab suci agama. Namun sebagian pemikir Muslim ada yang menyamakan wahyu dengan intuisi, dalam pengertian wahyu sebagai jenis intuisi pada tingkat yang paling tinggi, dan hanya Nabi yang bisa memperolehnya.
Sebagai manusia yang beragama pasti meyakini bahwa wahyu merupakan sumber ilmu, Karena diyakini bahwa wahyu itu bukanlah buatan manusia tetapi buatan Tuhan Yang Maha Esa.

6.         Metode Ilmiah
Ini digunakan oleh para ilmuwan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang sesuatu. Metode Ilmiah terdiri dari :
a.      Pengamatan/pengalaman yang digunakan sebagai dasar untuk merumuskan masalah.
b.      Hipotesa, untuk penyelesaian yang berupa saran. Ini bersifat sementara dan perlu diverifikasi lebih lanjut. Dalam hipotesa, kebenaran masih bersifat probalitas. Kegiatan akal bergerak keluar dari pengalaman, mencari suatu bentuk untuk menyusun fakta-fakta dalam kerangka tertentu. Hipotesa dilakukan melalui penalaran induksi, dan memuat kalkulasi dan deduksi.
c.       Eksperimentasi, merupakan kajian terhadap hipotesa. Hipotesa yang kebenarannya dapat dibuktikan dan diperkuat dinamakan hukum, sedangkan di atas hukum terdapat teori.

Cara-cara memperoleh ilmu tidak hanya terbatas pada itu saja, tetapi masih ada menurut Ajaran Islam cara memperoleh ilmu yaitu:
1.         Pengajian Insani
Pengajian Insani terbagi kepada dua cara  yaitu;
a.    Dari Luar (Mendapatkan ilmu dengan pengajian biasa)
b.   Dari Dalam (Mendapatkan ilmu dengan berfikir hingga dapat dicungkil ilmu itu dari batin jiwa, yaitu jiwa keseluruhan (An-Nafs Al-Kulli) atau (Al-Luh Al-Mahfuz), kemudian barulah ilmu itu terukir pada jiwa.

2.         Pengajian Rabbani
Pengajian Rabbani juga terbagi kepada dua cara yaitu;
a.    Menerusi Wahyu dan
b.   Menerusi Ilham
 Kedua cara ini lebih tinggi tingkatannya dari cara mendapatkan ilmu dari cara berfikir. Wahyu dan Ilham adalah datang dari zat Allah dan akal keseluruhan (Al-'Aqlul Kulli) menerusi jiwa keseluruhan (Al-Nafs Al-Kulli), kemudian baru terukir pada jiwa.
Meskipun kedua-duanya mempunyai saluran yang sama, Wahyu itu lebih tinggi dari daripada Ilham. Wahyu untuk Nabi-nabi dan Rasul-rasul dan Ilham untuk Nabi-nabi dan Wali-wali Allah. Ilmu yang didapati menurut ilham inilah dinamakan 'Ilmu Laduni'.

D.  Metode Berfikir Ilmiah
Metode berfikir  ilmiah adalah suatu prosedur atau tata cara tertentu untuk membuktikan benar salahnya suatu hipotesis yang ditentukan sebelumnya. Secara operasional, metode ilmiah merupakan penggabungan antara cara berfikir deduktif (rasional) dan induktif (empiris) dalam membangun tubuh pengetahuan.
George F. Kneller (1964: 181) menyatakan bahwa metode ilmiah adalah struktur rasional dalam melakukan penyelidikan ilmiah. Dari metode ini hipotesis (dugaan) disusun dan kemudian diuji untuk dibuktikan. Dengan demikian, metode ilmiah dapat diartikan sebagai suatu prosedur atau tata cara tertentu untuk membuktikan benar salahnya suatu hipotesis yang ditentukan sebelumnya. Metode ilmiah dipengaruhi unsur alam yang berubah dan bergerak secara dinamis dan teratur.
Dengan ditemukannya metode ilmiah, manusia bukan saja bisa hidup dalam ritme modernisme yang serba mudah dan menjanjikan, akan tetapi juga secara perlahan mengganti sebagian peran Tuhan dalam menentukan takdirnya. Manusia tidak lagi berpangku tangan terhadap apa yang menjadi kehendak alam.

1.     Kegunaan Metode Ilmiah
Metode ilmiah memiliki kegunaan sebagai berikut:
a.    Untuk mengembangkan pengetahuan.
b.   Untuk memecahkan persoalan yang dihadapi manusia. Kemampuan manusia dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya akan menjadi starting point yang menjamin eksistensi manusia.
c.    Memudahkan ilmuwan dan pengguna keilmuannya untuk melakukan penelusuran dalam suatu kajian.

2.    Daya Dukung Terhadap Metode Berfikir Ilmiah
Menurut Archi J. Bahm, harus menunjukkan metode berfikir ilmiah sebagai berikut:
a.    Masalah
       Masalah adalah sesuatu yang timbul akibat adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Permasalahan dalam ilmu pengetahuan memiliki tiga ciri sebagai berikut:
1)      Dapat dikomunikasikan (communicable) dan dapat menjadi wacana publik.
2)      Dapat diganti dengan sikap ilmiah.
3)      Dapat ditangani dengan metode ilmiah.

b.   Sikap Ilmiah
Sikap ilmiah meliputi enam karakteritik, yaitu:
1)        Rasa ingin tahu (scientific curiosity).
2)        Spekulatif.
3)        Obyektif.
4)        Keterbukaan.
5)        Kesediaan untuk menunda penilaian.
6)        Tentatif, artinya tidak bersifat dogmatis terhadap hipotesis maupun simpulan.

c.    Aktivitas Ilmiah
Yang dimaksud aktivitas ilmiah di sini adalah pekerjaan ilmuwan yang senantiasa melakukan riset untuk mencapai pada apa yang disebutnya benar. Menurut Walter R. Borg dan Meredith D. Gall, ada 7 langkah yang ditempuh peneliti dalam melakukan penelitiannya, yaitu:
1)        Menetapkan masalah.
2)        Merumuskan atau mendefinisikan masalah.
3)        Menyusun hipotesis.
4)        Menetapkan teknik dan menyusun instrumen penelitian.
5)        Mengumpulkan data yang diperlukan.
6)        Menganalisis data yang terkumpul.
7)        Menarik kesimpulan.

3.    Sarana Berfikir Ilmiah
Untuk dapat melakukan kegiatan berfikir ilmiah dengan baik diperlukan sarana berfikir ilmiah berupa:
a.    Bahasa Ilmiah
Bahasa ilmiah merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berfikir ilmiah. Bahasa merupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran seluruh proses berfikir
ilmiah kepada orang lain.
b.   Logika metematika
Logika matematika mempunyai peran penting dalam berfikir deduktif sehingga mudah diikuti dan dilacak kembali kebenarannya.
c.    Logika statistika
logika statistika mempunyai peran penting dalam berfikir induktif mencari konsep-konsep yang berlaku umum.

Kemampuan berfikir ilmiah yang baik sangat didukung oleh penguasaan sarana berfikir dengan baik pula. Maka dalam proses berfikir ilmiah diharuskan untuk mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berfikir tersebut dalam keseluruhan proses berfikir ilmiah. Berfikir ilmiah menyadarkan diri kepada proses metode ilmiah baik logika deduktif maupun logika induktif. Ilmu dilihat dari segi pola fikirnya merupakan gabungan antara berfikir deduktif dan induktif.

BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Pengertian epistemologi ilmu secara ringkas yaitu suatu teori untuk memahami/mengetahui mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan.
Sumber ilmu pengetahuan adalah tanda-tanda yang ada di dalam alam semesta, yang ada dalam diri manusia sendiri, dalam sejarah, Sumber-sumber ilmu pengetahuan itu secara garis besar ada tiga, yaitu alam semesta (alam fisik), alam akal (nalar) dan hati (intuisi dan ilham).
Cara-cara yang dapat digunakan untuk mencari ilmu pengetahuan, menurut filsuf barat adalah dengan metode Trial and Error (metode mencoba-coba), yaitu: Rasionalisme, Empirisme, Fenomenalisme, Intuisionisme, Wahyu dan Metode Ilmiah. Sedangkan Cara-cara memperoleh ilmu tidak hanya terbatas pada itu saja, tetapi masih ada menurut Ajaran Islam cara memperoleh ilmu yaitu: Pengajian Insani dan pengajian Rabbani.
Metode berfikir  ilmiah adalah suatu prosedur atau tata cara tertentu untuk membuktikan benar salahnya suatu hipotesis yang ditentukan sebelumnya. Secara operasional, metode ilmiah merupakan penggabungan antara cara berfikir deduktif (rasional) dan induktif (empiris) dalam membangun tubuh pengetahuan.

B.  Saran
Semoga dengan adanya makalah ini dapat membantu teman-teman semua agar bisa mengetahui bagimana efistemologi ilmu, dan bagaimana dalam menerapkannya.
Mohon maaf apabila dalam membuatan makalah ini masih banyak kekurangan atau kesalahan. Karena penulis masih dalam tahap belajar. Maka dari itu penulis meminta saran dan kritik yang membangun untuk pembuatan makalah yang selanjutnya .
DAFTAR PUSTAKA

Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1990), Diakses: Selasa, 24 Februari 2015. 15.20
https://peradaban14islam.wordpress.com/2011/04/08/epistemologi-cara-mendapatkan-pengetahuan-yang-benar/  sabtu Maret 2015  21:06
https://subliyanto.wordpress.com/2012/12/12/pengertian-penelitian-metode-penelitian-dan-berfikir-ilmiah/ sabtu 07 Maret 2015 21:18




Tidak ada komentar:

Posting Komentar