Hukum Shalat Sunah Mutlak
Shalat sunah mutlak,
dianjurkan untuk banyak dilakukan setiap waktu, siang maupun malam, selain
waktu larangan untuk shalat. Waktu terlarang tersebut adalah:
Setelah subuh sampai matahari
terbit.
Ketika
matahari tepat berada di atas kepala, hingga condong sedikit kebarat.
Ketika
matahari sudah menguning setelah asar, hingga matahari terbenam.
Allah berfirman,
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ
خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“Punggung-punggung
mereka jauh dari tempat tidur, karena beribadah kepada Allah, dengan penuh rasa
takut dan rasa harap. Mereka juga menginfakkan sebagian dari rezeki yang Aku
berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)
Keutamaan Shalat Sunah Mutlak
Dari Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami radhiyallahu
‘anhu, beliau menceritakan,
Aku
pernah tidur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku layani
beliau dengan menyiapkan air wudhu beliau dan kebutuhan beliau. Setelah usai,
beliau bersabda: “Mintalah sesuatu.” Aku menjawab: ‘Aku ingin bisa
bersama anda di surga.’ Beliau bersabda: “Yang selain itu?” ‘Hanya itu.’
Kataku. Kemudian beliau bersabda,
فَأعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
“Jika
demikian, bantulah aku untuk mewujudkan harapanmu dengan memperbanyak sujud.”
(HR. Muslim).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan figur yang pandai berterima
kasih kepada orang lain. Sehingga ketika ada orang yang melayani beliau, beliau
tidak ingin itu menjadi utang budi bagi beliau. Sebagai wujud rasa terima
kasih, beliau menawarkan kepada Rabi’ah yang telah membantunya, agar meminta
sesuatu sebagai upahnya. Namun sang sahabat menginginkan agar upahnya berupa
surga, bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk mewujudkan itu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta agar Rabi’ah
memperbanyak sujud, dalam arti memperbanyak shalat sunah. Karena seseorang bisa
melakukan sujud sebanyak-banyaknya dengan rajin shalat sunah mutlak.
Dalam
hadis yang lain, dari Ma’dan bin Abi Thalhah al-Ya’mari mengatakan,
Saya
pernah bertemu Tsauban, budak yang dibebaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Aku pun bertanya kepadanya, ‘Tolong ceritakan kepadaku, amalan
apa yang bisa menjadi sebab Allah memasukkanku ke dalam surga?’ Dalam riwayat
yang lain: ‘Sampaikan kepadaku amalan yang paling dicintai Allah?’ Tsauban pun
terdiam. Kemduian aku mengulangi pertanyaanku tiga kali. Setelah itu beliau
menjawab, ‘Aku pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Dan beliau menjawab:
عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ، فَإِنَّكَ لا تَسْجُدُ، سَجْدَةً
إِلا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
“Perbanyaklah
bersujud. Karena tidaklah kamu bersujud sekali, kecuali Allah akan mengangkat
satu derajat untukmu dan menghapus satu kesalahan darimu.” (HR. Muslim).
Tingkat keutamaan
Pada
penjelasan sebelumnya, telah disebutkan bahwa shalat sunah ada 2: shalat sunah
mutlak dan shalat sunah muqayad. Semua shalat sunah ini, tingkatannya
berbeda-beda. Berikut rinciannya:
Shalat
sunah muqayad, lebih utama dibandingkan shalat sunah mutlak. Meskipun shalat sunah
muqayad ini dilakukan di siang hari.
Shalat
sunah mutlak yang dilakukan di malam hari, lebih utama dibandingkan shalat
sunah mutlak yang dilakukan di siang hari.
Sebagai
contoh, orang yang mengerjakan shalat sunah mutlak antara maghrib dan isya,
lebih utama dibandingkan orang yang mengerjakan shalat sunah mutlak antara
zuhur dan asar.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ المَكْتُوبَةِ الصَّلاةُ
فِي جَوْفِ اللَّيْلِ
“Shalat
yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat sunah yang dikerjakan di
malam hari.” (HR. Muslim)
Shalat
sunah mutlak yang dikerjakan di sepertiga malam terakhir, lebih utama
dibandingkan shalat sunah mutlak di awal malam. Karena sepertiga malam terakhir
adalah waktu mustajab untuk berdoa.
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى
السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ
يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ
يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Tuhan
kita Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi, turun setiap malam ke langit dunia,
ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Kemudian Dia berfirman: ‘Siapa
yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku
beri, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan aku ampuni.” (HR. Muslim)
Demikian
yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib kita
imani sebagaimana yang beliau sampaikan. Allah turun ke langit dunia, dengan
cara yang sesuai kebesaran dan keagungannya, dan tidak boleh kita khayalkan.
Shalat
sunah yang dilakukan di rumah, lebih utama dibandingkan shalat sunah yang
dikerjakan di masjid.
إِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ
إِلَّا المَكْتُوبَةَ
“Sesungguhnya
shalat yang paling utama adalah shalat yang dilakukan seseorang di rumahnya,
kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tata Cara Shalat Sunah Mutlak
Shalat
sunah mutlak tata caranya sama dengan shalat biasa. Tidak ada bacaan khusus,
maupun doa khusus. Sama persis seperti shalat pada umumnya.
Untuk
bilangan rakaatnya, bisa dikerjakan dua rakaat salam – dua rakaat salam. Bisa
diulang-ulang dengan jumlah yang tidak terbatas.
Dari
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada seseorang yang mendatangi Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Bagaimana cara shalat di
malam hari?’ Beliau menjawab:
مَثْنَى مَثْنَى، فَإذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَأوْتِرْ
بِوَاحِدَةٍ، تُوتِرُ لَكَ مَا قَدْ صَلَّيْتَ
“Dua
rakaat-dua rakaat, dan jika kamu khawatir nabrak subuh, kerjakanlah witir satu
rakaat, sebagai pengganjil untuk semua shalat yang telah anda kerjakan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Untuk
shalat sunah mutlak yang dikerjakan siang hari, bisa juga dikerjakan empat
rakaat dengan salam sekali, tanpa duduk tasyahud awal.
Sholat dalam keadaan darurat ialah
sholat yang dilakukan oleh seseorang yang kesulitan dalam melaksanakan secara
sempurna baik mengenai syarat maupun rukunnya. (Anwari, dkk, 2004: 19)
A.
Shalat dalam Keadaan Sakit
1.
Cara sholat dengan duduk
Yaitu: dengan cara duduk seperti ketika tasyahud awal (duduk
iftirosy). Untuk niat takbiratul ihram, do’a iftitah dan bacaan-bacaan yang
sama (seperti pada sholat berdiri). Untuk ruku’ cukup membungkukkan badan
sekedarnya. I’tidalnya dengan duduk. Untuk sujud dan tasyahud
akhirnya duduk tawaruk salam sama dengan sholat biasa.
2.
Cara sholat dengan berbaring
Yaitu: dengan cara kaki berada disebelah utara, kepala
disebelah selatan dengan menghadap kearah kiblat. Untuk
bacaan-bacaan sama seperlu sholat biasa. Sedangkan untuk gerakan-gerakannya
cukup dengan isyarat kepalanya atau kerdipan mata.
3.
Cara sholat dengan terlentang
Yaitu: dengan cara kaki disebelah barat dan kepalanya
disebelah timur (jika memungkinkan kepalanya diberi bantal agar mukanya dapat
menghadap kiblat). Untuk gerakan-gerakan cukup dengan isyarat. Dan bacaan
sholat ada keringanan sesuai kemampuannya.
عَنْ
عَليْ بْن اَبِيْ طَا لِبِ عَنِ النَبِيِّ صلي الله عليه وسلم قال يُصَلِّي
الْمَرِيْضِ قَائِمًاإِنِ اسْتَطَاعَ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ صَلّيَ قَاعِدًا
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ اَنْ يَسْجُدَ أَوْمَأَ بِرَأْ بِرَأْسِهِ وَجَعَلَ
سُجُوْدَهُ اَخْفَضُ مِنْ رُكُوْعِهِ فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلّي قَاعِدًا
صَلَّي عَلَي جَنْبِهِ الأَيْمَنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ مُسْتَلْقِيًا رِجْلَاهُ مِمَّايَلِي الْقِبْلَةِ
“Dari Ali
bin Abi Thalib ra, telah bersabda Rasulullah saw tentang shalat orang sakit;
jika kuasa seseorang shalatlah ia dengan berdiri, jika tidak kuasa shalatlah
sambil duduk. Jika ia tidak mampu sujud maka isyarat saja dengan kepalanya,
tetapi hendaklah sujud lebih rendah daripada ruku’nya. Jika ia tidak kuasa
shalat sambil duduk, shalatlah ia sambil berbaring ke sebelah kanan menghadap
kiblat.jika tidak kuasa juga maka shalatlah ia terlentang, kedua kakinya kearah
kiblat.” (HR. Ad Daruquthni). (Anwari,
dkk, 2004: 19-20)
B.
Shalat dalam Kendaraan
Seseorang yang sedang dalam perjalanan mendapat keringanan
dalam sholat dengan cara jama’ atau qashar sekaligus jama’ qashar.
Akan tetapi jika perjalanan yang dilakukan cukup jauh dan
melampauhi dua waktu sholat tanpa berhenti untuk beristirahat, maka boleh
mengerjakan sholat dalam kendaraan, (misalnya dalam bis, kereta
api, kapal laut,pesawat
dan lain-lain)
Cara
sholat dalam kendaraan
a.
Menghadap kearah kiblat (jika tidak
bisa, karena dalam pesawat atau kereta) boleh menghadap kemana saja
b.
Berdiri (jika tidak mungkin boleh
dengan duduk)
سُئِلَ ا النبِي صَلى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَمَ عَنِ الصَلَاةِ فِي السَفِيْنَةِ قاَ لَ: صَلِ فِيْهاَ قَا ئِمًا
اْلااَنْ يَخَا فَ الغَرَقَ
“Rasulullah
saw ditanya oleh seorang sahabatnya, bagaimana cara saya sholat diatas perahu
(pesawat) beliau bersabda shalatlah di dalam perahu/pesawat itu dengan berdiri
kecuali kalau kamu takut tenggelam.”
c.
Untuk niat dan bacaan-bacaannya sama
seperti sholat biasa
d.
Sedangkan gerakannya, Jika dapat
harus seperti sholat dengan berdiri, tetapi jika tidak dapat boleh dengan
isyarat.
(Anwari,
dkk, 2004: 20)
C. Shalat
Karena Takut : Sholat Khauf
Kaum Muslimin disyariatkan meminta perlindungan kepada Allah
swt. ketika musuh datang untuk memerangi mereka atau ketika takut kepada
binatang buas, kebakaran, tenggelam, ataupun lainnya dengan melakukan sholat khauf
(karena takut). Legalitas hukum sholat khauf di dasarkan pada firman
Allah swt yang artinya:
“Dan
apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak
mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka
berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka
(yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), Maka hendaklah
mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang
golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka
denganmu.”
(QS. An Nisa: 102)
Berdasarkan berbagai sumber yang shahih, Nabi saw. juga dilaporkan pernah
menunaikan sholat khauf bersama para sahabatnya. Sholat ini disyariatkan
pada tahun ketujuh hijrah berdasarkan keterangan Jabir bin Abdullah:
“Rasulullah saw. berperang enam kali sebelum sholat khauf, dan sholat khauf
baru disyariatkan pada tahun ketujuh. (Abd. Aziz Muhammad Azzam dan
Abdul WAhhab Sayyed Hawwas, 2009: 300-301)
Tata
Cara Sholat Khauf
Berikut
ini keterangan selengkapnya: (Syaikh Sayyid Sabiq, 1998: 654-663)
1.
Jika musuh tidak berada pada arah
kiblat, maka dalam shalat yang dua rakaat, imam shalat satu rakaat dengan
kelompok pertama, kemudian menunggu sampai mereka menyelesaikan sendiri-sendiri
kekurangannya, lalu pergi menghadapi musuh. Lalu kelompok kedua maju ke muka
dan shalat dengan imam dalam rakaat yang kedua. Imam menunggu mereka hingga
mereka menyelesaikan kekurangan yang satu rakaat lagi, dan imam akan
mengucapkan salam dengan mereka bersama-sama. Diriwayatkan Shalih bin Khawat,
dari Sahal bin Khaitsamah, ia berkata:
“satu
kelompok berbaris bersama Nabi saw, sedang kelompok lainnya berbaris menghadapi
musuh. Beliau shalat bersama kelompok pertama itu satu rakaat dan tetap berdiri.
Kelompok itu selanjutnya menyelesaikan shalatnya sendiri-sendiri, lalu pergi
menghadapi musuh, lalu datnglah kelompok kedua dan beliau kemudian shalat satu
rakaat, sisanya bersama mereka. Beliau tetap duduk menunggu mereka
menyelesaikan shalatnya, kemudian beliau mengucapkan salam bersama mereka. (HR. Jama’ah, kecuali Ibnu Majah)
2.
Jika musuh juga tidak berada di arah
kiblat, maka imam shalat satu rakaat dengan kelompok pasukan, sedang kelompok
lainnya menghadapi musuh. Kelompok pertama tadi kemudian pergi menghadapi
musuh, sedangkan kelompok yang tadinya berjaga-jaga lalu shalat satu
rakaat bersama imam. Masing-masing kelompok, kemudian menyelesaikan sendiri
rakaatnya yang kedua. Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, ia berkata:
صَلِى َرسُولُ اللهِ صَلى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَمَ بِإِحْدَى الَطَائِفَتَيْنِ رَكْعَةً, وَ الَطَائِفَةُ
اْلْأُخْرَى مُوَاجِهَةٌ لِلْعَدِو, ثُمَ انْصَرَفُوْا, وَ قَامُوْا فِي مَقَامِ
أَصْحَاِبِهمْ مُقْبِلِيْنَ عَلَى اْلعَدُوِ, وَ جَاءَ أُولَئِكَ, ثُمَ صَلَى
بِهِمُ الَنِبيِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ رَكْعَةً, ثُمَ سَلَمَ , ثُمَ قَضَى
هَؤُ لاَءِ رَكْعَةً وَ هَؤُلاَءِ رَكْعَةً.
“Rasulullah
saw bersabda, shalat satu rakaat dengan salah satu dari dua kelompok,
sedang kelompok lainnya menghadap musuh, kemudian kelompok pertama itu pergi
menggantikan kelompok kedua untuk mengahadap musuh. Kelompok kedua itu datang,
lalu shalat satu rakaat bersama Rasulullah. Beliau lalu mengucapkan salam, dan
kedua kelompok itu menyelesaikan satu rakaat lagi dengan cara sendiri-sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim)
3.
Imam shalat dengan masing-masing
kelompok dua rakaat. Maka dua rakaat pertama kedudukannya bagi imam sebagai
fardhu, sedang dua rakaat yang akhir sebagai sunnah. Bermakmumnya orang yang
shalat fardhu pada orang yang shalat sunnah itu hukumnya boleh. Dari Jabir r.a,
Ia berkata:
أَنَهُ صَلى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَمَ صَلَى بِطَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ رَكْعَتَيْنِ, ثُمَ صَلَى
بِائَخَرِيْنَ رَكْعَتَيْنِ, ثُمَ سَلَمَ.
“Rasulullah
saw bersabda, shalat dengan kelompok sahabatnya dua rakaat, lalu shalat lagi
dengan kelompok lain dua rakaat, kemudian beliau salam. (HR. Syafi’I dan Nasa’i)
Ahamad,
Abu Daud
Dan Nasa’I juga meriwayatkan dari jabir,
Rasulallah
SAW. Shalay khauf bersama kami.Beliau shalat dua rakaat bersama sebagian
sahabatnya hingga salam. Mereka (yakni kelompok pertama ini), lalu mundur
. Para sahabat yang laen (kelompok kedua) datang. Beliau shalat dua raka’at
bersama mereka hingga salam. Jadi Rasulallah SAW shalat empat rakaat, sedangkan
masin-masing kelompok shalat dua Raka’at.
Dalam
riwayat Ahmad, Bukhari, dan Muslim dari jabir r.a berkata:
كُنَا مَعَ النَبِيْ صَلى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَمَ بِذَاتِ الرِقَاعِ, وَ أَقِيْمَتِ الصَلاَةِ, فَصَلَى
بِطَائِفَةِ رَكْعَتَيْنِ, ثُمَ تَأْخَرُوا, وَ صَلَى بِالطَائِفَةِ الأُخْرَى
رَكْعَتَيْنِ, فَكَانَ لِلنَبِيِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ أَرْبَعٌ وَ
لِلْقَوْمِ رَكْعَتَانِ.
Kami
ikut bersama Rasulallah SAW. Dalam pertemuran dzatur riqo’, lalu shalat di
iqomati. Beliau shalat dua rakaat denga kelompok pasukan, lalu kelompok ini
mundur. Kemudian beliau shalat lagi dengan kelompok lain sebanyak dua rakaat
pula. Jadi rasulallah shalat empat rakaat sedang dua kelompok itu masing-masing
dua rakaat.
4. Jika musuh berada di arah kiblat, maka imam shalat bersama
dua kelompok sekaligus. Sambil terus berjaga-berjaga, mereka mengikuti imam
dalam setiap rukun shalat, kecuali sujud. Pada waktu sujud, kelompok pertama
melakukannya dulu, sedang kelompok kedua menungga. Bila kelompok pertama talah
selesai barulah kelompok kedua sujud. Selanjutnya, setelah rakaat pertama
selesei, kelompok pertama berganti tempat dengan kelompok kedua. Artinya, yang
tadinya berada pada barisan depan pindah ke barisan belakang.
Dari
Jabir r.a iaberkata:
شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ
صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ صَلَاةَ اْلخَوْفِ, فَصَفَنَا صَفَيْنِ
خَلْفَهُ, وَ اْلعَدُوُ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ اْلقِبْلَةِ, فَكَبَرَ النَبِيِ صَلى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ وَ كَبَرْنَا جَمِيْعًا, ثُمَ رَكَعَ وَ رَكَعْنَا
جَمِيْعًا ثُمَ رَفَع َرَأْسَهُ مِنَ الرُكُوْعِ, وَ رَفَعْنَا جَمِيْعًا, ثُمَ
انْحَدَرَ بِالسُجُوْدِ وَ الَصفُ الَذِي َيِلْيهِ, وَ قَامَ الصَفُ اْلُمُؤْخَرُ
فِي نَحْرِ اْلعَدُوِ. فَلَمَا قَضَى النَبِي صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ السُجُوْدَ
وَ الصَفُ الَذِي يَلِيْهِ,
وَ
قاَ مَ الصَفُ الْمُؤَ خَرُ فيِ نَحْرِ الْعَدُوِ. فَلَماَ قَضىَ النَبِي
صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ السُجُوْدَ وَ الصَفُ الَديْ يِلِيْهِ
اِنْحَدَرَ الصَفُ الْمُؤَخَرُ بِالسُجُوْدِ, وَ قَامُوْا, ثُمَ تَقَدَمَ الصَف ا
لْمُؤَخَرُ. وَ تَأَخَرَ الصَفُ الْمُقًدَمُ, ثُمَ رَكَعَ النَبِي صَلى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَمَ وَ رَكَعْنَا جَمِيْعًا, ثُمَ رَفَعَ رَأْسَهُ, وَ رَفَعْناَ
جَمِيْعًا, ثُمَ انْحَدَرَ بِالسُجُوْدِ وَ الصَفُ الَذِيْ يَلِيْهِ, الَذِيْ
كَانَ مُؤَخَرًا فِيْ الرَكْعَةِ اْلأُوْلىَ, وَ قَامَ الصَفُ اْلمُؤَخَرُ فِيْ
نَحْرِ الْعَدُوِ, فَلَمَا قَضَى النَبِيُ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ
السُجُوْدِ فِي الصَفُ الَذِيْ يَلِيْهِ, اِنْحَدَرَ الصَفُ الْمُؤَخَرُ
بِالسُجُوْدِ, فَسَجَدُوا, ثُم َسَلَمَ النَبِيُ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ وَ
سَلَمْنَا جَمِيْعَا.
Saya
mengikuti shalat khauf bersama rasulallah. Kami di bagi menjadi dua barisan dan
berdiri di balakang beliau. Sementara itu, musuh berada di antar kami dan
kiblat.Rasulallah membaca takbir dan kami semua bertakbir. Beliau ruku’ dan
kami semua ikut ruku’. Beliau mengangkat kepala dari ruku’, dan kami semua ikut
mengangkat kepala dari ruku’. Ketika beliau sujud, shof yang di depan ikut
sujud, sedang yang di belakang tetap berdiri menghadap musuh. Setelah
Rasulallah selesei sujud bersama shof pertama, maka shof kedua turun sujud
kemudin kembali berdiri. Selanjutnya shof yang di belakang maju kedepan dan
shof yang di belakang maju kedepan dan shof yang didepan mundur kebelakang.
Lalu Rasulallah ruku’. Beliau mengangkat kepala (dari ruku’) dan kamipun
mengangkat kepala. Pada waktu beliau sujud, shaf depan yang pada waktu rakaat
pertama tai berada di belakang mengikuti sujud, sedang shaf yang kedua
menghadap musuh. Setelah Nabi saw selesai sujud bersama shaf pertama, shaf
kedua baru melakukan sujud. Kemudian Nabi saw mengucapkan salam dan kami pun
bersama-sama mengucapkan salam.
(HR. Ahmad, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah, Baihaqi).
5.
Kedua kelompok shalat dengan imam
bersama-sama. Kelompok pertama berdiri menghadap musuh, sedangkan kelompok
pertama lainnya shalat satu rakaat bersama imam, lalu pergi menghadap musuh.
Kelompok yang tadinya berjaga-jaga menghadap musuh kemudian datang dan shalat
satu rakaat sendiri-sendiri. Ketika itu iamam masih keadaan berdiri (shalat).
Lalu imam meneruskan shalat rakaat kedua dengan mereka. Setelah selesai,
kelompok yang tadinya berjaga-jaga menghadapi musuh, lalu satu rakaat
sendirian, sedangkan imam dan kelompok kedua masih tetap duduk menunggu.
Kemudian kedua kelompok itu mengucapkan salam bersama imam. Dari abu Hurairah,
ia berkata:
“Aku
mengikuti shalat khauf bersama rasulallah pada perang najed. Ketika itu beliau
shalat ashar. Beliau berdiri dengan satu kelompok, sedang kelompok lain
menghadap kea
rah musuh, punggung mereka menghadap kiblat. Beliau membaca takbir dengan
seluruh pasukan yakni pasukan yang berdiri bersama beliau dan yang menghadap
kea rah musuh. Beliau ruku’ satu kali, dan kelompok pertama yang bersama beliau
ikut ruku’, beliau sujud dan kelompok itupun sujud. Adapun kelompok lain tetap
berdiri menghadap musuh.
Beliau
kemudian berdiri dan kelompok pertama pun ikut berdiri. Mereka kemudian
pergi menghadap musuh, menggantikan kawan-kawannya. Lalu kelompokkedua yang di
gantikan itu ruku’, kemudian sujud, sedang Rasulallah tetap berdiri. Kelompok
kedua ini kemudian berdiri untuk raka’at kedua. Setelah itu Nabi SAW mengimami
mereka ruku’ dan dilanjutkan sujud sampai duduk. Kelompok pertam kemudian
datang,lalu ruku’ dan sujud sendiri-sendiri. Setelah sama-sama duduk,
Rasulallah SAW mengucapkan salm dan di ikutioleh mereka. Jadi Rasulallah SAW.
Mengerjkan shalat dua rakaat, dan masing-masing kelompok juga dua rakaat. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i).
6.
Masing-masing kelompok membatasi
shalat dengan imam hanya satu rakaat saja. Dengan demikian, imam melakukan
shalat dua rakaat, sedang masing-masing kelompok satu rakaat. Dari Ibnu abbas,
ia berkata:
أَنَّ رَسُوْلَ الله صلي الله عليه
وسلم صَلَّى بِذِي قَرَدٍ, وَ صَفَّ النَّاسُ خَلْفَهُ صَفَّيْنِ, صَفًّا
خَلْفَهُ,
وَصَفَّا مُوَازِيَ الْعَدُوِّ,
فَصَلَّى بِالَّذِيْنَ خَلْفَهُ رَكْعَةً, ثُّمَّ انْصَرَفَ هَؤُلاَءِ, وَ جَاءَ
دَوْرُ أُولَئِكَ, فَصَلَّى بِهِمْ رَكْعَةً وَ لَمْ يَقْضُوْا رَكْعَةٍ.
“bahwasanya
Rasulullah saw shalat dalam epperangan Dzi Qarad. Orang-orang berbaris di
belakang beliau dua shaf, satu shaf di belakang beliau dan satu shaf lebih
menghadapi musuh. Beliau shalat dengan shaf yang ada di belakang beliau itu
satu rakaat, lau shaf yang sudah shalat ini pergi menggantikan yang belum
shalat. Kelompok yang digantikan itu lalu mengerjakan shalat bersama Rasulullah
saw satu rakaat dan tidak menambahinya lagi. (HR. Nasa’I dan Ibnu Hibban yang menshahihkannya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar