Bilangan/Hitungan dalam Bahasa Arab (‘Adad dan Ma’dud/Tamyiz-nya,
Mudzakkar dan Mu’annats-nya, Mufrad dan Jamak-nya) » Alfiyah
Bait 726-723-724
Sebelumnya perlu diketahui, bahwa Isim Adad (kata
bilangan/hitungan) menurut istilah Ulama’ Nahwu terbagi menjadi 4 bagian.
1.
“Adad Mufrad”
Adalah Isim Adad yg kosong dari Tarkib dan ‘Athaf. Yaitu bilangan dari Wahidun (satu) sampai ‘Asyarotun (sepuluh), Bidh’un (sejumlah antara 3-9), Mi’atun (seratus), dan Alfun (seribu).
Sebagian Nuhat menyebutnya “Adad Mudhaf” karena dapat dimudhafkan pada Tamyiznya/Ma’dudnya, yang selain wahidun (satu) dan Itsnani (dua).
2. “Adad Murakkab”
Adalah Isim Adad susunan dua bilangan menjadi satu dengan susunan Tarkib Mazji. Yaitu bilangan dari Ahada ‘Asyaro (sebelas) sampai Tis’ata ‘Asyaro (Sembilan belas).
3. “Adad ‘Aqd”
Adalah Isim Adad puluhan/kelipatan sepuluh. Yaitu bilangan dari ‘Isyruuna (dua puluh) sampai Tis’uuna (sembilan puluh).
Sebagian Nuhat menyebutnya “Adad Mufrod” karena tidak Mudhaf juga tidak Murokkab.
4. “Adad Ma’thuf”
Adalah Isim Adad susunan Athaf. Yaitu bilangan yg ada diantara dua Adad Aqd (angka yg ada diantara 20>…<30, 30>…<40, dst.). Contoh Wahidun wa ‘Isyruuna (dua puluh satu), Itsnaani wa Isyruuna (dua puluh dua), dst. Hingga Tis’atun wa Tis’uuna (sebilan puluh Sembilan).
Insyaallah 4 bagian diatas akan diterangkan menurut
penerangan Kitab Alfiyah pada tiga bahasan sebagai berikut:
· Hukum Mudzakkar&Muannatsnya
· Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya
· Hukum I’robnya
·
I. ‘ADAD MUFROD
A. WAHIDUN
(SATU) dan ITSNAANI (DUA)
I. Hukum
Mudzakkar & Muannatsnya : harus
mencocoki pada Ma’dudnya.
Contoh:
في القرية مسجد واحد
FIL-QORYATI
MASJIDUN WAAHIDUN = Di desa itu hanya ada satu masjid.
في القرية مدرسة واحدة
FIL-QORYATI
MADROSATUN WAAHIDATUN = Di desa itu hanya ada satu Madrasah.
اشتريت كتابين اثنين
ISYTAROITU KITAABAINI
ITSNAINI = Aku telah membeli dua kitab.
اشتريت كراستين اثنتين
ISYTAROINI
RURROOSATAINI ITSNAINI = Aku telah membeli dua buku tulis.
II. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya : harus
disebutkan setelah ma’dudnya seperti contoh-contoh diatas. Dan tidak boleh
menyebutkan ma’dud sebelumnya, maka tidak boleh mengatakan :
في القرية واحدُ مسجدٍ
FIL-QORYATI
WAAHIDU MASJIDIN.
اشتريت اثني كتابين
ISYTAROITU
ITSNAIY KITAABAINI.
Karena cukup
penyebutan ma’dud secara langsung sudah mencukupi jumlah yg dimaksud
(mufrad/mutsanna = satu/dua). Maka tidak perlu untuk menyebut ‘adad pada
sebelum ma’dudnya.
III. Hukum I’robnya : disesuaikan
menurut posisinya pada susunan kalam. Sedangkan I’rob ma’dudnya mengikuti irob
‘adad sebelumnya yakni sebagai Tabi’ Taukid.
B. TSALATSATUN (TIGA) sampai ‘ASYAROTUN (SEPULUH) dan
BIDH’UN/BIDH’ATUN (sejumlah 3-9)
I. Hukum Mudzakkar & Muannatsnya : kebalikan dari
ma’dudnya, yakni dimudzakkarkan apabila ma’dudnya mu’annats, dan dimuannatskan
apabila ma’dudnya mudzakkar,.
Contoh :
عندي سبعةُ رجال
INDIY SAB’ATU
RIJAALIN = disisiku tujuh pria.
عندي ثلاثُ نسوةٍ
INDIY
TSALAATSU NISWATIN = disisiku tiga wanita.
صافحت بضعة رجال
SHOOFAHTU
BIDH’ATA RIJAALIN = aku berjabat tangan dengan beberapa pria.
نصحت بضع نساء
NASHOHTU
BIDH’A NISAA’IN = aku menasehati beberapa wanita.
Contoh dalam
Ayat Al-Qur’an :
سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ
وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا
SAKHKHOROHAA
‘ALAIHIM SAB’A LAYAALIN WA TSAMAANIYATA AYYAAMIN HUSUUMAN = yang Allah
menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus
menerus (QS Al-Haaqqah : 7)
>> lafazh LAYAALIN = Ma’dud mu’annats karena mufrodnya
LAILATIN, maka menggunakan ‘adad mudzakkar SAB’A.
>> lafazh AYYAAMIN = Ma’dud mudzakkar karena mufrodnya YAUMIN, maka menggunakan ‘adad muannats TSAMAANIYATA.
>> lafazh AYYAAMIN = Ma’dud mudzakkar karena mufrodnya YAUMIN, maka menggunakan ‘adad muannats TSAMAANIYATA.
فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ
شَهَادَاتٍ
FA SYAHAADATU
AHADIHIM ARBA’U SYAHAADAATIN = maka persaksian orang itu ialah empat kali
bersumpah (QS. An-Nuur : 6)
ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ
شُهَدَاءَ
TSUMMA LAM
YA’TUU BI ARBA’ATI SYUHADAA’A = dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi
(QS. An-Nuur : 4)
>> lafazh SYAHADAATIN = ma’dud mu’annats karena mufrodnya
SAHAADATIN, maka menggunakan ‘adad mudzakkar ARBA’U.
>> lafazh SYUHADAA’A = ma’dud mudzakkar karena mufrodnya SYAAHIDUN/SYAHIIDUN, maka menggunakan ‘adad mu’annats ARBA’ATI.
>> lafazh SYUHADAA’A = ma’dud mudzakkar karena mufrodnya SYAAHIDUN/SYAHIIDUN, maka menggunakan ‘adad mu’annats ARBA’ATI.
Dengan demikian, yang dipandang mudzakkar dan muannatsnya
dalam hal ini bukan pada bentuk lafazh jamaknya, akan tetapi yg dipandang adalah
bentuk isim mufrodnya. contohnya lagi :
جاء خمسة فتية
JAA’A KHOMSATU
FITYATIN = lima orang pemuda telah datang.
>> Lafazh
“FITYATIN” mempunyai bentuk mufrod “FATAA” adalah ma’dud mudzakkar, makanya
menggunakan ‘adad mu’annats (KHOMSATU). Tidaklah memandang bentuk lafazh
jamaknya yg mu’annats (FITYATIN).
Apabila
terdapat dua ma’dud dalam satu ‘adad. Yang satu mudzakkar dan yg lain muannats,
maka yg dipandang muannats dan mudzakkarnya adalah pada ma’dud yg disebut
pertama kali.
Contoh:
حضر سبعة رجال ونساء
HADHORO
SAB’ATU RIJAALIN WA NISAA’IN = tujuh orang pria dan wanita telah hadir.
وأقبل خمس نساءٍ ورجال
AQBALA
KHOMSATU NISAA’IN WA RIJAALIN = lima orang wanita dan pria telah menghadap.
Akan berbeda
nanti hukum mudzakkar dan mu’annatsnya apabila adad-adad mufrad tersebut diatas
dibentuk menjadi ‘Adad Murokkab atau ‘Adad Ma’thuf yg insyaAllah akan
dijelaskan pada bait-bait selanjutnya.
II. Hukum I’robnya : disesuaikan
menurut posisinya pada susunan kalam.
III. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya :
A. Dijadikan mudhaf ilaih dg susunan idhofah, yakni
memudhofkan adad kepada ma’dud yg dibutuhkan sebagai tamyiznya, seperti pada
contoh-contoh diatas. Dan terkadang tidak dimudhofkan kepada tamyiznya tapi
cukup dimudhofkan langsung kepada siempunya tamyiz/ma’dud. Kerena dalam hal ini
si pembicara sudah memaklumi akan jenis/bentuk ma’dud. Sehingga tidak perlu
ditamyizi. Semisal contoh:
هذه خمسةُ محمد
HADZIHI
KHOMSATU MUHAMMADIN = ini adalah limanya Zaid (yakni, ini lima barang punya
zaid)
خذ سبعتك
KHUDZ! SAB’ATAKA
= ambillah! Tujuhmu. (yakni, ambilah tujuh barangmu)
B. Ma’dudnya berbentuk jamak, yg sering digunakan
adalah dalam bentuk Jamak Taksir Qillah. Dan diketahui juga bahwa maksud jamak
dalam ma’dud di sini tidak harus berupa bentuk jamak dalam istilah, tapi juga
bisa masuk kepada semua jenis isim yg menunjukkan jamak, seperti Isim Jamak dan
Isim Jinsi Jam’i, yg dalam penggunaannya banyak menyertakan huruf jar MIN.
contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ
FA KHUDZ!
ARBA’ATAN MINATH-THOIRI = ambillah empat ekor burung (QS. Al-Baqoroh : 260)
جاء ثلاثة من القوم
JAA’A
TSALAATSATUN MINAL QOUMI = telah datang tiga kaum.
في المزرعة سبع من النخل وتسع من
الشجر
FIL MAZRO’ATI
SAB’UN MINAN-NAKHLI WA TIS’UN MINAS-SYAJARI = di ladang itu ada tujuh pohon
kurma dan Sembilan pepohonan.
Terkadang juga
langsung disusun secara idhofah. Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ
رَهْطٍ
WA KAANA
FIL-MADIINATI TIS’ATU ROHTHIN = Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki
(QS. An-naml:48).
Yang berbeda
dengan tiga hal diatas dalam hukum penggunaan ma’dudnya yakni : 1.
Jamak. 2. Jamak Taksir. 3. Jamak Taksir Qillah. Adalah :
1. Menggunakan bentuk isim mufrod, apabila
adad-adad tersebut diatas bertamyiz pada lafazh MI’ATUN. Contoh :
في المعهد ثلثمائة طالب وأربعمائة
مقعد
FIL-MA’HADI
TSALATSUMI’ATI THOOLIBIN WA ARBA’UMI’ATI MAQ’ADIN = di lembaga itu ada 300
siswa dan 400 bangku.
2. Menggunakan bentuk jamak shohih, apabila
tidak terdapat dalam bentuk jamak taksirnya. Contoh:
خمس صلوات
KHOMSU
SHOLAWAATIN = lima sholat.
Contoh dalam
Ayat Al-Qur’an :
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ
سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ
ALLAHUL-LADZII
KHOLAQO SAB’A SAMAAWAATIN WA MINAL-ARDHI MITSLAHUNNA = Allah-lah yang
menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi (QS. Ath-Tholaaq : 12)
>> Lafazh “SAMAWAATIN” = menggunakan jamak shohih (jamak
muannats salim) karena tidak mempunyai bentuk jamak lain selain itu.
ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَّكُمْ
TSALAATU ‘AUROOTIN = tiga ‘aurat bagi kamu (QS. An-Nur :
58)
>> lafazh “‘AUROOTIN” = jamak shohih sebab juga tidak ada
dalam bentuk jamak taksirnya.
Demikian juga
menggunakan jamak shohih, apabila bentuk jamak taksirnya jarang digunakan.
Semisal contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
فِي تِسْعِ آيَاتٍ
FII TIS’I AAYAATIN = termasuk sembilan buah
mukjizat (QS. An-Naml : 12)
>> lafazh “AAYAATIN” = jamak shohih dari “AAYATIN”
ditemukan dari bangsa arab menggunakan jamak taksirnya yaitu AAYUN tapi tidak
banyak digunakan (lihat Al-Mishbahul Munir hal. 23).
Demikian juga menggunakan bentuk jamak shohih apabila
digunakan bersamaan dengan jamak yg tidak ada bentuk jamak taksirnya, seperti
contoh:
يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ
أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ
سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ
YUUSUFU AYYUHASH-SHIDDIIQU AFTINAA FII SAB’I
BAQOROOTIN SIMAANIN YA’KULUHUNNA SAB’UN ‘IJAAFUN WA SAB’I SUNBULAATIN KHUDHRIN
WA UKHORU YAABISAATIN = (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia
berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami
tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor
sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh)
lainnya yang kering (QS. Yusuf : 46)
>> lafazh SAB’I “SUNBULAATIN” = menggunakan jamak shohih
karena berdampingan dengan lafazh sebelumnya yaitu SAB’I “BAQOROOTIN” yg tidak
diketahui bentuk jamak taksirnya.
Sedangkan apabila tidak berdampingan dengan jamak shohih
yg tidak ada bentuk jamak taksirnya, maka menggunakan bentuk jamak taksirnya
yaitu “SANAABILA”, contoh dalam Ayat :
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ
أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ
فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ
MATSALUL-LADZIINA YANFIQUUNA AMWAALAHUM FII
SABIILILLAAHI KAMATSALI HUBBATIN ANBATAT SAB’A SANAABILA FII KULLI SUNBULATIN
MA’ATU HABBAH. = Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. (QS. Al-Baqoro :
261).
3. Tetap menggunakan bentuk Jamak Taksir Katsroh sekalipun
ada dalam bentuk Jamak Taksi Qillahnya, contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ
بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ
WAL-MUTHOLLAQOOTU YATAROBBASHNA BI ANFUSIHINNA
TSALAATSATA QURUU’IN = Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri
(menunggu) tiga kali quru’ (QS. Al-Baqoroh : 228)
>> ‘Adad TSALAATSATA dimudhofkan kepada ma’dudnya lafazh
“QURUU’IN” yg berupa Jamak Taksir Katsroh, beserta ia mempunyai bentuk Jamak
Taksir Qillah yaitu “AQROO’IN”.
C. MI’ATUN (SERATUS) dan ALFUN (SERIBU)
I. Hukum Mudzakkar & Muannatsnya : Tetap dalam
bentuknya baik ma’dudnya Mudzakkar atau Mu’annats.
II. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya : Pada umumnya
harus berupa Isim Mufrod yg dijarkan menjadi mudhaf ilaih.
Contoh :
قلَّ من يعيش مائة سنةٍ
QOLLA MA YA’IISYU MI’ATA SANATIN = Jarang
orang yg hidup seratus tahun.
Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا
كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ
AZZAANIYATU WAZ-ZAANIY FAJLIDUU KULLA
WAAHIDIN MINHUMAA M’ATA JALDATIN = Perempuan yang berzina dan laki-laki yang
berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (QS. An
Nuur : 2)
يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ
أَلْفَ سَنَةٍ
YAWADDU AHADUHUM LAW YU’AMMARU ALFA SANATIN =
Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun (QS. Al-Baqarah : 96)
Terkadang menggunakan ma’dud/tamyiz bentuk jamak majrur
dari ‘adad MI’ATUN, contoh dalam Ayat AL-Qur’an :
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ
مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا
WA LABITSUU FIY KAHFIHIM TSALAATSA MI’ATIN
SINIINA WAZDAADUU TIS’AN = Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun
dan ditambah sembilan tahun (lagi). (QS. Al-Kahfi 25).
>> karena dalam ayat ini oleh bacaan salah satu qiro’ah
sab’ah (Hamzah dan Al-Kasa’iy) memudhofkan lafazh MI’ATIN pada lafazh SINIINA
menjadi “MI’ATI SINIINA”.
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ” Adad Uqud Mudakar”.
Dalam
penyusunannya, penulis memperoleh banyak
bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada: seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, dan
kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal,
semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah
yang lebih baik lagi. Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari
kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini dapat
lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi
semua pembaca.
Cipasung, Oktober 2014
Penyusun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar