DISUSUN OLEH : ADITYA KELAS VIII – A
\Madrasah Tsanawiyah Cipasung Singaparna Tasikmalaya
Raden Umar Said atau yang lebih dikenal dengan Sunan Muria
merupakan salah satu walisongo yang tinggal di daerah Gunung muria. Nama Muria
diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke
utara kota Kudus. Selain akhlak yang sholeh, beliau terkenal memiliki kesaktian
dalam pertarungan.
Silsilah / Asal-usul Sunan Muria
Satu versi menyebutkan, Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Ahli sejarah A.M. Noertjahjo (1974) dan Solihin Salam (1964, 1974) yakin dengan versi ini. Berdasarkan penelusuran mereka, pernikahan Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh binti Maulana Is-haq memperoleh tiga anak, yakni Sunan Muria, Dewi Rukayah, dan Dewi Sofiah.
Versi lain memaparkan, Sunan Muria adalah putra Raden Usman Haji alias Sunan Ngudung. Karya R. Darmowasito, Pustoko Darah Agung, yang berisi sejarah dan silsilah wali dan raja-raja Jawa, menyebutkan Sunan Muria sebagai putra Raden Usman Haji. Bahkan ada juga yang menyebutnya keturunan Tionghoa.
Dalam bukunya, Runtuhnya Kerajaan Hindhu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (1968), Prof. Dr. Slamet Muljana menyebutkan ayah Sunan Muria, Sunan Kalijaga, tak lain seorang kapitan Tionghoa bernama Gan Sie Cang. Sunan Muria disebut ''tak pandai berbahasa Tionghoa karena berbaur dengan suku Jawa''.
Slamet mengacu pada naskah kuno yang ditemukan di Klenteng Sam Po Kong, Semarang, pada 1928. Pemerintahan Orde Baru ketika itu khawatir penemuan Slamet ini mengundang heboh. Akibatnya, karya Slamet itu masuk dalam daftar buku yang dilarang Kejaksaan Agung pada 1971. Sayang sekali, belum ada telaah mendalam mengenai berbagai versi itu.
Sejauh ini, karya Umar Hasyim, Sunan Muria: Antara Fakta dan Legenda (1983), bolehlah digolongkan penelitian awal yang mencoba menelusuri silsilah Sunan Muria secara lebih ilmiah. Ia berusaha membedakan cerita rakyat dengan fakta. Misalnya tentang Sunan Muria sebagai keturunan Tionghoa.
Umar mengumpulkan sejumlah pendapat ahli sejarah. Ternyata, keabsahan naskah kuno tadi meragukan, karena telah bercampur dengan dongeng rakyat. Walau begitu, Umar mengaku kadang-kadang terpaksa mengandalkan penafsirannya dalam menelusuri jejak Sunan Muria. Hasilnya, Umar cenderung pada versi Sunan Muria sebagai putra Sunan Kalijaga.
Cara berdakwah
|
|
|
Gunung Muria
|
Dari
berbagai versi itu, tak ada yang meragukan reputasi Sunan Muria dalam
berdakwah. Gayanya ''moderat'', mengikuti Sunan Kalijaga, menyelusup lewat berbagai tradisi
kebudayaan Jawa. Misalnya adat kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian
anggota keluarga, seperti nelung dino sampai nyewu, yang tak diharamkannya.
Hanya,
tradisi berbau klenik seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji diganti
dengan doa atau salawat. Sunan Muria juga berdakwah lewat berbagai kesenian
Jawa, misalnya mencipta macapat, lagu Jawa. Lagu sinom dan kinanti dipercayai
sebagai karya Sunan Muria, yang sampai sekarang masih lestari.
Lewat
tembang-tembang itulah ia mengajak umatnya mengamalkan ajaran Islam. Karena
itulah, Sunan Muria lebih senang berdakwah pada rakyat jelata ketimbang kaum
bangsawan. Maka daerah dakwahnya cukup luas dan tersebar. Mulai lereng-lereng
Gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Juana, sampai pesisir utara.
Cara
dakwah inilah yang menyebabkan Sunan Muria dikenal sebagai sunan yang suka
berdakwah topo ngeli. Yakni dengan ''menghanyutkan diri'' dalam masyarakat.
Sasaran dakwah dari Sunan Muria adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan
rakyat jelata. Ia adalah satu-atunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan
dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan islam.
Keterampilan-keterampilan
bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali
dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak
(1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah
betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima
oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana
hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah
lagu Sinom dan Kinanti.
Tempat
dakwahnya berada di sekitar gunung muria, kemudian dakwahnya diperlua meliputi
Tayu, Juwana, kudus, dan lereng gunung muria. Ia dikenal dengan sebutan sunan
muria karena tinggal di gunung Muria.
Sampai kini, kompleks makam Sunan Muria, yang terletak di Desa Colo, tak pernah sepi dari penziarah. Dalam seharinya tempat tersebut dikunjungi tak kurang dari 15.000 penziarah. (Berbagai sumber)
SUNAN KALIJAGA
Disusun Oleh : Risal
Kelas : Viii – C
Madrasah Tsanawiyah Ponpes Cipasung
Sunan Kalijaga atau Sunan
Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo
yang sangat lekat dengan Muslim
di Pulau Jawa, karena kemampuannya
memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak.
Riwayat
Masa
hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan
demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan
Cirebon dan Banten,
bahkan juga Kerajaan
Pajang yang lahir pada 1546 serta
awal kehadiran Kerajaan
Mataram dibawah pimpinan Panembahan
Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid
Agung Cirebon dan Masjid
Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan
salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Kelahiran
Sunan
Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra
adipati Tuban yang bernama
Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya,
Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi
masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan
Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga
kali.
Silsilah
Mengenai
asal usulnya, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa ia juga masih
keturunan Arab. Tapi, banyak pula
yang menyatakan ia orang Jawa asli.
Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang
silsilahnya sampai kepada Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Sementara itu menurut Babad Tuban menyatakan bahwa Aria Teja alias 'Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati
Tuban, Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari perkawinan ini ia memiliki
putra bernama Aria Wilatikta. Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada
tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga
atau Raden Mas Said adalah putra Aria Wilatikta. Sejarawan lain seperti De
Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I ('Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad. Sunan Kalijaga
mempunyai tiga anak salah satunya adalah Umar Said atau Sunan Muria.
Pernikahan
Dalam
satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana
Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh
dan Dewi Sofiah.
Berda'wah
Menurut
cerita, Sebelum menjadi Walisongo,
Raden Said adalah seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang
penyimpanan Hasil Bumi. Dan hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada
orang-orang yang miskin. Suatu hari, Saat Raden Said berada di hutan, ia
melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Orang itu adalah Sunan Bonang. Karena
tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat itu. Katanya,
hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin. Tetapi, Sang Sunan
Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk.
Lalu, Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said
ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang
ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Karena itu, Raden Said ingin menjadi murid Sunan
Bonang. Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai. Raden Said berkata
bahwa ingin menjadi muridnya. Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk
bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi sungai. Raden Said
tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden
Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu,ia menjadi tertidur dalam
waktu lama. Karena lamanya ia tertidur, tanpa disadari akar dan rerumputan
telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan
membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke
sungai, maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi
pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu
melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.
Dalam
dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham
keagamaannya cenderung "sufistik
berbasis salaf" -bukan sufi
panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai
sarana untuk berdakwah.
Ia
sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh
jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap:
mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah
dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran
Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni
ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu
suluk ciptaannya yang
populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah
menggagas baju takwa, perayaan sekatenan,
garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu
("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun
dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.
Metode
dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam
melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang.
Wafat
Ketika
wafat, ia dimakamkan di Desa Kadilangu,
dekat kota Demak (Bintara). Makam ini
hingga sekarang masih ramai diziarahi orang.
SEJARAH
SUNAN GUNUNG JATI
Disusun
Oleh : Mukhlis kelas : VIII – A
Madrasah
Tsanawiyah Cipasung
Sejarah Sunan Gunung Jati Sunan
Gunung jati 1. Asal - Usul Sebelum era Sunan Gunung Jati berdakwah di Jawa
Barat. Ada seorang ulama besar dari Bagdad telah datang di daerah Cirebon
bersama duapuluh dua orang muridnya. Ulama besar itu bernama Syekh Kahfi. Ulama
inilah yang lebih dahulu menyiarkan agama Islam di sekitar daerah Cirebon.
Al-Kisah, putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran bernama Pangeran Walangsungsang
dan adiknya Rara Santang pada suatu malam mendapat mimpi yang sama. Mimpi itu
terulang hingga tiga kali yaitu bertemu dengan Nabi Muhammad yang mengajarkan
agama Islam. Wajah Nabi Muhammad yang agung dan caranya menerangkan Islam
demikian mempersona membuat kedua anak muda itu merasa rindu. Tapi mimpi itu
hanya terjadi tiga kali. Seperti orang kehausan, kedua anak muda itu mereguk
air lebih banyak lagi, air yang akan menyejukkan jiwanya itu agama Islam.
Kebetulan mereka telah mendengar adanya Syekh Dzatul Kahfi atau lebih muda
disebut Syekh Datuk Kahfi yang membuka perguruan Islam di Cirebon. Mereka mengutarakan
maksudnya kepada Prabu Siliwangi untuk berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, mereka
ingin memperdalam agama Islam seperti ajaran Nabi Muhammad SAW. Tapi keinginan
mereka ditolak oleh Prabu Siliwangi. Pangeran Walangsungsang dan adiknya nekad,
keduanya melarikan diri dari istana dan pergi berguru kepada Syekh Datuk Kahfi
di Gunung Jati. Setelah berguru beberapa lama di Gunung Jati, Pangeran
Walangsungsang diperintahkan oleh Syekh Datuk Kahfi untuk membuka hutan di
bagian selatan Gunung Jati. Pangeran Walangsungsang adalah seorang pemuda
sakti, tugas itu diselesaikannya hanya dalam beberapa hari. Daerah itu
dijadikan pendukuhan yang makin hari banyak orang berdatangan menetap dan
menjadi pengikut Pangeran Walangsungsang. Setelah daerah itu ramai Pangeran Walangsungsang
diangkat sebagai kepala Dukuh dengan gelar Cakrabuana. Daerahnya dinamakan
Tegal Alang-alang. Orang yang menetap di Tegal Alang-alang terdiri dari
berbagai rasa atau keturunan, banyak pula pedagang asing yang menjadi penduduk
tersebut, sehingga terjadilah pembauran dari berbagai ras dan pencampuran itu
dalam bahasa Sunda disebut Caruban. Maka Legal Alang-alang disebut Caruban.
Sebagian besar rakyat Caruban mata pencariannya adalah mencari udang kemudian
dibuatnya menjadi petis yang terkenal. Dalam bahasa Sunda Petis dari air udang
itu, Cai Rebon. Daerah Carubanpun kemudian lebih dikenal sebagai Cirebon hingga
sekarang ini. Setelah dianggap memenuhi syarat, Pangeran Cakrabuana dan
Rarasantang di perintah Datuk Kahfi untuk melaksanakan ibadah haji ke Tanah
Suci. Di Kota Suci Mekkah, kedua kakak beradik itu tinggal di rumah seorang
ulama besar bernama Syekh Bayanillah sambil menambah pengetahuan agama. Sewaktu
mengerjakan tawaf mengelilingi Ka’bah kedua kakak beradik itu bertemu dengan
seorang Raja Mesir bernama Sultan Syarif Abdullah yang sama-sama menjalani
Ibadah haji. Raja Mesir itu tertarik pada wajah Rarasantang yang mirip mendiang
istrinya. Sesudah ibadah haji diselesaikan Raja Mesir itu melamar Rarasantang
pada Syekh Bayanillah. Rarasantang dan Pangeran Cakrabuana tidak keberatan.
Maka dilangsungkanlah pernikahan dengan cara Mazhab Syafi’i. Nama Rarasantang
kemudian diganti dengan Syarifah Mudaim. Dari perkawinan itu lahirlah Syarif
Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Pangeran Cakrabuana sempat tinggal di Mesir
selama tiga tahun. Kemudian pulang ke Jawa dan mendirikan Negeri Caruban
Larang. Negeri Caruban Larang adalah perluasan dari daerah Caruban atau
Cirebon, pola pemerintahannya menggunakan azas Islami. Istana negeri itu
dinamakan sesuai dengan putri Pangeran Cakrabuana yaitu Pakungwati. Dalam waktu
singkat Negeri Caruban Larang telah terkenal ke seluruh Tanah Jawa, terdengar
pula oleh Prabu Siliwangi selaku penguasa daerah Jawa Barat. Setelah mengetahui
negeri baru tersebut dipimpin putranya sendiri, maka sang Raja tidak keberatan
walau hatinya kurang berkenan. Sang Prabu akhirnya juga merestui tampuk
pemerintahan putranya, bahkan sang Prabu memberinya gelar Sri Manggana.
Sementara itu dalam usia muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh ayahnya.
Ia ditunjuk untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir, tapi anak muda
yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mau. Dia dan ibunya bermaksud
pulang ke tanah Jawa berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan ayahnya itu kemudian
diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah. Sewaktu berada di negeri Mesir,
Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulama besar didaratan Timur Tengah.
Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat banyak, maka ketika pulang ke tanah
leluhurnya yaitu Jawa, ia tidak merasa kesulitan melakukan dakwah. 2.
Perjuangan Sunan Gunung Jati Sering kali terjadi kerancuan antara nama
Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati. Orang
menganggap Fatahillah dan Syarif Hidayatullah adalah satu, tetapi yang benar
adalah dua orang. Syarif Hidayatullah cucu Raja Pajajaran adalah seorang
penyebar agama Islam di Jawa Barat yang kemudian disebut Sunan Gunungjati.
Sedang Fatahillah adalah seorang pemuda Pasai yang dikirim Sultan Trenggana
membantu Sunan Gunungjati berperang melawan penjajah Portugis. Bukti bahwa
Fatahillah bukan Sunan Gunungjati adalah makam dekat Sultan Gunungjati yang ada
tulisan Tubagus Pasai Fathullah atau Fatahillah atau Faletehan menurut lidah
orang Portugis. Syarif Hidayatullah dan ibunya Syarifah Muda’im datang di
negeri Caruban Larang Jawa Barat pada tahun 1475 sesudah mampir dahulu di
Gujarat dan Pasai untuk menambah pengalaman. Kedua orang itu disambut gembira
oleh Pangeran Cakrabuana dan keluarganya. Syekh Datuk Kahfi sudah wafat, guru
Pangeran Cakrabuana dan Syarifah Muda’im itu dimakamkan di Pasambangan. Dengan
alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya, Syarifah Muda’im minta agar
diijinkan tinggal di Pasambangan atau Gunungjati. Syarifah Muda’im dan putranya
yaitu Syarif Hidayatullah meneruskan usaha Syekh Datuk Kahfi membuka Pesantren
Gunungjati. Sehingga kemudian dari Syarif Hidayatullah lebih dikenal dengan
sebutan Sunan Gunungjati. Tibalah saat yang ditentukan, Pangeran Cakrabuana
menikahkan anaknya yaitu Nyi Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah. Selanjutnya
yaitu pada tahun 1479, karena usianya sudah lanjut Pangeran Cakrabuana
menyerahkan kekuasaan Negeri Caruban kepada Syarif Hidayatullah dengan gelar
Susuhunan artinya orang yang dijunjung tinggi. Disebutkan, pada tahun pertama pemerintahannya
Syarif Hidayatullah berkunjung ke Pajajaran untuk mengunjungi kakeknya yaitu
Prabu Siliwangi. Sang Prabu diajak masuk Islam kembali tapi tidak mau. Mesti
Prabu Siliwangi tidak mau masuk Islam, dia tidak menghalangi cucunya menyiarkan
agama Islam di wilayah Pajajaran. Syarif Hidayatullah kemudian melanjutkan
perjalanan ke Serang. Penduduk Serang sudah ada yang masuk Islam dikarenakan
banyaknya saudagar dari Arab dan Gujarat yang sering singgah ke tempat itu.
Kedatangan Syarif Hidayatullah disambut baik oleh adipati Banten. Bahkan Syarif
Hidayatullah dijodohkan dengan putri Adipati Banten yang bernama Nyi Kawungten.
Dari perkawinan inilah kemudian Syarif Hidayatullah di karuniai orang putra
yaitu Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingking. Dalam menyebarkan agama islam
di Tanah Jawa, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati tidak bekerja
sendirian, beliau sering ikut bermusyawarah dengan anggota wali lainnya di
Masjid Demak. Bahkan disebutkan beliau juga membantu berdrinya Masjid Demak.
Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para Wali lainnya ini akhirnya Syarif
Hidayatullah mendirikan Kesultanan Pakungwati dan ia memproklamirkan diri
sebagai Raja yang pertama dengan gelar Sultan. Dengan berdirinya Kesultanan
tersebut Cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada Pajajaran yang biasanya
disalurkan lewat Kadipaten Galuh. Tindakan ini dianggap sebagai pembangkangan
oleh Raja Pajajaran. Raja Pajajaran tak peduli siapa yang berdiri di balik
Kesultanan Cirebon itu maka dikirimkannya pasukan prajurit pilihan yang
dipimpin oleh Ki Jagabaya. Tugas mereka adalah menangkap Syarif Hidayatullah
yang dianggap lancang mengangkat diri sebagai raja tandingan Pajajaran. Tapi
usaha ini tidak berhasil, Ki Jagabaya dan anak buahnya malah tidak kembali ke
Pajajaran, mereka masuk Islam dan menjadi pengikut Syarif Hidayayullah. Dengan
bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon maka makin bertambah
besarlah pengaruh Kesultanan Pakungwati. Daerah-daerah lain seperti :
Surantaka, Japura, Wana Giri, Telaga dan lain-lain menyatakan diri menjadi
wilayah Kasultanan Cirebon. Lebih-lebih dengan diperluasnya Pelabuhan Muara
Jati, makin bertambah besarlah pengaruh Kasultanan Cirebon. Banyak pedagang
besar dari negeri asing datang menjalin persahabatan. Diantaranya dari negeri Tiongkok.
Salah seorang keluarga istana Cirebon kawin dengan Pembesar dari negeri Cina
yang berkunjung ke Cirebon yaitu Ma Huan. Maka jalinan antara Cirebon dan
negeri Cina makin erat. Bahkan Sunan Gunungjati pernah diundang ke negeri Cina
dan kawin dengan putri Kaisar Cina yang bernama Putri Ong Tien. Kaisar Cina
yang pada saat itu dari dinasti Ming juga beragama Islam. Dengan perkawinan itu
sang Kaisar ingin menjalin erat hubungan baik antara Cirebon dan negeri Cina,
hal ini ternyata menguntungkan bangsa Cina untuk dimanfaatkan dalam dunia
perdagangan. Sesudah kawin dengan Sunan Gunungjati, Putri Ong Tien di ganti
namanya menjadi Nyi Ratu Rara Semanding. Kaisar ayah Putri Ong Tien ini
membekali putranya dengan harta benda yang tidak sedikit, sebagian besar barang-barang
peninggalan putri Ong Tien yang dibawa dari negeri Cina itu sampai sekarang
masih ada dan tersimpan di tempat yang aman. Istana dan Masjid Cirebon kemudian
dihiasi dan diperluas lagi dengan motif-motif hiasan dinding dari negeri Cina.
Masjid Agung Sang Ciptarasa dibangun pada tahun 1480 atas prakarsa Nyi Ratu
Pakungwati atau istri Sunan Gunungjati. Dari pembangunan masjid itu melibatkan
banyak pihak, diantaranya Wali Songo dan sejumlah tenaga ahli yang dikirim oleh
Raden Patah. Dalam pembangunan itu Sunan Kalijaga mendapat penghormatan untuk
mendirikan Soko Tatal sebagai lambang persatuan ummat. Selesai membangun
masjid, diserukan dengan membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan Cirebon
dengan daerah-daerah Kadipaten lainnya untuk memperluas pengembangan Islam di
seluruh Tanah Pasundan. Prabu Siliwangi hanya bisa menahan diri atas
perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas itu. Bahkan wilayah Pajajaran
sendiri sudah semakin terhimpit. Pada tahun 1511 Malaka diduduki oleh bangsa
Portugis. Selanjutnya mereka ingin meluaskan kekuasaan ke Pulau Jawa. Pelabuhan
Sunda Kelapa yang jadi incaran mereka untuk menancapkan kuku penjajahan. Demak
Bintoro tahu bahaya besar yang mengancam kepulauan Nusantara. Oleh karena itu
Raden Patah mengirim Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor untuk menyerang
Portugis di Malaka. Tapi usaha itu tak membuahkan hasil, persenjataan Portugis
terlalu lengkap, dan mereka terlanjur mendirikan benteng yang kuat di Malaka.
Ketika Adipati Unus kembali ke Jawa, seorang pejuang dari Pasai (Malaka)
bernama Fatahillah ikut berlayar ke Pulau Jawa. Pasai sudah tidak aman lagi
bagi mubaligh seperti Fatahillah karena itu beliau ingin menyebarkan agama
Islam di Tanah Jawa. Raden Patah wafat pada tahun 1518, berkedudukannya
digantikan oleh Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, baru saja beliau
dinobatkan muncullah pemberontakanpemberontakan dari daerah pedalaman, didalam
usaha memadamkan pemberontakan itu Pangeran Sabrang Lor meninggal dunia, gugur
sebagai pejuang sahid. Pada tahun 1521 Sultan Demak di pegang oleh Raden
Trenggana putra Raden Patah yang ketiga. Di dalam pemerintahan Sultan Trenggana
inilah Fatahillah diangkat sebagai Panglima Perang yang akan ditugaskan
mengusir Portugis di Sunda Kelapa. Fatahillah yang pernah berpengalaman melawan
Portugis di Malaka sekarang harus mengangkat senjata lagi. Dari Demak mula-mula
pasukan yang dipimpinnya menuju Cirebon. Pasukan gabungan Demak Cirebon itu
kemudian menuju Sunda Kelapa yang sudah dijarah Portugis atas bantuan
Pajajaran. Mengapa Pajajaran membantu Portugis ? Karena Pajajaran merasa iri
dan dendam pada perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas, ketika Portugis
menjanjikan bersedia membantu merebut wilayah Pajajaran yang dikuasai Cirebon
maka Raja Pajajaran menyetujuinya. Mengapa Pasukan gabungan Demak-Cirebon itu
tidak dipimpin oleh Sunan Gunungjati ? Karena Sunan Gunungjati tahu dia harus
berperang melawan kakeknya sendiri, maka diperintahkannya Fatahillah memimpin
serbuan itu. Pengalaman adalah guru yang terbaik, dari pengalamannya bertempur
di Malaka, tahulah Fatahillah titik-titik lemah tentara dan siasat Portugis.
Itu sebabnya dia dapat memberi komando dengan tepat dan setiap serangan
Demak-Cirebon selalu membawa hasil gemilang. Akhirnya Portugis dan Pajajaran
kalah, Portugis kembali ke Malaka, sedangkan Pajajaran cerai berai tak menentu
arahnya. Selanjutnya Fatahillah ditugaskan mengamankan Banten dari gangguan
para pemberontak yaitu sisa-sisa pasukan Pajajaran. Usaha ini tidak menemui
kesulitan karena Fatahillah dibantu putra Sunan Gunungjati yang bernama
Pangeran Sebakingking. Di kemudian hari Pangeran Sebakingking ini menjadi
penguasa Banten dengan gelar Pangeran Hasanuddin. Fatahillah kemudian diangkat
segenap Adipati di Sunda Kelapa. Dan merubah nama Sunda Kelapa menjadi
Jayakarta, karena Sunan Gunungjati selaku Sultan Cirebon telah memanggilnya
untuk meluaskan daerah Cirebon agar Islam lebih merata di Jawa Barat.
Berturut-turut Fatahillah dapat menaklukkan daerah TALAGA sebuah negara kecil
yang dikuasai raja Budha bernama Prabu Pacukuman. Kemudian kerajaan Galuh yang
hendak meneruskan kebesaran Pajajaran lama. Raja Galuh ini bernama Prabu
Cakraningrat dengan senopatinya yang terkenal yaitu Aria Kiban. Tapi Galuh tak
dapat membendung kekuatan Cirebon, akhirnya raja dan senopatinya tewas dalam
peperangan itu. Kemenangan demi kemenangan berhasil diraih Fatahillah. Akhirnya
Sunan Gunungjati memanggil ulama dari Pasai itu ke Cirebon. Sunan Gunungjati
menjodohkan Fatahillah dengan Ratu Wulung Ayu. Sementara kedudukan Fatahillah
selaku Adipati Jayakarta kemudian diserahkan kepada Ki Bagus Angke. Ketika usia
Sunan Gunungjati sudah semakin tua, beliau mengangkat putranya yaitu Pangeran
Muhammad Arifin sebagai Sultan Cirebon ke dua dengan gelar Pangeran Pasara
Pasarean. Fatahillah yang di Cirebon sering disebut Tubagus atau Kyai Bagus
Pasai diangkat menjadi penasehat sang Sultan. Sunan Gunungjati lebih memusatkan
diri pada penyiaran dakwah Islam di Gunungjati atau Pesantren Pasambangan.
Namun lima tahun sejak pengangkatannya mendadak Pangeran Muhammad Arifin
meninggal dunia mendahului ayahandanya. Kedudukan Sultan kemudian diberikan
kepada Pangeran Sebakingking yang bergelar sultan Maulana Hasanuddin, dengan
kedudukannya di Banten. Sedang Cirebon walaupun masih tetap digunakan sebagai
kesultanan tapi Sultannya hanya bergelar Adipati. Yaitu Adipati Carbon I.
Adpati Carbon I ini adalah menantu Fatahillah yang diangkat sebagai Sultan
Cirebon oleh Sunan Gunungjati. Adapun nama aslinya Adipati Carbon adalah Aria
Kamuning. Sunan Gunungjati wafat pada tahun 1568, dalam usia 120 tahun. Bersama
ibunya, dan pangeran Carkrabuasa beliau dimakamkan di gunung Sembung. Dua tahun
kemudian wafat pula Kyai Bagus Pasai, Fatahillah dimakamkan ditempat yang sama,
makam kedua tokoh itu berdampingan, tanpa diperantarai apapun juga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar