KATA PENGANTAR
Puji syukur Kehadiirat
Tuhan yang maha kuasa atas segala limpahan rahmat, inayah, taupik dan
hinayahnya sehinga kami dapat menyelesaikan makalah ini dalam bentuk maupun
isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi para
pembaca dalam admistrasi pendidikan dalam proses keguruan.
Harapan kami semoga
makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,
makalah ini masih banyak kekurangan karena pengalaman kami yang terbatas, oleh
karena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan
terimakasih kepada semua pihak berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari
awal sampai akhir, semoga allah senantiasa meridhoi segala usaha kita ammin.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada mulanya istilah
strategi digunakan dalam dunia militer yang di artikan sebagai cara penggunaan
seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Seorang yang
berperan dalam mengatur strategi, untuk memenangkan peperangan sebelum
melakukan suatu tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang
dimilkinya baik dilihat dari kuantitas maupun kualitas. Selanjutnya, ia juga
akan mengumpulkan informasi tentang kekuatan lawan, baik jumlah prajuritnya
maupun keadaan persenjataannya. Setelah semua informasi diketahui barulah ia
menentukan tindakan apa yang tepat untuk di terapkan dalam peperangan itu.
Demikian pula seorang guru harus pandai menimbang dan menentukan strategi apa
yang tepat untuk peserta didiknya. Sedangkan Ilmu Ashwat adalah salah
satu unsur yang harus di terapkan dalam pembelajaran bahasa Arab.
Pengajaran Aswat
Arabiyah Bunyi bahasa adalah komponen bahasa yang pertama kali dihadapi oleh
pelajar bahasa baru, karena itulah bunyi bahasa harus diajarkan dengan cara
yang benar, yang memudahkan para siswa untuk mengatasi problem bunyi bahasa
yang mereka hadapi. Untuk kami dari kelompok pertama akan membahas seputar
strategi pembelajaran ilmu ashwat. Pentingnya masalah ini di bahas adalah agar
kita sebagai calon para guru bahasa Arab bisa menimbang dan mempelajari
strategi yang sesuai untuk di terapkan kedala pembelajaran ilmu ashwat.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar
belakang tersebut diatas, maka masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini
adalah:
1. Definisi Strategi Pembelejaran
2. Definisi Ilmu Aswat
3. Hakekat bahasa sebagai bunyi
4. Langakah-langkah pembelajaran Aswat Al
arabi
5. Startegi Pembelajaran Ilmu Aswat
1.3 TUJUAN PEMBAHASAN
Berdasarkan rumusan
masalah tersebut di atas, maka tujuan pembahasan pada makalah Strategi
Pembelajaran Ilmu Aswat adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui definisi strategi
pembelajaran,
2. Mengetahui strategi ashwat,
3. Mengetahui hakikat bahasa sebagai
bunyi,
4. Mengetahui Langakah-langkah
pembelajaran Aswat Al arabi,
5. Mengetahui Startegi Pembelajaran Ilmu
Aswat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Strategi Pembelajaran
Strategi adalah
tindakan nyata dari guru atau praktek guru melaksanakan pengajaran melalui cara
tertentu yang dinilai lebih efektif dan efisien. Dengan kata lain strategi
adalah politik atau taktik yang digunakan guru dalam proses pembelajaran di
kelas.
Sedangkan
pembelajaran adalah proses belajar mengajar di kelas yang dilakukan oleh
pendidik dan peserta didik dilingkungan sekolah.
Dari definisi di atas
dapat di simpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah:
Ø Suatu teknik dan metode mengajar
seorang guru dalam proses pembelajaran agar siswa siswinya mampu menyerap,
mengklasifikasikan dan mengamalkan ilmu dan materi pendidikan dari pendidik
agar tercapai tujuan pendidikan.
Ø Rencana, aturan-aturan, langkah-langkah
serta sarana yang prakteknya akan di perankan dan akan di lalui dari pembukaan
sampai penutupan dalam proses pembelajaran di dalam kelas guna merealisasikan
tujuan.
B. Definisi Ashwat Arabiyah
Al-Ashwat adalah
suara, yaitu bagaimana kita mengucapkan bunyi suara dalam bahasa Arab dengan
baik dan benar. Inti dari mempelajari al-Ashwat ini adalah kita bisa
mengerti suara atau bunyi tersebut, bisa membedakan antara satu bunyi dengan
bunyi yang lain dan bisa mengimplementasikannya dalam bentuk lain.
Pokok masalah yang di
bahas dalam ilmu Ashwat adalah bagaimana cara mengucpkan abjad Arab dengan
fasih dan benar, baik ketika berdiri sendiri sebagai abjad maupun setelah di
rangkaikan dan di beri harakat menurut keperluan yang ada.
C. Hakikat Bahasa Sebagai System Bunyi
Hakikat bahasa
sebagai system bunyi di bagi menjadi tiga, yaitu: suara manusia, konsonan dan
vocal. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
v Suara Manusia
Bahasa itu murni manusiawi, maksudnya
adalah hanya manusialah yang mampu menciptakan bahasa. Suara yang dihasilkan
manusia adalah bagian dari bahasanya. Jika suara seseorang jelas dalam
berbicara, maka orang lain akan mudah memahaminya. Oleh karena itu, system
bunyi harus di perhatikan jika seseorang mempelajari suatu bahasa.
Bahasa itu manusiawi dalam arti bahwa bahwa itu adalah kekayaan yang
hanya dimiliki umat manusia. Para ahli biologi telah membuktikan bahwa
berdasarkan sejarah evolusi, sistem komunikasi binatang berbeda
dengan sistem komunikasi manusia, sistem komunikasi binatang tidak mengenal
ciri bahaya manusia sebagai sistem bunyi dan makna. Karena sistem bunyi yang
digunakan dalam bahasa manusia itu berpola makan manusia pun disebut homo
grammaticus, atau hewan yang bertata bahasa.
D. Langkah-Langkah Pembelajaran Ashwat Arobiy
Strategi pembelajaran
bunyi bahasa Arab (Ashwat Arabiyah) yang harus dipertimbangkan penggunaannya
oleh guru adalah dengan melihat kondisi riil di kelasnya. Langkah-langkah yang
dilakukan oleh guru adalah:
a. Penyajian Model Pelafalan
Cara yang paling
efektif dalam mengajarkan bunyi bahasa arab yang sulit kepada siswa adalah
dengan mencontohkan pelafalan setiap bunyi yang kemudian di ikuti oleh siswa.
Selain dalam bentuk bunyi tunggal, contoh pelafalan tersebut sebaiknya
diberikan dalam bentuk kata bermakna dimana huruf yang di contohkan berada di
awal, di tengah dan di akhir kata. Contoh:
ص-ص-ص
صياد-صوم-صدر
نصر-خاصة-خالص
b. Pemberian Latihan/Dril
Setelah memberikan
contoh pelafalan, guru dapat memberikan beberapa bentuk dril untuk membiasakan
bunyi-bunyi yang sudah pelafalannya pada tahapan sebelumnya. Bentuk dril ini
tentunya di tentukan berdasarkan tingkat pembelajaran siswa, apakah tingkat
dasar, menengah, atau lanjut. Di antara bentuk dril yang bisa digunakan oleh
guru adalah:
1. Latihan membedakan bunyi bahasa Arab.
Latihan membedakan bunyi bahasa Arab
ini dapat di variasikan menjadi:
§ Menentukan satu dari tiga bunyi.
Contoh:
Tentukan apakah bunyi ص di ucapkan pertama, kedua atau ketiga!
ش-س-ص
س-ش-ص
س-س-ص
ص-س-س
§ Menentukan salah satu dari dua bunyi
dalam sebuah kalimat. Contoh: tentukan apakah bunyi ص atau
س yang ada dalam setiap kata berikut
ini!
صالح/سرير
السائر/الفصل
الصورة/السورة
§ Menyimak dan mengulangi tsuna’iyyah
surga (dalam hal ini usahakan buku dalam keadaan tertutup)
§ Membaca dan mengulang tsuna’iyyah
surga (dalam hal ini usahakan buku dalam keadaan terbuka)
§ Membaca bebas, artinya guru
memerintahkan para siswa untuk membaca huruf, kata atau kalimat yang mengandung
bunyi yang sulit tanpa memberikan contoh pelafalan terlebih dahulu.
2. Praktik penggunaan bahasa
Maksudnya adalah guru
menggunakan bunyi-bunyi yang sudah dipelajari oleh siswa dalam kegiatan
berbahasa sebenarnya, baik yang komplek maupun yang sederhana, seperti dengan
menyebut nama siswa dalam kelas, menyebut suatu benda yang ada di dalam maupun
di luar kelas, atau menyebut nama anggota badan yang menggunakan bunyi-bunyi
yang sudah dilatihkan.
E. Strategi Pembelajaran Ilmu Ashwat
Strategi pembelajaran
Ilmu Ashwat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu pada tingkatan, yaitu: tingkat
dasar, tingkat menengah dan tingkat lanjut.
1. Pembelajaran Ashwat Pada Tingkat Dasar
Masa-masa awal
sekolah dasar, sekitar umur 6-7 tahun merupakan fase yang mulai sulit bagi
siswa untuk di ajak melafalkan bunyi bahasa asing, mereka sedikit banyak masih
terpengaruh bahasa Ibu. Oleh karena itu, pada masa ini siswa harus diberi dasar
yang kuat dalam pelafalan dengan teknik dan strategi yang sesuai.
Pada tingkat ini,
yang mana siswa asih dalam fase yang sulit melafalkan bunyi bahasa Arab,
sehingga pembelajaran bahasa pada tingkat dasar ini lebih di tekankan pada
pelafalannya (yang penting adalah anak bisa mengucapkan bahasa Arab). Sebagai
guru pada tingkat ini, yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Menggunakan metode Alphabetik (الأبجدية)
Dalam metode ini,
pengajaran baca tulis di mulai dengan mengenalkan nama-nama huruf dan otografi
(bentuk tulisannya). Selanjutnya, dikenalkan bunyi huruf konsonsn setelah
di hubungkan dengan huruf vocal sehingga membentuk sebuah fonem, misalnya
(i-b-u-bu). Karena huruf Arab semuanya konsonan, maka dalam bahasa Arab di
ciptakan vocal berupa syakkal yang diletakkan diatas dan di bawah huruf.
Maka pada tahap pengenalan bunyi disajikan huruf-huruf yang bertanda vocal,
misalnya:
أَإِأُ- بَ بِ بُ- تَ تِ تُ
Kemudian dilanjutkan dengan
latihan-latihan intensif dan berulang-ulang, gabungan-gabungan huruf yang
membentuk kata sampai dengan kalimat. Membaca tanpa syakkal hanya bisa
dilakukan oleh siswa setelah memahami bahasa Arab dengan baik.
b) Metode Bunyi (الصوتية)
Dalam metode ini,
pembelajaran tidak dimulai dengan pengenalan nama huruf, tapi langsung pada
bunyi. Dalam hal ini ada dua cara yang lazim digunakan, yaitu csra sintesis
(merangkai) dan analitis (mengupas).
c) Metode Sintetis (الصوتية التركيبية)
Metode ini dimulai
dengan mengenalkan bunyi huruf, kemudian dirangkai menjadi kata. Sebagai
contoh:
نَ-بَ-تَ نَ بَ تَ نَبَتَ
سَ-لِ-مَ سَ لِ مَ سَلِمَ
d) Metode Analisis (الصوتية التحليلية)
Dimulai dengan kata
kemudian dikupas menjadi bunyi huruf-huruf. Atau dimulai dengan kalimat,
kemudian dikupas menjadi kata-kata, dan di kupas lagi menjadi huruf-huruf.
Contoh:
نَظَرَ نَ ظَ رَ نَ-ظَ-رَ
سَمِعَ سَ مِ عَ سَ-مِ-عَ
Metode analisis ini biasanya dimulai
dengan pengenalan kata yang telah di kenal oleh siswa, atau untuk bahasa asing
dengan bantuan gambar.
e) Metode Analisis-Sintetis (التحليلية-التركيبية)
Merupakan
penggabungan kedua metode, misalnya dalam bentuk seperti berikut:
سَلِمَ
سَ لِ مَ
سَ- لِ – مَ
سَ لِ مَ
سَلِمَ
سَ – لِ – مَ
سَ لِ مَ
Yang pertama dari
global lalu dikupas (dianalisis) menjadi bagian-bagian, kemudian kembali ke
global lagi. Yang kedua dari bagian-bagian lalu digabung (dirangkai) menjadi
satu-kesatuan kemudian kembali ke bagian-bagian lagi.
Pada masa anak-anak, mereka cenderung
bermain dan teetarik pada sebuah lagu, karena lagu itu dapat membantu kemampuan
kognitif anak. Dalam hal ini pembelajaran bunyi bahasa Arab dapat dilakukan
dengan sebuah permainan yang berisikan materi bahasa Arab.
Penggunaan lagu dalam pembelajaran
bunyi bahasa Arab juga cukup menarik. Lagu-lagu sangat membantu kemampuan
kognitif anak, terutama dalam hal mengingat symbol huruf hijaiyah dan
memperlancar artikulasinya. Dengan media TV dan VCD Player, anak-anak merasa
senang menyaksikan video clip yang menggambarkan proses pembelajaran sambil
menyanyii dan bermain. Dalam waktu singkat, anak-anak cepat menghafal teks
sebuah lagu, dan mereka akan lebih sering mendengarkan artikulasi yang asli
sehingga akan mebiasakan mereka untuk meniru pelafalannya.
2. Pembelajaran Ashwat Pada Tingkat
Menengah
Pada tingkatan
menengah ini metode sintesis dan analisis masih bisa untuk digunakan, dalam
tingkatan menengah ini siswa seharusnya telah memiliki beberapa pengetahuan
tentang kosa kata bahasa Arab. Oleh karena itu, pembelajaran Ashwat Arabiy
harus di integrasikan dengan pengetahuan siswa tentang kosa kata , misalnya
dengan menggunakan:
a) Metode Sintesis (الصوتية التركيبية)
Metode Ini dimulai
dengan mengenalkan bunyi huruf-huruf, kemudian dirangkai menjadi kata. Contoh:
نَ – بَ – ت = نَبَتَ
سَ – لِ – مَ = سَلِمَ
بَ – لَ – دٌ = بَلَدٌ
b) Metode Analisis (الصوتية التحليلية)
Dimulai dengan kata
kemudian dikupas menjadi bunyi huruf-huruf. Atau dimulai dengan kalimat,
kemudian dikupas menjadi kata-kata, dan dikupas lagi menjadi huruf-huruf.
Contoh:
قَلَمٌ = قَ لَ مٌ = قَ – لَ – مٌ
سَمَكٌ = سَ مَ كٌ = سَ – مَ – كٌ
وَلَدٌ = وَ لَ دٌ = وَ – لَ – دٌ
Kedua teknik tersebut mengintegrasikan
antara ashwat dan mufrodat, sehingga siswa dapat menambah mufrodat dan juga
dapat melafalkannya dengan baik dan benar, sehingga akan menciptakan kefasihan
dan kelancaran dalam kalam sehari-hari.
Dalam tingkatan ini sswa telah memiliki
beberapa pengetahuan tentang bahasa Arab, maka dalam pembelajaran Ashwat lebih
di integrasikan pada mufrodat. Misalnya dengan latihan menyimak, contoh guru
melafalkan :
وَاللهُ سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ
Respon siswa A : وَاللهُ سَمِيْعٌ بًسِيْرٌ
Respon siswa B : وَالله ُ سَمِيْءٌ بَصِيْرٌ
Respon siswa C : وَاللهُ سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ
Atau dengan latihan mendengarkan dan
menirukan walaupun latihan-latihan menyimak bertujuan melatih pndengaran,
teteapi dalam praktik selalu diikuti dengan pengucapan dan pemahaman. Dalam
tahap permulaan, siswa dilatih untuk mendengarkan dan menirukan. Kegiatan ini
dilakukan oelh guru, ketika memperkenalkan kata-kata atau pola kalimat yang
baru, atau dalam waktu yang sengaja di khususkan untuk latihan menyimak. Latihan
menyimak di fokuskan pada bunyi-bunyi bahasa Arab yang asing bagi siswa, juga
pada penggunaan vocal panjang dan pendek, bertasydid dan tidak, yang tidak
dikenal dalam bahasa Indonesia. Beberapa contoh:
Ø Latihan pengucapan bunyi ق, , guru mengucapkan dan murid menirukan,
contoh :
قَلَمٌ
– قَمَرٌ
Ø Latihan beberap bunyi yang berdekatan
antara خ ح)), guru mengucapkan dan murid menirukan,
contoh :
خَبَرٌ
– حِبْرٌ
Ø Latihan pengucapan vocal panjang dan
pendek, guru mengucapkan dan murid menirukan, contoh:
قَابَلَ
– بَرِيْد – بَارِدٌ
Ø Latihan pengucapan vocal brtasydid, ,
guru mengucapkan dan murid menirukan, contoh:
كَفَّرَ
– كَسَّرَ – غَفَّرَ
3. Pembelajaran Ashwat Pada Tingkat Lanjut
Pada tingkatan ini
seharusnya mulai di ajarkan huruf yang sulit pelafalannya, sehingga kemampuan
siswa melafalkan semua jenis huruf akan tercapai. Cara yang cukup efektif dalam
mengajarkan bunyi bahasa Arab yang sulit kepada siswa adalah dengan
mencontohkan pelafalan setiap bunyi yang kemudian diikuti oleh siswa. Selain
dalam bentuk bunyi tunggal, contoh pelafalan tersebut sebaiknya diberikan dalam
bentuk kata bermakna dimana huruf yang di contohkan berada di awal, di tengah
dan di akhir kata. Contoh:
ص
– ص – ص – ص
صياد
– صوم – صدر – صيف – صار – صوف
مصير
– قصور – اصدقاء – انتصر – حصة – أصغى
Teknik lain yang
efektif untuk mencontohkan pelafalan bunyi bahasa Arab adalah dengan
menggunakan pasangan minimal (tsuna’iyyah sughro/ minimal pair), yaitu
dua kata yang berbeda maknanya karena perbedaan apa saja, apakah di awal, di
tengah, atau di akhir.
Latihan membedakan
bunyi bahasa Arab dengan pasangan minimal dapat dilakukan dengan cara guru
melafalkan pasangan minimal dengan jelas, sementara siswa menyimak dan
memperhatikan gerak bibir dan mulut guru mereka supaya terlihat dengan jelas
perbedaan kedua kata tersebut. Contoh pasangan minimal yang dapat membantu guru
menggunakan teknik ini adalah:
مسحوب - مصحوب ، فسد - فصد، بسمة - بصمة، سرة - صرة.
Teknik ini tentunya
akan semakin mempertajam lisan siswa dalam melafalkan dan membedakan
huruf-huruf yang berdekatan makhrajnya.
Pada tingkat ini,
siswa sudah memiliki pengetahuan tentang kebahsaan, Makharijul Huruf
Arabiyah, dan pengidentifikasian bunyi suara melalui beberapa mufrodat,
selanjutnya seorang pelajar setidaknya bisa menganalisis bunyi-bunyi bahasa
Arab dari beberapa kalimat atau sebuah teks, seorang pelajar dapat membedakan
dan menganalisis beberapa bunyi bahasa Arab yang hampir sama, seorang pelajar
dapat membunyikan bentuk tunggal maupun jama’. Oleh karena itu, guru harus
memberikan drill pada siswa dalam pelafalan bunyi-bunyi Arab, seperti dalam
membedakan tiga atau dua huruf yang hampir sama, kemudian dirangkai dalam
kalimat, contoh: ص ش م kemudian disusun
dalam sebuah kata.
\
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari Pembahasan di
atas dapat disimpulkan bahwa :
a.
Pembalajaran
bunyi bahasa Arab (ashwat Arabiyah) pada tingkat dasar, dapat dilakukan dengan metode alphabetic.
b. Strategi pembelajaran adalah rencana,
aturan-aturan, langkah-langkah serta sarana yang prakteknya akan di perankan
dan akan di lalui dari pembukaan sampai penutupan dalam proses pembelajaran di
dalam kelas guna merealisasikan tujuan,
c. Al-Ashwat adalah suara, yaitu bagaimana
kita mengucapkan bunyi suara dalam bahasa Arab dengan baik dan benar,
d. Hakikat bahasa sebagai system bunyi di
bagi menjadi tiga, yaitu: suara manusia, konsonan dan vocal,
e. Langkah-Langkah Pembelajaran Ashwat
Aroby adalah:
· Penyajian Model Pelafalan
· Pemberian Latihan/Dril
f. Strategi pembelajaran Ilmu Ashwat
dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu pada tingkatan, yaitu: tingkat dasar,
tingkat menengah dan tingkat lanjut.
MAKALAH
Disusun Untuk Melaksanakan Salah Satu Tugas
Mata Kuliah
Bahasa
Arab
Disusun Oleh: Taufik
Muhamad Gani
Waki
ishaq
Ibad
supirman
Abdul
gani
Fak / jurusan : tarbiyah pendidikan agama silam
INSTITUT
AGAMA ISLAM CIPASUNG
KABUPATEN
TASIKMALAYA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar