TOKO 0SCAR CLASSER

Selasa, 15 April 2014

makalah bahasa arab Ashwat

                                      KATA PENGANTAR



Puji syukur Kehadiirat Tuhan yang maha kuasa atas segala limpahan rahmat, inayah, taupik dan hinayahnya sehinga kami dapat menyelesaikan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan  sebagai salah salah satu  acuan, petunjuk maupun pedoman bagi para pembaca dalam admistrasi pendidikan dalam proses keguruan.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, makalah ini masih banyak kekurangan karena pengalaman kami yang terbatas, oleh karena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir, semoga allah senantiasa meridhoi segala usaha kita ammin.















BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang di artikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Seorang yang berperan dalam mengatur strategi, untuk memenangkan peperangan sebelum melakukan suatu tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang dimilkinya baik dilihat dari kuantitas maupun kualitas. Selanjutnya, ia juga akan mengumpulkan informasi tentang kekuatan lawan, baik jumlah prajuritnya maupun keadaan persenjataannya. Setelah semua informasi diketahui barulah ia menentukan tindakan apa yang tepat untuk di terapkan dalam peperangan itu. Demikian pula seorang guru harus pandai menimbang dan menentukan strategi apa yang tepat untuk peserta didiknya. Sedangkan Ilmu Ashwat adalah salah satu  unsur yang harus di terapkan dalam pembelajaran bahasa Arab.
Pengajaran Aswat Arabiyah Bunyi bahasa adalah komponen bahasa yang pertama kali dihadapi oleh pelajar bahasa baru, karena itulah bunyi bahasa harus diajarkan dengan cara yang benar, yang memudahkan para siswa untuk mengatasi problem bunyi bahasa yang mereka hadapi. Untuk kami dari kelompok pertama akan membahas seputar strategi pembelajaran ilmu ashwat. Pentingnya masalah ini di bahas adalah agar kita sebagai calon para guru bahasa Arab bisa menimbang dan mempelajari strategi yang sesuai untuk di terapkan kedala pembelajaran ilmu ashwat.

1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah:
1.      Definisi Strategi Pembelejaran
2.       Definisi Ilmu Aswat
3.      Hakekat bahasa sebagai bunyi
4.      Langakah-langkah pembelajaran Aswat Al arabi
5.      Startegi Pembelajaran Ilmu Aswat



1.3  TUJUAN PEMBAHASAN
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan pembahasan pada makalah Strategi Pembelajaran Ilmu Aswat adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui definisi strategi pembelajaran,
2.      Mengetahui strategi ashwat,
3.      Mengetahui hakikat bahasa sebagai bunyi,
4.      Mengetahui Langakah-langkah pembelajaran Aswat Al arabi,
5.      Mengetahui Startegi Pembelajaran Ilmu Aswat.


























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Strategi Pembelajaran
Strategi adalah tindakan nyata dari guru atau praktek guru melaksanakan pengajaran melalui cara tertentu yang dinilai lebih efektif dan efisien. Dengan kata lain strategi adalah politik atau taktik yang digunakan guru dalam proses pembelajaran di kelas.
Sedangkan pembelajaran adalah proses belajar mengajar di kelas yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik dilingkungan sekolah.
Dari definisi di atas dapat di simpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah:
Ø  Suatu teknik dan metode mengajar seorang guru dalam proses pembelajaran agar siswa siswinya mampu menyerap, mengklasifikasikan dan mengamalkan ilmu dan materi pendidikan dari pendidik agar tercapai tujuan pendidikan.
Ø  Rencana, aturan-aturan, langkah-langkah serta sarana yang prakteknya akan di perankan dan akan di lalui dari pembukaan sampai penutupan dalam proses pembelajaran di dalam kelas guna merealisasikan tujuan.

B.     Definisi Ashwat Arabiyah
Al-Ashwat adalah suara, yaitu bagaimana kita mengucapkan bunyi suara dalam bahasa Arab dengan baik dan benar. Inti dari mempelajari al-Ashwat ini adalah kita bisa mengerti suara atau bunyi tersebut, bisa membedakan antara satu bunyi dengan bunyi yang lain dan bisa mengimplementasikannya dalam bentuk lain.
Pokok masalah yang di bahas dalam ilmu Ashwat adalah bagaimana cara mengucpkan abjad Arab dengan fasih dan benar, baik ketika berdiri sendiri sebagai abjad maupun setelah di rangkaikan dan di beri harakat menurut keperluan yang ada.

C.     Hakikat Bahasa Sebagai System Bunyi
Hakikat bahasa sebagai system bunyi di bagi menjadi tiga, yaitu: suara manusia, konsonan dan vocal. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
v Suara Manusia
Bahasa itu murni manusiawi, maksudnya adalah hanya manusialah yang mampu menciptakan bahasa. Suara yang dihasilkan manusia adalah bagian dari bahasanya. Jika suara seseorang jelas dalam berbicara, maka orang lain akan mudah memahaminya. Oleh karena itu, system bunyi harus di perhatikan jika seseorang mempelajari suatu bahasa.
Bahasa itu manusiawi dalam arti bahwa  bahwa itu adalah kekayaan yang hanya dimiliki umat manusia. Para ahli biologi telah membuktikan bahwa berdasarkan sejarah evolusi,  sistem komunikasi binatang  berbeda dengan sistem komunikasi manusia, sistem komunikasi binatang tidak mengenal ciri bahaya manusia sebagai sistem bunyi dan makna. Karena sistem bunyi yang digunakan dalam bahasa manusia itu berpola makan manusia pun disebut homo grammaticus, atau hewan yang bertata bahasa.

D.    Langkah-Langkah Pembelajaran Ashwat Arobiy
Strategi pembelajaran bunyi bahasa Arab (Ashwat Arabiyah) yang harus dipertimbangkan penggunaannya oleh guru adalah dengan melihat kondisi riil di kelasnya. Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru adalah:
a.    Penyajian Model Pelafalan
Cara yang paling efektif dalam mengajarkan bunyi bahasa arab yang sulit kepada siswa adalah dengan mencontohkan pelafalan setiap bunyi yang kemudian di ikuti oleh siswa. Selain dalam bentuk bunyi tunggal, contoh pelafalan tersebut sebaiknya diberikan dalam bentuk kata bermakna dimana huruf yang di contohkan berada di awal, di tengah dan di akhir kata. Contoh:
ص-ص-ص
صياد-صوم-صدر
نصر-خاصة-خالص
b.    Pemberian Latihan/Dril
Setelah memberikan contoh pelafalan, guru dapat memberikan beberapa bentuk dril untuk membiasakan bunyi-bunyi yang sudah pelafalannya pada tahapan sebelumnya. Bentuk dril ini tentunya di tentukan berdasarkan tingkat pembelajaran siswa, apakah tingkat dasar, menengah, atau lanjut. Di antara bentuk dril yang bisa digunakan oleh guru adalah:
1.    Latihan membedakan bunyi bahasa Arab.
Latihan membedakan bunyi bahasa Arab ini dapat di variasikan menjadi:
§  Menentukan satu dari tiga bunyi. Contoh:
Tentukan apakah bunyi ص di ucapkan pertama, kedua atau ketiga!
ش-س-ص
س-ش-ص
س-س-ص
ص-س-س
§  Menentukan salah satu dari dua bunyi dalam sebuah kalimat. Contoh: tentukan apakah bunyi ص  atau س  yang ada dalam setiap kata berikut ini!
                 صالح/سرير
السائر/الفصل
الصورة/السورة
§  Menyimak dan mengulangi tsuna’iyyah surga  (dalam hal ini usahakan buku dalam keadaan tertutup)
§  Membaca dan mengulang tsuna’iyyah surga (dalam hal ini usahakan buku dalam keadaan terbuka)
§  Membaca bebas, artinya guru memerintahkan para siswa untuk membaca huruf, kata atau kalimat yang mengandung bunyi yang sulit tanpa memberikan contoh pelafalan terlebih dahulu.
2.    Praktik penggunaan bahasa
Maksudnya adalah guru menggunakan bunyi-bunyi yang sudah dipelajari oleh siswa dalam kegiatan berbahasa sebenarnya, baik yang komplek maupun yang sederhana, seperti dengan menyebut nama siswa dalam kelas, menyebut suatu benda yang ada di dalam maupun di luar kelas, atau menyebut nama anggota badan yang menggunakan bunyi-bunyi yang sudah dilatihkan.

E.     Strategi Pembelajaran Ilmu Ashwat
Strategi pembelajaran Ilmu Ashwat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu pada tingkatan, yaitu: tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat lanjut.
1.      Pembelajaran Ashwat Pada Tingkat Dasar
Masa-masa awal sekolah dasar, sekitar umur 6-7 tahun merupakan fase yang mulai sulit bagi siswa untuk di ajak melafalkan bunyi bahasa asing, mereka sedikit banyak masih terpengaruh bahasa Ibu. Oleh karena itu, pada masa ini siswa harus diberi dasar yang kuat dalam pelafalan dengan teknik dan strategi yang sesuai.
Pada tingkat ini, yang mana siswa asih dalam fase yang sulit melafalkan bunyi bahasa Arab, sehingga pembelajaran bahasa pada tingkat dasar ini lebih di tekankan pada pelafalannya (yang penting adalah anak bisa mengucapkan bahasa Arab). Sebagai guru pada tingkat ini, yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a)    Menggunakan metode Alphabetik (الأبجدية)
Dalam metode ini, pengajaran baca tulis di mulai dengan mengenalkan nama-nama huruf dan otografi (bentuk tulisannya). Selanjutnya, dikenalkan bunyi huruf konsonsn setelah di hubungkan dengan huruf vocal sehingga membentuk sebuah fonem, misalnya (i-b-u-bu). Karena huruf Arab semuanya konsonan, maka dalam bahasa Arab di ciptakan vocal berupa syakkal yang diletakkan diatas dan di bawah huruf. Maka pada tahap pengenalan bunyi disajikan huruf-huruf yang bertanda vocal, misalnya:
أَإِأُ- بَ بِ بُ- تَ تِ تُ
Kemudian dilanjutkan dengan latihan-latihan intensif dan berulang-ulang, gabungan-gabungan huruf yang membentuk kata sampai dengan kalimat. Membaca tanpa syakkal hanya bisa dilakukan oleh siswa setelah memahami bahasa Arab dengan baik.
b)   Metode Bunyi (الصوتية)
Dalam metode ini, pembelajaran tidak dimulai dengan pengenalan nama huruf, tapi langsung pada bunyi. Dalam hal ini ada dua cara yang lazim digunakan, yaitu csra sintesis (merangkai) dan analitis (mengupas).
c)    Metode Sintetis (الصوتية التركيبية)
Metode ini dimulai dengan mengenalkan bunyi huruf, kemudian dirangkai menjadi kata. Sebagai  contoh:
نَ-بَ-تَ  نَ بَ تَ نَبَتَ
سَ-لِ-مَ  سَ لِ مَ سَلِمَ
d)   Metode Analisis (الصوتية التحليلية)
Dimulai dengan kata kemudian dikupas menjadi bunyi huruf-huruf. Atau dimulai dengan kalimat, kemudian dikupas menjadi kata-kata, dan di kupas lagi menjadi huruf-huruf. Contoh:
نَظَرَ نَ ظَ رَ  نَ-ظَ-رَ
سَمِعَ سَ مِ عَ  سَ-مِ-عَ
Metode analisis ini biasanya dimulai dengan pengenalan kata yang telah di kenal oleh siswa, atau untuk bahasa asing dengan bantuan gambar.
e)    Metode Analisis-Sintetis (التحليلية-التركيبية)
Merupakan penggabungan kedua metode, misalnya dalam bentuk seperti berikut:
سَلِمَ
سَ لِ مَ
سَ- لِ – مَ
سَ لِ مَ
سَلِمَ
سَ – لِ – مَ
سَ لِ مَ
Yang pertama dari global lalu dikupas (dianalisis) menjadi bagian-bagian, kemudian kembali ke global lagi. Yang kedua dari bagian-bagian lalu digabung (dirangkai) menjadi satu-kesatuan kemudian kembali ke bagian-bagian lagi.
Pada masa anak-anak, mereka cenderung bermain dan teetarik pada sebuah lagu, karena lagu itu dapat membantu kemampuan kognitif anak. Dalam hal ini pembelajaran bunyi bahasa Arab dapat dilakukan dengan sebuah permainan yang berisikan materi bahasa Arab.
Penggunaan lagu dalam pembelajaran bunyi bahasa Arab juga cukup menarik. Lagu-lagu sangat membantu kemampuan kognitif anak, terutama dalam hal mengingat symbol huruf hijaiyah dan memperlancar artikulasinya. Dengan media TV dan VCD Player, anak-anak merasa senang menyaksikan video clip yang menggambarkan proses pembelajaran sambil menyanyii dan bermain. Dalam waktu singkat, anak-anak cepat menghafal teks sebuah lagu, dan mereka akan lebih sering mendengarkan artikulasi yang asli sehingga akan mebiasakan mereka untuk meniru pelafalannya.

2.      Pembelajaran Ashwat Pada Tingkat Menengah
Pada tingkatan menengah ini metode sintesis dan analisis masih bisa untuk digunakan, dalam tingkatan menengah ini siswa seharusnya telah memiliki beberapa pengetahuan tentang kosa kata bahasa Arab. Oleh karena itu, pembelajaran Ashwat Arabiy harus di integrasikan dengan pengetahuan siswa tentang kosa kata , misalnya dengan menggunakan:
a)      Metode Sintesis (الصوتية التركيبية)
Metode Ini dimulai dengan mengenalkan bunyi huruf-huruf, kemudian dirangkai menjadi kata. Contoh:
نَ – بَ – ت = نَبَتَ
سَ – لِ – مَ = سَلِمَ
بَ – لَ – دٌ = بَلَدٌ 
b)      Metode Analisis (الصوتية التحليلية)
Dimulai dengan kata kemudian dikupas menjadi bunyi huruf-huruf. Atau dimulai dengan kalimat, kemudian dikupas menjadi kata-kata, dan dikupas lagi menjadi huruf-huruf. Contoh:
قَلَمٌ = قَ لَ مٌ = قَ – لَ – مٌ
سَمَكٌ = سَ مَ كٌ = سَ – مَ – كٌ
وَلَدٌ = وَ لَ دٌ = وَ – لَ – دٌ
Kedua teknik tersebut mengintegrasikan antara ashwat dan mufrodat, sehingga siswa dapat menambah mufrodat dan juga dapat melafalkannya dengan baik dan benar, sehingga akan menciptakan kefasihan dan kelancaran dalam kalam sehari-hari.
Dalam tingkatan ini sswa telah memiliki beberapa pengetahuan tentang bahasa Arab, maka dalam pembelajaran Ashwat lebih di integrasikan pada mufrodat. Misalnya dengan latihan menyimak, contoh guru melafalkan :
وَاللهُ سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ
Respon siswa A :   وَاللهُ سَمِيْعٌ بًسِيْرٌ
Respon siswa B : وَالله ُ سَمِيْءٌ بَصِيْرٌ
Respon siswa C :  وَاللهُ سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ
Atau dengan latihan mendengarkan dan menirukan walaupun latihan-latihan menyimak bertujuan melatih pndengaran, teteapi dalam praktik selalu diikuti dengan pengucapan dan pemahaman. Dalam tahap permulaan, siswa dilatih untuk mendengarkan dan menirukan. Kegiatan ini dilakukan oelh guru, ketika memperkenalkan kata-kata atau pola kalimat yang baru, atau dalam waktu yang sengaja di khususkan untuk latihan menyimak. Latihan menyimak di fokuskan pada bunyi-bunyi bahasa Arab yang asing bagi siswa, juga pada penggunaan vocal panjang dan pendek, bertasydid dan tidak, yang tidak dikenal dalam bahasa Indonesia. Beberapa contoh:
Ø  Latihan pengucapan bunyi ق, , guru mengucapkan dan murid menirukan, contoh :
قَلَمٌ – قَمَرٌ
Ø  Latihan beberap bunyi yang berdekatan antara خ ح)), guru mengucapkan dan murid menirukan, contoh :  
خَبَرٌ – حِبْرٌ
Ø  Latihan pengucapan vocal panjang dan pendek, guru mengucapkan dan murid menirukan, contoh:
قَابَلَ – بَرِيْد – بَارِدٌ
Ø  Latihan pengucapan vocal brtasydid, , guru mengucapkan dan murid menirukan, contoh:
كَفَّرَ – كَسَّرَ – غَفَّرَ

3.    Pembelajaran Ashwat Pada Tingkat Lanjut
Pada tingkatan ini seharusnya mulai di ajarkan huruf yang sulit pelafalannya, sehingga kemampuan siswa melafalkan semua jenis huruf akan tercapai. Cara yang cukup efektif dalam mengajarkan bunyi bahasa Arab yang sulit kepada siswa adalah dengan mencontohkan pelafalan setiap bunyi yang kemudian diikuti oleh siswa. Selain dalam bentuk bunyi tunggal, contoh pelafalan tersebut sebaiknya diberikan dalam bentuk kata bermakna dimana huruf yang di contohkan berada di awal, di tengah dan di akhir kata. Contoh:
ص – ص – ص – ص
صياد – صوم – صدر – صيف – صار – صوف
مصير – قصور – اصدقاء – انتصر – حصة – أصغى
Teknik lain yang efektif untuk mencontohkan pelafalan bunyi bahasa Arab adalah dengan menggunakan pasangan minimal (tsuna’iyyah sughro/ minimal pair), yaitu dua kata yang berbeda maknanya karena perbedaan apa saja, apakah di awal, di tengah, atau di akhir.
Latihan membedakan bunyi bahasa Arab dengan pasangan minimal dapat dilakukan dengan cara guru melafalkan pasangan minimal dengan jelas, sementara siswa menyimak dan memperhatikan gerak bibir dan mulut guru mereka supaya terlihat dengan jelas perbedaan kedua kata tersebut. Contoh pasangan minimal yang dapat membantu guru menggunakan teknik ini adalah:
مسحوب - مصحوب ، فسد - فصد، بسمة - بصمة، سرة - صرة.
Teknik ini tentunya akan semakin mempertajam lisan siswa dalam melafalkan dan membedakan huruf-huruf yang berdekatan makhrajnya.
Pada tingkat ini, siswa sudah memiliki pengetahuan tentang kebahsaan, Makharijul Huruf Arabiyah, dan pengidentifikasian bunyi suara melalui beberapa mufrodat, selanjutnya seorang pelajar setidaknya bisa menganalisis bunyi-bunyi bahasa Arab dari beberapa kalimat atau sebuah teks, seorang pelajar dapat membedakan dan menganalisis beberapa bunyi bahasa Arab yang hampir sama, seorang pelajar dapat membunyikan bentuk tunggal maupun jama’. Oleh karena itu, guru harus memberikan drill pada siswa dalam pelafalan bunyi-bunyi Arab, seperti dalam membedakan tiga atau dua huruf yang hampir sama, kemudian dirangkai dalam kalimat, contoh: ص ش م  kemudian disusun dalam sebuah kata.






\


         BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari Pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa :

a.       Pembalajaran bunyi bahasa Arab (ashwat Arabiyah) pada tingkat dasar, dapat dilakukan      dengan metode alphabetic.
b.      Strategi pembelajaran adalah rencana, aturan-aturan, langkah-langkah serta sarana yang prakteknya akan di perankan dan akan di lalui dari pembukaan sampai penutupan dalam proses pembelajaran di dalam kelas guna merealisasikan tujuan,
c.       Al-Ashwat adalah suara, yaitu bagaimana kita mengucapkan bunyi suara dalam bahasa Arab dengan baik dan benar,
d.      Hakikat bahasa sebagai system bunyi di bagi menjadi tiga, yaitu: suara manusia, konsonan dan vocal,
e.       Langkah-Langkah Pembelajaran Ashwat Aroby adalah:
·      Penyajian Model Pelafalan
·    Pemberian Latihan/Dril
f.       Strategi pembelajaran Ilmu Ashwat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu pada tingkatan, yaitu: tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat lanjut.


MAKALAH


Disusun Untuk Melaksanakan Salah Satu Tugas Mata Kuliah
 Bahasa Arab

 
















 
   Disusun Oleh:         Taufik Muhamad Gani
                                                                        Waki ishaq
                                                                        Ibad supirman
                                                                        Abdul gani
Fak / jurusan : tarbiyah pendidikan agama silam





INSTITUT AGAMA ISLAM CIPASUNG
KABUPATEN TASIKMALAYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar