Kelebihan puasa sunat 9 dan 10 Muharram
“Bulan Muharram merupakan salah satu dari
empat bulan haram yang telah Allah muliakan. Secara khusus Allah melarangan
berbuat zalim pada bulan ini untuk menunjukkan kehormatannya. Allah Ta’ala
berfirman,
فَلا تَظْلِمُوا
فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu
dalam bulan yang empat itu.” (QS. Al-Taubah: 36)
Larangan berbuat zalim pada bulan-bulan ini
menunjukkan bahwa dosanya lebih besar daripada dikerjakan pada bulan-bulan
selainnya. Sebaliknya, amal kebaikan yang dikerjakan di dalamnya juga
dilebihkan pahalanya. Salah satu amal shalih yang dianjurkan oleh Nabi
shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk dikerjakan pada bulan ini ibadah shiyam.
Beliau menganjurkan untuk memperbanyak puasa di dalamnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallambersabda,
أَفْضَلُ
الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ
بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama sesudah puasa
Ramadlan adalah puasa pada Syahrullah (bulan Allah) Muharram. Sedangkan shalat
malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardlu.” (HR. Muslim,
no. 1982)
Menurut Imam Al-Qaari berkata, bahwa secara
zahir, maksudnya adalah seluruh hari-hari pada bulan muharram ini. Tetapi telah
disebutkan dalam hadits shahih bahwa Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam tidak
pernah sama sekali berpuasa sebulan penuh kecuali di Ramadhan. Maka hadits ini
dipahami, dianjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram bukan
seluruhnya.
Puasa ‘Asyura
Pada umumnya dianjurkan untuk memperbanyak
puasa pada bulan Muharram ini. Hanya saja perhatian khusus Syariat tertuju pada
satu hari, yaitu hari ‘Asyura. Berpuasa pada hari tersebut bisa menghapuskan
dosa setahun yang lalu.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
وَصِيَامُ
يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي
قَبْلَهُ
“Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap
kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim no.
1975)
Bilakah Hari ‘Asyura Itu?
Hari ‘Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan
Muharram. Demikianlah pendapat jumhur ulama dan yang nampak dari zahir hadits
berdasarkan kemutlakan lafaznya dan yang sudah ma’ruf menurut ahli bahasa.
(Disarikan dari al-Majmu’ oleh Imam al-Nawawi)
Ibnu Qudamah berkata, ‘Asyura adalah hari
kesepuluh dari bulan Muharram. Ini merupakan pendapat Sa’id bun Musayyib dan
al-Hasan al-Bashri yang sesuai dengan riwayat dari Ibnu ‘Abbas, “Rasullah
shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan berpuasa pada hari ‘Asyura, hari
kesepuluh dari bulan Muharram.” (HR. al-Tirmidzi, beliau menyatakan hadits
tersebut hasan shahih)
Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Ibnu
‘Abbas, Ibnu Umar, dan Asiyah bahwa Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam telah
berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah
menceritakan tentang puasa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,
مَا رَأَيْتُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ
فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا
الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ
“Aku tidak penah melihat Nabi shallallaahu
‘alaihi wasallam bersemangat puasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan
atas selainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan pada satu bulan
ini, yakni bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Anjuran Jangan Puasa ‘Asyura Saja, Tapi
Sertakan Satu Hari Sebelumnya
Disunnahkan juga berpuasa pada hari
sebelumnya, yaitu tanggal Sembilan Muharram yang dikenal dengan hari Tasu’a.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhuma, beliau berkata,
“Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi
wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk
berpuasa padanya, mereka menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu
adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.’ Lalu beliau
shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya
Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan
datang, namun Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah wafat.” (HR. Muslim, no.
1916)
Berkata Imam al-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad,
Ishaq dan selainnya, “Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh
secara keseluruhan, karena Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam telah berpuasa
pada hari ke sepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”
Apa Hikmah Berpuasa Pada Hari Tasu’a?
Imam al-Nawawi rahimahullaah menyebutkan
tentang tiga hikmah dianjurkannya shiyam hari Tasu’a: Pertama, maksud
disyariatkan puasa Tasu’a untuk menyelesihi orang Yahudi yang berpuasa hanya
pada hari ke sepuluh.
Kedua, maksudnya adalah untuk menyambung puasa
hari ‘Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada
hari Jum’at saja. Pendapat ini disebutkan oleh al-Khathabi dan ulama-ulama
lainnya.
Ketiga, untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan
puasa ‘Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam
menetapkan hitungan, hari ke Sembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari
kesepuluh.
Dan alasan yang paling kuat disunnahkannya
puasa hari Tasu’a adalah alasan pertama, yaitu untuk menyelisihi ahli kitab.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah dalam al Fatawa al-Kubra berkata,
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang bertasyabbuh dengan ahli
kitab dalam banyak hadits. Seperti sabda beliau tentang puasa ‘Asyura,
لَئِنْ
عِشْتُ إلَى قَابِلٍ لاَصُومَنَّ التَّاسِعَ
“Jika saya masih hidup di tahun depan, pasti
akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)
Ibnu Hajar rahimahullaah dalam catatan beliau
terhadap hadits, “Jika saya masih hidup di tahun depan, pasti akan berpuasa
pada hari kesembilan”, Keinginan beliau untuk berpuasa pada hari kesembilan
dibawa maknanya agar tidak membatasi pada hari itu saja. Tapi menggabungkannya
dengan hari ke sepuluh, baik sebagai bentuk kehati-hatian ataupun untuk
menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Dan ini merupakan pendapat yang terkuat
dan yang disebutkan oleh sebagian riwayat Muslim.”
Bolehkah Berpuasa Pada Hari ‘Asyura Saja?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah
dalam al-Fatawa al-Kubra Juz ke IV berkata, “Puasa hari ‘Asyura menjadi kafarah
(penghapus) dosa selama satu tahun dan tidak dimakruhkan berpuasa pada hari itu
saja.” Sedangkan Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtaj menyimpulkan
bahwa tidak apa-apa berpuasa pada hari itu saja

Tidak ada komentar:
Posting Komentar