TOKO 0SCAR CLASSER

Selasa, 30 Desember 2014

kewajiban belajar

 BAB I
 PENDAHULUAN


Al- Qur’an meupakan salah satu wahyu yang berupa kitab suci yang diturunkan allah kepada Nabi Muhammmad Saw. Al-Qur’an yang berupa kalam Allah ini merupakan kitab atau wahyu yang istimewa dibandingkan dengan wahyu-wahyu yang lainnya. Bahkan salah satu keistimewaannya adalah tidak ada satu bacaan-pun sejak peradaban baca tulis dikenal lima ribu tahun yang lalu, yang dibaca baik oleh orang yang mengerti artinya, maupun oleh orang yang tidak mengerti artinya. Di samping itu, al-Qur’an merupakan sumber pokok ajaran Islam dan sebagai petunjuk ke jalan yang benar untuk totalitas umat manusia yang tujuan utamanya mengantarkan manusia kepada suatu kehidupan yang membahagiakannya untuk kehidupan sekarang dan juga esok di akhirat.

Abdurrahman Soleh Abdullah menjelaskan bahwa, al-Qur’an memberikan pandangan yang mengacu kepada kehidupan di dunia ini, maka asas-asas dasarnya harus memberi petunjuk kepada pendidikan Islam. Seseorang tidak mungkin dapat berbicara tentang pendidikan Islam bila tanpa mengambil al-Qur’an sebagai satu-satunya rujukan. Di samping itu juga Nashr Hamid Abu Zaid mengatakan bahwa “al-Qur’an adalah laut, pantainya adalah ilmu-ilmu kulit dan cangkang, dan kedalamannya adalah lapisan tertinggi dari ilmu-ilmu inti.” Maka dari itu, dalam al-Qur’an terdapat dorongan-dorongan atau motivasi agar manusia mencari ilmu atau memperdalam pengetahuannya.
Di samping al-Qur’an, hadits juga menguraikan mengenai perintah agar manusia selalu melakukan pendidikan dan menuntut ilmu untuk mengembangkan pengetahuannya. Banyak hadits yang menerangkan mengenai hal tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN


  1. A.     Ayat dan Terjemahan surat Al-‘Alaq : 1 – 5
ا قرا با سم ربك االذ ي  خلق      خلق ا لا نسا ن من علق     اقرا وربك الا كرم        الذي علم با لقم            علم الا نسا ن ما لم يعلم
Terjemahnya
  1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
  4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
  5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
  1. B.     Makna Mufrodat.
اقْرَأْ                             :    bacalah
رَبِّكَ   بِاسْمِ                  :   dengan menyebut nama Tuhanmu
خَلَقَ الَّذِي                    :   Yang menciptakan
الْإِنسَانَ خَلَقَ               :   Dia telah menciptakan manusia
عَلَقٍمِنْ                       :    dari ‘alaq
الْأَكْرَمُ وَرَبُّكَ             :    dan Tuhanmu-lah Yang Maha Pemurah
عَلَّمَ الَّذِي                   :    Yang mengajar
بِالْقَلَمِ                        :    dengan qalam
الْإِنسَانَ عَلَّمَ              :    Dia mengajarkan kepada manusia
يَعْلَمْ لَمْ مَا                :    apa yang tidak diketahuinya


  1. C.    Makiyyah atau Madaniyyah
             Surat Al’Alaq terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat Makiyyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surat ini adalah ayat-ayat Al Qur’an yang pertama sekali diturunkan, yaitu di waktu Nabi Muhammad Saw berkhalwat di Gua Hiro.
Surat ini di namakan al-‘Alaq ( segumpal darah ) diambil dari perkataan “ ‘Alaq “ yang tyerrdapat pada ayat 2 surat ini. Surat ini juga dinamakan dengan “ iqra’ atau  Al qolam “.
  1. D.     Asbabun Nuzul  Ayat
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “wahyu yang pertama kali turun kepada Rasulullah SAW ialah berupa mimpi yang benar waktu beliau tidur. Beliau tidak bermimpi melainkan mimpi itu datang kepada beliau seperti falaq (cahaya) Shubuh, karena begitu jelasnya.”
Kemudian hati beliau tertarik untuk mengasingkan diri. Beliau datang ke gua Hira. Disitu beliau beribadah beberapa malam. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, beliau kembali kepada Khadijah untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. Suatu ketika datanglah wahyu kepada beliau secara tiba-tiba, sewaktu beliau masih berada di gua Hira. Malaikat datang kepada beliau di gua itu, seraya berkata, “Bacalah!”
Rasulullah SAW bersabda “Maka aku katakan, ‘Aku tidak bisa membacanya.’” Kemudian beliau bersabda, “Dia menarikku lalu mendekapku sehingga aku kepayahan. Kemudian dia melepaskanku. Ia berkata, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Maka dia mendekapku lagi hingga aku kelelahan. Kemudian dia melepaskanku lagi. Lalu ia berkata, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Maka dia mendekapku lagi untuk ketiga kalinya hingga aku kelelahan. Kemudian dia melepaskanku lagi, lalu dia berkata “Iqro’ bismirobbikal ladzii kholaq (bacalah dengan menyebut nama Rabb-mu yang menciptakan).” Sampai pada ayat ‘allamal insaana maa lam ya’lam (Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya)
Kemudian Nabi SAW pulang dalam keadaan menggigil, sampai masuk di rumah Khadijah. Lalu beliau berkata, “Selimuti aku! Selimuti aku!” Maka beliau diselimuti oleh Khadijah, hingga hilang rasa takutnya. Lalu beliau berkata, “Wahai Khadijah! Apa yang terjadi pada diriku?”
Lalu beliau menceritakan semua kejadian yang baru dialaminya itu, dan beliau berkata, “Sesungguhnya aku khawatir sesuatu akan terjadi kepada diriku.”
Khadijah berkata, “Tidak usah takut, bergembiralah! Demi Alloh, Alloh SWT sama sekali tidak akan menghinakanmu. Engkau selalu menyambung tali silaturrahim, berbicara dengan jujur, memikul beban tanggung jawab, memuliakan tamu dan menolong sesama manusia demi menegakkan pilar kebenaran.”
Kemudian Khadijah mengajak beliau pergi untuk menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay, yaitu anak paman Khadijah, saudara laki-laki ayahnya. Ia telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliyyah. Ia pandai menulis dalam bahasa Arab dan dia menulis Injil dengan bahasa Arab. Usianya telah lanjut dan matanya telah buta.
Lalu Khadijah berkata, “Wahai anak pamanku! Tolong dengarkanlah kabar dari anak saudaramu (Muhammad) ini!” Lalu Waraqah bertanya, “Wahai anak saudaraku! Apa yang telah terjadi atas dirimu?” Maka Rasulullah SAW menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Lalu Waraqah berkata, “Inilah Namus (Malaikay Jibril) yang pernah diutus kepada Nabi Musa. Seandainya pada saat itu umurku masih muda. Seandainya aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu..”
Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Maka Waraqah menjawab, “Ya, tidak ada seorang pun yang datang membawa apa yang engkau bawa kecuali dia pasti dimusuhi. Apabila aku mendapati hari itu, niscaya aku akan menolongmu dengan dukungan yang besar, sekuat tenaga.”
Tidak lama kemudian, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara waktu sehingga Rasulullah SAW sering bersedih. Telah sampai kepada kami, beliau bersedih dengan kesedihan yang membuat beliau berkali-kali hendak menjatuhkan diri dari atas puncak gunung. Setiap kali beliau berada dipuncak gunung dengan maksud menjatuhkan diri, maka saat itu juga muncul malaikat Jibril, lalu berkata, “Hai Muhammad! Sungguh, engkau benar-benar utusan Allah SWT.”
Maka tenanglah kegelisahan beliau dengan ucapan tersebut, dan jiwa beliau menjadi tenang, lalu beliau pulang. Namun apabila wahyu lama tidak turun kepada beliau, keesokan harinya beliau melakukan hal yang serupa. Apabila beliau berada dipuncak gunung, maka Jibril muncul dengan mengatakan ucapan yang serupa.
Hadits ini juga diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits az-Zuhri. (Fat-hul Baari, XII/368 dan Muslim, I/139.)
Kami telah membicarakan hadits ini dari segi sanad, matan, dan maknanya secara terperinci diawal syarh (penjelasan) kami atas Shahih Bukhari. Jadi, siapa yang menghendakinya, maka disitu sudah dijelaskan secara tertulis. Hanya milik Alloh Subhanahu wa Ta’alaa-lah segala puji dan anugerah.
Jadi ayat al-Quran yang pertama kali turun adalah ayat-ayat yang mulia dan penuh berkah ini. Ayat-ayat tersebut merupakan awal rahmat yang dianugerahkan oleh Alloh kepada para hamba-Nya, dan merupakan nikmat pertama yang diberikan oleh Alloh kepada mereka.
  1. E.     Munasabah Dengan Ayat Sesudahnya
Kaitannya dengan ayat sesudahnya yaitu ayat 6
كلا ان الا نسا ن ليطغى
Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
Hal itu, karena manusia dikeluarkan-Nya dari perut ibunya dalam keadaan tidak tahu apa-apa, lalu Dia menjadikan untuknya pendengaran, penglihatan dan hati serta memudahkan sebab-sebab ilmu kepadanya. Dia mengajarkan kepadanya Al Qur’an, mengajarkan kepadanya hikmah dan mengajarkan kepadanya dengan perantaraan pena, dimana dengannya terjaga ilmu-ilmu. Maka segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat itu yang tidak dapat mereka balas karena banyaknya. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengaruniakan kepada mereka kekayaan dan kelapangan rezeki, akan tetapi manusia karena kebodohan dan kezalimannya ketika merasa dirinya telah cukup, ia malah bertindak melampaui batas dan berbuat zalim serta bersikap sombong terhadap kebenaran seperti yang diterangkan dalam ayat selanjutnya. Ia lupa, bahwa tempat kembalinya adalah kepada Tuhannya, dan tidak takut kepada pembalasan yang akan diberikan kepadanya, bahkan keadaannya sampai meninggalkan petunjuk dengan keinginan sendiri dan mengajak manusia untuk meninggalkannya, dan sampai melarang orang lain menjalankan shalat yang merupakan amal yang paling utama.
 F.     Dua ayat lain terkait dengan ayat ini
Ayat yang terkait dengan surat al-‘alaq 1-5 adalah :
ان علينا جمعه وقرانه
   Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya
(di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (Al-Qiyamah: 17).
سنقرئك فلا تنسى
“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa.” (Al-A’la: 6).
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Maha Mulia dan mengajarkan manusia untuk saling memahami dengan pena, meski jarak dan masa mereka sangat jauh. Ini merupakan penjelasan tentang salah satu indikasi kekusaan dan ilmu (manusia).
“Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Allah memberikan insting dan kemampuan berpikir kepada manusia yang menjadikannya mampu mengkaji dan mencerna serta mencoba sampai ia mampu menyibak rahasia alam. Dengan demikian ia dapat menguasai alam dan menundukkannya sesuai dengan yang diinginkannya.
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (Al-Baqarah: 29).
“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya” (Al-Baqarah: 31).
 G.    Kandungan Harfiyah Ayat
  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
Kata اقْرَأْ iqra’ terambil dari kata kerja قْرَأ qara’a yang pada mulanya berarti menghimpun. Apabila anda merangkai huruf atau kata kemudian anda mengucapkan rangkaian tersebut maka anda telah menghimpunya yakni membacanya. Dengan demikian, realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan, sehingga terdengar oleh oranglain.
Ayat diatas tidak menyebutkan objek bacaan maka dari itu kata iqra’ digunakan dalam arti membaca, menelaah,menyampaikan, dan sebagainya, dan karna objekmya bersifat umum, maka objek tersebut mencakup segala yang dapat terjangkau, baik yang merupakan bacaan suci yang bersumber dari tuhan maupun bukan, baik ia menyangkut ayat-ayat yang tertulis maupun tidak tertulis
  1. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Manusia adalah makhluk pertama yang disebut Allah dalam Al- Qur’an melalui wahyu pertama. Bukan saja karena ia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, atau karena segala sesuatu dalam alam raya ini diciptakan dan ditundukkan Allah demi kepentingannya, tetapi juga karena Kitab Suci Al-Qur’an ditujukan kepada manusia guna menjadi pelita kehidupannya. Salah satu cara yang ditempuh oleh Al-Qur’an untuk mengantar manusia menghayati petunjuk-petunjuk Allah adalah memperkenalkan jati dirinya antara lain dengan menguraikan proses kejadiannya.
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan cara bagaimana ia menjadikan manusia : yaitu manusia sebagai makhluk yang mulia dijadikan Allah dari sesuatu yang melekat dan diberinya kesanggupan untuk menguasai segala sesuatu yang ada di bumi ini serta menundukannya untuk keperluan hidupnya dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya.
  1. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan alam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat, sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Alam sebagai benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi , maka apakah sulitnya bagi Allah menjadikan nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar
  1. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan alam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat, sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Alam sebagai benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi , maka apakah sulitnya bagi Allah menjadikan nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
  1. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dalam ayat ini Allah menambahkan keterangan tentang kelimpahan karunia-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya pandai membaca. Dialah tuhan yang mengajar manusia bermacam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Demikian pula tanpa pena tidak dapat diketahui sejarah orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat jahat dan tidak ada pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka
  1. H.    Tafsir Kontektual Terkait Pendidikan Kontemporer
Sejak awal abad 20 sampai sekarang humanisme merupakan konsep kemanusiaan yang sangat berharga karena konsep ini sepenuhnya memihak pada manusia, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dan menfasilitasi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia untuk memelihara dan menyempurnakan keberadaannya sebagai makhluk mulia. Demikian berharganya konsep ini humanisme ini, maka terdapat sekurang-kurangnya empat aliran penting yang mengklaim sebagai pemilik asli konsep humanisme, yaitu 1) Liberalisme Barat, 2) Marxisme, 3) Eksistensialisme, dan 4) Agama.
Keempatnya memiliki titik-titik kesepakatan mengenai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan sebagai nilai universal. Dalam hal ini Ali Syari’ati mendeskripsikan ke dalam tujuh prinsip, yaitu :
1.    Manusia adalah makhluk asli, artinya ia mempunyai substansi yang mandiri di antara makhluk-makhluk lain, dan memiliki esensi kemuliaan.
2.    Manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak bebas yang merupakan kekuatan paling besar dan luar biasa. Kemerdekaan dan kebebasan memilih adalah dua sifat ilahiah yang merupakan ciri menonjol dalam diri manusia.
3.    Manusia adalah makhluk yang sadar (berpikir) sebagai karakteristik manusia yang paling menonjol. Sadar berarti manusia dapat memahami realitas alam luar dengan kekuatan berpikir.
4.    Manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya sendiri, artinya dia adalah makhluk hidup satu-satunya yang memuliki pengetahuan budaya dan kemampuan membangun perasadaban.
5.    Manusia adalah makhluk kreatif, yang menyebabkan manusia mampu menjadikan dirinya makhluk sempurna di depan alam dan dihadapan tuhan.
6.    Manusia makhluk yang punya cita-cita dan merindukan sesuatu yang ideal, artinya dia tidak menyerah dan menerima “apa yang ada”, tetapi selalu berusaha megubahnya menjadi “apa yang semestinya”.
7.    Manusia adalah makhluk moral, yang hal ini berkaitan dengan masalah nilai (value).
Humanisme yang diangkat menjadi paradigma ideologi Islam pada dasarnya juga bertolak dari ketujuh prinsip dasar kemanusiaan tersebut yang implisit dalam konsep fitrah manusia. Namun demikian, humanisme dalam pandangan Islam tidak dapat dipisahkan dari prinsip teosentrisme. Dalam hal ini, keimanan ”tauhid” sebagai inti ajaran Islam, menjadi pusat seluruh orientasi nilai. Namun perlu diperjelas, bahwa semua itu kembali untuk manusia yang dieksplisitkan dalam tujuan risalah Islam, Rahmatan lil ’alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Dalam ideologi pendidikan islam terdapat proses pendidikan, metode pendidikan, dan juga media/alat pendidik, diantara ketiga tersebut akan dibahas dibawah ini, yaitu :
a)    Proses Pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut satu sama lain saling tergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik, seperti tersedianya prasarana dan sarana serta biaya yang cukup, juga ditunjang dengan pengelolaan yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Demikian pula bila pengelolaan baik tetapi di dalam kondisi serba kekurangan, akan mengakibatkan hasil yang tidak optimal.
Dalam proses pendidikan pun terdapat lima komponen yang diperlukan dalam proses pendidikan, yaitu :
1.    Anak Didik.
Anak didik merupakan pusat proses pendidikan. Ibarat lakon dalam sinetron, mereka yang menjadi peran utama dalam setiap proses pendidikan. Peran utama tidak boleh melakukan adegan diluar skenario yang telah digariskan.  Peran utama justru dianjurkan untuk melakukan improvisasi. Pemain hanya bisa memilih sebelum lakon dikumandangkan. Mau jenis laga, drama, atau humor.
2.    Orang Tua.
Sebelum pendidikan yang seperti kita sekarang kita kenal, orang tua berperan sebagai pendidik utama. Tak heran, bila orang tua berprofesi pedagang, akan mengular sampai sekian keturunan memilih profesi pedagang. Karena sesungguhnya orang tua berperan sebagai pelatih, mentor, penyelesai masalah dalam lingkungan keluarga.
Pendidikan yang sesungguhnya ada dalam keluarga. Keluarga yang sangat berpengaruh dalam perkembangan proses pendidikan. Hampir bisa dipastikan, bahwa orang sukses dikarenakan faktor keluarga.
3.    Guru.
Setelah pendidikan mengalami perkembangan yang signifikan, tidak mungkin seseorang menguasai berbagai macam ilmu. Oleh karenanya, keluarga mulai rela melepas proses pendidikan yang semula di rumah, berpindah ke lembaga pendidikan. Guru yang menerima estafet amanah untuk membimbing, memiliki peran yang sentral. Karena kedudukan guru sebagai pendidik, pengajar, berperan sebagai model.
Peran guru yang demikian komplek, mengharuskan selalu menata ulang tata kelola guru. Tata kelola ini mengarah kepada kepribadian dan profesi. Kalau diibaratkan, bateray harus selalu dalam kondisi penuh. Selalu dicharge secara terus-menerus.

4.    Sekolah.
Hemat penulis, seharusnya sekolah harus dipilah dengan peran guru. Sekolah mestinya lebih fokus dalam menangani sarana, system, metode dan teknis. Maka kalau ada lembaga pendidikan yang telah memilah urusannya masing-masing, model lembaga pendidikan semacam ini bisa dijadikan contoh. Misalnya, Kepala Sekolah hanya konsentrasi pada kegiatan pembelajaran. Sementara ada sebuah tim yang telah memikirkan sarananya. Ada tim yang telah menyiapkan dana.
5.    Lingkungan Masyarakat.
Inilah satu komponan yang terkadang menjadi kambing hitam. Bila ada siswa yang tidak mentaati tata tertib, akan dengan mudah menuding karena pengaruh lingkungan. Kalau ada sekolah yang sudah berpuluh tahun tidak berprestasi, akan dengan mudah karena lingkungan tidak mendukung. Selama sekolah tidak bisa merangkul masyarakat, maka sekolah itu tak akan pernah mendapat dukungan masyarakat.
b)   Metode Pendidikan
Pendidikan Islam dalam pelaksanaannya membutuhkan metode yang tepat untuk menghantarkan kegiatan kependidikannya kearah tujuan yang dicita-citakan. bagaimana baik dan sempurnanya kurikulum pendidikan Islam, ia tidak akan berarti apa-apa, manakala tidak memiliki metode atau cara yang tepat dalam menyampaikannya kepada peserta didik . Mohammad Noor Syam secara teknis menerangkan bahwa metode adalah
1.    Suatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan.
2.   Suatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari
Suatu materi tertentu.
3.    Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.
Sementara Al-Syaebany, menjelaskan bahwa metode pendidikan adalah segala segi kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangaka memberikan pelajaran yang diajarkannya, ciri-ciri perkembangan peserta didiknya, dan suasana alam sekitar untuk mencapai proses belajar yang diinginkan.



KESIMPULAN

Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kedua uraian di atas menjelaskan dua cara yang ditempuh Allah S.W.T. dalam mengajar manusia. Pertama melalui pena atau tulisan yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat.
Pada awal surat ini Allah telah mengenalkan diri sebagai yang maha kuasa, maha mengetahui dan maha pemurah. Pengetahuan-Nya melimputi segala sesuatu, sedangkan karom atau kemurahan-Nya tidak terbatas, sehingga dia berkuasa dan berkenan untuk mengajar manusia dengan atau tanpa pena.
Wahyu Ilahi yang diterima oleh manusia agung dan suci jiwanya adalah tingkat tertinggi dari bentuk pengajarannya. Tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Nabi Muhammad S.A.W. dijanjikan oleh Allah dalam wahyunya yang pertama untuk termasuk dalam kelompok tersebut.
SURAT AT-TAUBAH AYAT 122
 A.    Ayat dan terjemahannya
وما كان المؤمنون لينفروا كا فة فلولانفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا فى لد ين وليندرواقومهم اذارجعوااليهم لعلهم يحذرون ( التوبة۱۲۲)
Artinya: Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam  pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (Q.S. At- Taubah: 122).
  1. B.     Makna mufrodat
نفر       : berangkat perang
لولا      : Kata-kata yang berarti anjuran dan dorongan melakukan sesuatu yang    disebutkan sesudah kata-kata tersebut, apabila itu terjadi dimasa yang akan datang. Tapi “Laula” juga berarti kecemasan atas meninggalkan    perbuatan yang disebutkan   sesudaah kata itu, apabila merupakan hal yang telah lewat. Apabila hal yang dimaksud merupakan perkara yang mungkin dialami, maka bias saja ”Laula”,itu berarti perintah mengerjakannya.
الفرقة   : kelompok besar
الطائفة : kelompok kecil
تفقه     : berusaha keras untuk mendalami dan memmahami suatu perkara dengan susah    payah untuk memperolehnya.
انذره   : menakut-nakuti dia.
حذره   : berhati-hati terhadapnya.
  1. C.    Makiyyah atau madaniyyah
Surat at- taubah terdiri atas 19 ayat dan ayat 122 termasuk golongan surat Madaniyyah, karena turun di Madinah pada saat peperangan.
Surat ini dinamakan at-taubah yang berarti pengampunan berhubung kata at-taubah berulang kali disebut dalam surat ini. Dinamakan juga dengan baraa’ah yang berarti berlepas diri yang disini maksudnya pernyatan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Disamping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat dari surat ini.
Berlainan dengan surat-surat lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah peernyataan paerang total dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih allah.
Surat ini diturunkan susudah nabi muhammad saw. Kembali dari peperangan tabuk yang terjadi pada tahun 9 H. Pengumuman ini disampaikan oleh Saidina Ali ra, pada musim haji tahun itu juga
  1. D.    Asbabun Nuzul Ayat
 Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah yang menceritakan, bahwa ketika diturunkan firman-Nya berikut ini, yaitu, “Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih.” (Q.S. At-Taubah 39). Tersebutlah pada saat itu ada orang-orang yang tidak berangkat ke medan perang, mereka berada di daerah badui (pedalaman) karena sibuk mengajarkan agama kepada kaumnya. Maka orang-orang munafik memberikan komentarnya, “Sungguh masih ada orang-orang yang tertinggal di daerah-daerah pedalaman, maka celakalah orang-orang pedalaman itu.” Kemudian turunlah firman-Nya yang menyatakan, “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).” (Q.S. At-Taubah 122).
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Abdullah bin Ubaid bin Umair yang menceritakan, bahwa mengingat keinginan kaum Mukminin yang sangat besar terhadap masalah jihad, disebutkan bahwa bila Rasulullah saw. mengirimkan pasukan perang, maka mereka semuanya berangkat. Dan mereka meninggalkan Nabi saw. di Madinah bersama dengan orang-orang yang lemah. Maka turunlah firman Allah swt. yang paling atas tadi (yaitu surah At-Taubah ayat 122)
  1. E.     Munasibah dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
Berkaitan dengan ayat sebelumnya ayat 120 dan surat 121  yaitu wajibnya berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah
Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri rasul. yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi Balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Berkaitan dengan ayat sesudahnya ayat 123-127 Sikap kaum munafik dan kaum mukmin terhadap kitab Allah Ta’ala, menghormati majlis Al Qur’an dan majlis ilmu.
123. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.
124. dan apabila diturunkan suatu surat, Maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, Maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.
125. dan Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit[666], Maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam Keadaan kafir.
126. dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji[667] sekali atau dua kali Setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?
127. dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.
 F.     Dua ayat lain terkait dengan ayat ini
 Surat At-Taubah ayat 122 berkaitan erat dengan surat Al Mujadalah ayat 11, bahwa orang yang mempunyai ilmu pengetahuan akan diangkat derajatnya :
 “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Juaga berkaitan dengan surat az-zumar ayat 9, menerangkan bahawa orang yang mempunyai ilmu pengetahuan itu tidak sama dengan oang yang tak berilmu:  
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
 G.    Kandungan harfiyah ayat
 وما كان المؤمنون لتنفروا كافة فلولا من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قو مهم ا ذا
رجعوا اليهم لعلهم يحذرون
Tatkala Kaum Mukminin di cela oleh Allah bila tidak ikut ke medan  perang kemudian Nabi Muhammad  S.A.W. mengirimkan syariahnya,akhirnya mereka berangkat ke medan perang semua tanpa ada seorang pun yang tinggal,maka turunlah firman –Nya berikut ini : ( Tidak sepatutnya bagi orang –orang yang mukmin itu pergi ) ke medan perang ( Semuanya. Mengapa tidak ) ( pergi dari tiap-tiap golongan ) suatu  kabilah ( di antara mereka beberapa orang ) beberapa saja kemudian sisanya tetap tinggal di tempat ( untuk memperdalam pengetahuan mereka ) yakni tetap tinggal di tempat ( mengenai agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya ) dari medan perang,yaitu dengan mengajarkan kepada mereka hukum-hukum agama yang telah di pelajarinya ( supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ) dari siksaan Allah,yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauuhi larangan-Nya.
Sehubungan dengan ayat ini Ibnu Abbas r.a. memberikan  perwakilanny bahwa ayat ini penerapannya hanya khusus untuk syariah-syariah,yakni bilamana pasukan itu dalam bentuk syariah lantaran Nabi Muhammad  S.A.W. tidak ikut. Sedangkan ayat sebelumnya yang juga melarang seseorang tetap tinggal di tempatnya dan tidak ikut berangkat ke medan perang maka hal ini pengertiannya tertuju kepada beliau Nabi Muhammad  S.A.W. berangkat suatu ghazwah.
Ayat ini menerangkan kelengkapan dari hukum-hukum yang menyangkut perjuangan. yakni, hukum mencari ilmu dan mendalami agama. Artinya, bahwa pendalaman ilmu agama itu merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti dan juga merupakan rukun terpenting dalam menyeru kepada Allah SWT dan menegakkan sendi-sendi islam. Karena perjuangan yang menggunakan pedang itu sendiri tidak disyariatkan kecuali untuk jadi benteng dan pagar dari dakwah tersebut, agar jangan dipermainkan oleh tangan-tangan ceroboh dari orang-orang kafir dan munafik.
Menurut riwayat Al-Kalabi dari Ibnu ‘Abbas, bahwa dia mengatakan, “setelah Alloh SWT mengecam keras terhadap orang-orang yang tidak menyertai Rosul Saw dalam peperangan, maka tidak seorangpun diantara kami yang tinggal untuk tidak menyertai bala tentara atau utusan perang buat selama-lamanya. Hal ini benar-benar mereka lakukan, sehingga tinggallah Rosululloh Saw sendirian. Maka turunlah wahyu:
  1. Tafsir Terkait Pendidikan Kontemporer
وما كا ن ا لمؤ منون لينفروا كا فة
Artinya : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang)”
Tidaklah patut bagi orang-orang mukmin, dan juga tidak dituntut supaya mereka seluruhnya berangkat menyertai setiap utusan perang yang keluar menuju medan perjuangan. Karena, perang itu sebenarnya fardu kifayah, yang apabila telah dilaksanakan oleh sebagian maka gugurlah yang lain, bukan fardu ain, yang wajib dilaksanakan setiap orang. Perang barulah menjadi wajib, apabila Rosul Saw sendiri keluar dan mengerahkan kaum mu’min menuju medan perang.
Kewajiban Mendalami Agama dan Kesiapan Untuk Mengajarkannya.
فلو لا نفر من كل فرقة منهم طا ئفة ليتفهوا فى لدينولينذروافوقهم اذا رجعوااليهم لعلهم يحذرون
Artinya : “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Mengapa tidak segolongan saja, atau sekelompok kecil saja yang berangkat ke medan tempur dari tiap-tiap golongan besar kaum mu’min, seperti penduduk suatu negeri atau suku, dengan maksud supaya orang mukmin seluruhnya dapat mendalami agama mereka. Yaitu dengan cara orang yang tidak berangkat dan tinggal dikota (Madinah), berusaha keras untuk memahami agama, yang wahyu-Nya turun kepada Rosululloh Saw yang menerangkan ayat-ayat tersebut, baik dengan perkataan atau perbuatan. Dengan  demikian maka diketahui hukum beserta hikmahnya, dan menjadi jelas yang masih mujmal dengan adanya perbuatan Nabi tersebut. Disamping itu orang yang mendalami agama memberi peringatan kepada kaumnya yang pergi perang menghadapi musuh, apabila mereka telah kembali kedalam kota.
Artinya, agar tujuan utama dari orang-orang yang mendalami agama itu karena ingin membimbing kaumnya, mengajari mereka dan memberi peringatan kepada mereka tentang akibat kebodohan dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, dengan harapan supaya mereka takut kepada Allah SWT dan berhati-hati terhadap akibat kemaksiatan, disamping agar seluruh kaum mukminin mengetahui agama mereka, mampu menyebarkan pada seluruh umat manusia. Jadi bukan bertujuan supaya memperoleh kepemimpinan dan kedudukan yang tinggi serta mengungguli kebanyakan orang-orang lain, atau bertujuan memperoleh harta dan meniru orang dzalim dan para penindas dalam berpakaian, berkendaraan maupun dalam persaingan diantara sesama mereka.
Ayat tersebut merupakan isyarat tentang wajibnya pendalaman agama dan bersedia mengajarkannya ditempat-tempat pemukiman serta memahamkan orang-orang lain kepada agama, sebanyak yang dapat memperbaiki keadaan mereka. Sehingga mereka tidak bodoh lagi tentang hukum-hukum agama secara umum yang wajib diketahui oleh setiap mu’min.
Orang-orang yang beruntung, dirinya memperoleh kesempatan untuk mendalami agama dengan maksud seperti ini. Mereka mendapat kedudukan yang tinggi disisi Alloh SWT, dan tidak kalah tingginya dari kalangan pejuang yang mengorbankan harta dan jiwa dalam meninggikan kalimat Allah SWT, membela agama dan ajaran-Nya. Bahkan, mereka boleh jadi lebih utama dari pejuang pada situasi lain ketika mempertahankan agama menjadi wajib ‘ain bagi setiap orang.
Ayat ini berkenaan dengan kepergian mempelajari ilmu dan hukum-hukum ad-Din, atau panggilan umum untuk berjihad surat ini termasuk surat Madaniyah karena turun di Madinah pada saat peperangan.
Ayat ini menunjukkan, bahwa jihad itu dapat dengan harta kekayaan, dapat pula dengan jiwa. Barangsiapa mampu melakukan semuanya, maka wajib melakukannya. Tetapi jika hanya mampu 1 diantara keduanya, maka yang ia mampui itulah yang wajib ia lakukan. Pada masa pengaturan perang, kaum muslimin yang ahli dalam kemiliteran wajib melatih bala tentara.
Allah swt telah menerangkan faidahnya dalam firman-Nya:
ذا لكم خير لكم انكنتم تعلمون( التوبة ٤۱۱)
Arttinya: “ karena demikian itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (QS. At-                          Taubah: 41)
Dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan bahwa tidak perlu semua orang mukmin berangkat ke medan perang, bila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum muslimin saja. Tetapi harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi bertekun menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam supaya ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan bermanfaat serta kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan.
Orang-orang yang berjuang di bidang pengetahuan, oleh agama Islam disamakan nilainya dengan orang-orang yang berjuang di medan perang. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah bersabda:
“Di hari kiamat kelak tinta yang digunakan untuk menulis oleh para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada (yang gugur di medan perang)”.
Tugas ulama umat Islam adalah untuk mempelajari agamanya, serta mengamalkannya dengan baik, kemudian menyampaikan pengetahuan agama itu kepada yang belum mengetahuinya. Tugas-tugas tersebut adalah merupakan tugas umat dan tugas setiap pribadi muslim sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan masing-masing, karena Rasulullah saw. telah bersabda; “Sampaikanlah olehmu (apa-apa yang telah kamu peroleh) daripadaku walaupun hanya satu ayat Alquran”.
Akan tetapi tentu saja tidak setiap orang Islam mendapat kesempatan untuk bertekun menuntut dan mendalami ilmu pengetahuan serta mendalami ilmu agama, karena sebagiannya sibuk dengan tugas di medan perang, di ladang, di pabrik, di toko dan sebagainya. Oleh sebab itu harus ada sebagian dari umat Islam yang menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama agar kemudian setelah mereka selesai dan kembali ke masyarakat, mereka dapat menyebarkan ilmu tersebut, serta menjalankan dakwah Islam dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula.
Apabila umat Islam telah memahami ajaran-ajaran agamanya, dan telah mengerti hukum halal dan haram, serta perintah dan larangan agama, tentulah mereka akan lebih dapat menjaga diri dari kesesatan dan kemaksiatan, dapat melaksanakan perintah agama dengan baik dan dapat menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian umat Islam menjadi umat yang baik, sejahtera dunia dan akhirat.
Di samping itu perlu diingat, bahwa apabila umat Islam menghadapi peperangan besar yang memerlukan tenaga manusia yang banyak, maka dalam hal ini seluruh umat Islam harus dikerahkan untuk menghadapi musuh. Tetapi bila peperangan itu sudah selesai, maka masing-masing harus kembali kepada tugas semula, kecuali sejumlah orang yang diberi tugas khusus untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam dinas kemiliteran dan kepolisian.
Oleh karena ayat ini telah menetapkan bahwa fungsi ilmu tersebut adalah untuk mencerdaskan umat, maka tidaklah dapat dibenarkan bila ada orang-orang Islam yang menuntut ilmu pengetahuannya hanya untuk mengejar pangkat dan kedudukan atau keuntungan pribadi saja, apalagi untuk menggunakan ilmu pengetahuan sebagai kebanggaan dan kesombongan diri terhadap golongan yang belum menerima pengetahuan.
Orang-orang yang telah memiliki ilmu pengetahuan haruslah menjadi mercusuar bagi umatnya. Ia harus menyebarluaskan ilmunya, dan membimbing orang lain agar memiliki ilmu pengetahuan pula. Selain itu, ia sendiri juga harus mengamalkan ilmunya agar menjadi contoh dan teladan bagi orang-orang sekitarnya dalam ketaatan menjalankan peraturan dan ajaran-ajaran agama. Dengan demikian dapat diambil suatu pengertian, bahwa dalam bidang ilmu pengetahuan, setiap orang mukmin mempunyai tiga macam kewajiban, yaitu: menuntut ilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.
Menurut pengertian yang tersurat dari ayat ini kewajiban menuntut ilmu pengetahuan yang ditekankan di sisi Allah adalah dalam bidang ilmu agama. Akan tetapi agama adalah suatu sistem hidup yang mencakup seluruh aspek dan mencerdaskan kehidupan mereka, dan tidak bertentangan dengan norma-norma segi kehidupan manusia. Setiap ilmu pengetahuan yang berguna dan dapat mencerdaskan kehidupan mereka dan tidak bertentangan dengan norma-norma agama, wajib dipelajari. Umat Islam diperintahkan Allah untuk memakmurkan bumi ini dan menciptakan kehidupan yang baik. Sedang ilmu pengetahuan adalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap sarana yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban adalah wajib pula hukumnya.
Dalam hal ini, para ulama Islam telah menetapkan suatu kaidah yang berbunyi:
“Setiap sarana yang diperlukan untuk melaksanakan yang wajib, maka ia wajib pula hukumnya”.
Karena pentingnya fungsi ilmu dan para sarjana, maka beberapa negara Islam membebaskan para ulama (sarjana) dan mahasiswa pada perguruan agama dari wajib militer agar pengajaran dan pengembangan ilmu senantiasa dapat berjalan dengan lancar, kecuali bila negara sedang menghadapi bahaya besar yang harus dihadapi oleh segala lapisan masyarakat.


 Ayat di atas menjadi acuan kita yang berhubungan dengan kewajiban belajar dan mengajar. Terdapat beberapa sumber yang tentunya harus kita kaji lebih dalam lagi, karena dari sekian kitab-kitab tafsir yang sudah ada ternyata berbeda dalam penafsirannya. Namun pada pokoknya adalah ;
1.      Kewajiban manusia untuk belajar dan mengajar agama;
2.      Ayat ini memberi anjuran tegas kepada umat Islam agar ada sebagian dari umat Islam       untuk memperdalam agama;
3.      Pentingnya mencari ilmu juga mengamalkan ilmu;
4.      Pentingnya memperdalam ilmu dan menyebarluaskan informasi yang benar. Ia tidak kurang penting dari upaya mempertahankan wilayah;
5.      Hendaklah jihad itu dibagi kepada jihad bersenjata dan jihad memperdalam ilmu pengetahuan dan pengertian tentang agama;
6.      Antara jihad berperang dan jihad memperdalam ilmu agama keduanya penting dan keduanya saling mengisi.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Maroghi, Ahmad Mustofa. 1993. Terjemah Tafsir Al-Maroghi. Semarang : PT Karya Toha Putra Semarang.
Mahmud Syaltut,1990, Tafsir Al-qur’anul Karim, Bandung: CV. Diponegoro
Muhammad Musthafa Al-Maraghi, 1992, Tafsir Al-Maraghi, Semarang: CV. Toha Putra
Imam Jalaluddin Al-Mahali, Imam Jalaluddin As-Suyuthi, 2011, Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Ayat, Bandung, Penerbit Sinar Baru
KH. Qomaruddin, HAA. Dahlan, Prof. Dr. M.D. Dahlan,1989, Asbabun- Nuzul, Bandung : Cv. Diponegoro
Departemen Agama,1996, Al-Qur’an dan Terjemahanya, Jakarta, CV. Indah Prees
Al-Imam Muhammad, ’Usman Abdullah, Al-Mirgani, Tajut Tafasir Mahkota Tafsir, Jilid III Surat Ar-Rum 1 s.d Surat An-Nas 6, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009), Cet. I.
Departemen Agama Republik indonesia, Al-Qur’an dan Tafsirannya, Jilid X, (Yogyakarta: Dep. Agama RI, 1990).
Nata, Abuddin, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir Al-Ayat Al-Tarbawiy), (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), Cet. IV.
http://edukasi.kompasiana.com/2013/02/02/lima-komponen-proses-pendidikan-525124.html, di unduh pada tanggal 25 Maret 2013, pukul 19.39 wib.
http://hadirukiyah2.blogspot.com/2010/01/resume-ii-ideologi-pendidikan-islam.html, di unduh pada tanggal 15 Maret 2013, pukul 19.25 wib.
http://newjoesafirablog.blogspot.com/2012/04/metode-pendidikan-islam.html, di unduh pada tanggal 25 Maret 2013 pukul 19.45 wib.
http://www.artikelbagus.com/2011/06/tujuan-dan-proses-pendidikan.html, di unduh pada tanggal 25 Maret 2013 pukul 19.41 wib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar