TOKO 0SCAR CLASSER

Senin, 22 September 2014

HIKMAH DARI BENCANA

HIKMAH DARI BENCANA
Bangsa Indonesia saat ini sedang ditimpa musibah secara berturut-turut. Dari tinjauan islam,musibah apapun yang berupa bencana alam atau akibat kelalaian manusia, segala yang terjadi telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Berat mata memandang,memang tak seberat bahu memikul. Suka atau tidak kehidupan harus terus berjalan. Oleh sebab itu pastilah ada hikmah yang dapat diambil dari berbagai kejadian yang menimpa, karena Dia yang Maha Adil dan Penyayang pasti tidak akan berbuat aniaya. Smoga kutipan ini dapat menjadi sedikit penghibur bagi sobat-sobat yang sedang mengalami kesulitan atau kesedihan.


Ibnu Qayyim berkata:


“Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusanNya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan ini pun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini.”

Diantara beberapa hikmah yang bisa saya kutip diantaranya:
1.Sabar sebgai konsekuensi menghadapi kesulitan dan kesusahan. Allah berfirman:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar,(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun (Sesungguhnya semua berasal dr Allah dan akan kembali kpd_NYa). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.Al-Baqarah:155-157)

2. Menghapuskan dosa dan kesalahan. Allah berfirman:

“Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri,dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS.Asy-Syura:30)

Dari Sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id radiallahuanhu : Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah gulanaan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya. (HR. Bukhari)

3.Dicatat sebagai kebaikan dan derajat ditinggikan.

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu,melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya” (HR.Muslim)
4. Jalan menuju syurga. Dari Abu Hurairah,Rasulullah SAW bersabda:

“Syurga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan Neraka itu dikelilingi dengan berbagai macam syahwat.” (HR. Bukhari – Muslim)

Allah berfirman dalam sebuah hadist qudsi:

“Tidaklah ada suatu balasan (yang lebih pantas di sisiKu bagi hambaKu yang beriman, jika Aku telah mencabut nyawa kesayangannya dari penduduk dunia kemudian dia bersabar atas kehilangan orang kesayanagnnya itu, melainkan Surga.” (HR. Bukhari)
5. Membawa keselamatan dari api neraka

“Janganlah kamu mencacimaki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi” (HR. Muslim)
6. Mengembalikan hamba kepada Rabb-nya dan mengingat kelalaiannya. Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya KAmi telah mengutus Rasul-Rasul kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami timpa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk dan merendahkan diri.” (QS.Al-An’am : 42)
7. Mengingat nikmat Allah yang lalu dan yang ada. Seorang penyair berkata: Seseorang tidak mengenali tanda-tanda sehat selagi dia belum tertimpa sakit.
8. Mengingat keadaan saudara-saudaramu yang ditimpa musibah. Maka diantara hikmah Allah, Dia menimpakan cobaan berupa penyakit dan penderitaan kepada orang mukmin pada waktu-waktu tertentu, agar dia mengingat saudara-saudaranya yang ditimpa kesulitan, sehingga tergugah untuk membantunya.
9. Mensucikan hati. Ibnu Qayyim radiallahuanhu berkata:

“Hati dan ruh bisa mengambil manfaat dari penderitaan dan penyakit yang merupakan urusan yang tidak bisa dirasakan kecuali jika di dalamnya ada kehidupan. Kebersihan hati dan ruh tergantung kepada penderitaan badan dan kesulitannya.” (Tuhfatul Mariidh hal 25)
10.Cobaan dan ujian merupakan nikmat. Karena hikmah dari berbagai cobaan,orang – orang shalih justru gembira sekiranya mendapat cobaan spt telah mendapat kesenangan. RAsullullah SAW menyebutkan bahwa para Nabi telah ditimpa cobaan berupa penyakit, kemiskinan dan yang lainnya kemudian beliau bersabda:

“…Dan sesungguhnya salah seorang diantara mereka benar-benar merasa gembira karena mendapat cobaan, sebagaimana salah seorang merasa gembira karena telah mendapatkan kelapangan.” (HR. Ibnu Majah)


Dalam kaidah ilmu mantiq (Ilmu logika) “Al-’Alam Mutagoyyirun” se-suatu yang berubah atau bergerak adalah alam. Seperti perubahan musim kemarau menjadi penghujan. Hal ini bagian dari alam yang dikemas sedemikian rupa oleh aturan dan sis-tem manajemen Allah SWT.
Al-Qur’an surah Assyuuro menggambarkan, tentang hujan sebagai pertan-da dibukakannya pintu rahmat serta rejeki bagi seluruh makhluk hidup yang berada di muka bumi. Terjemahannya adalah:
“Dan Dia-lah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji” (QS. As Syuura 28).
Ayat di atas menegaskan bahwa hujan merupakan sunnatillah, dan salah satu bagian penentu keberlangsungan kehidupan hayati.
Hanya persoalannya, ketika manusia tak lagi bersahabat dengan alam. Melakukan pembalakan hutan (Ilegal Logging). Berdirinya rumah-rumah liar di sepanjang bantaran sungai. Gedu-ng-gedung bertingkat, village yang berdiri tanpa prosedur standar plan-ning ruang tata kota. Membuang sampah bukan pada tempatnya, dan termasuk sistem drainase yang amburadul.
Hal ini-lah sesungguhnya yang menjadi penyebab utama terjadinya bencana banjir yang belakangan ini masih terus melanda ke beberapa daerah di Indonesia. Hingga keberadaan hujan menjadi momok yang menakutkan, karena hujan seakan telah berubah fungsi menjadi sumber bencana banjir, yang merenggut nyawa, melenyapkan harta benda, bahkan telah melum-puhkan aktivitas perekonomian ma-syarakat secara menyeluruh.
Kesadaran masyarakat secara umum, menjaga kebersihan lingkungan, mem-buang sampah pada tempatnya, juga cinta terhadap kelestarian alam, agar terciptanya keseimbangan eko sistem alam yang sedianya menjadi prioritas utama dalam mengantisipasi terjadinya bencana banjir.
Kemudian ditambah perbaikan sistem kinerja pemerintah daerah maupun pusat. Karena umumnya sering kita disibukan oleh sebuah bencana yang tengah terjadi hari ini. Tetapi sering lupa saat kondisi mulai berangsur normal.
Dalam kata lain, kesibukan kita hanya berlaku pada saat badai melanda, namun lupa memperbaikinya ketika badai telah berlalu.
Oleh karenanya dapat kita garis bawahi, bahwa terjadinya bencana banjir yang sering melanda di beberapa daerah lebih disebabkan oleh ke-salahan manusia (Human error). Se-bagaimana dalam surah Arrum Allah memberikan ultimatum bahwa:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, yang maksudnya Allah memberikan pelajaran agar me-rasakan apa yang sebagian mereka telah perbuat, dan juga agar mereka dapat kembali ke jalan yang bena”: (QS. Arrum, 41).

Bencana banjir yang kini masih menyelimuti beberapa daerah, mudah-mudahan menjadi pelajaran berharga buat ke depannya.
Ada beberapa catatan penting yang dapat kita simpulkan di balik musibah ini.
Pertama, harus menyadari bahwa datangnya bencana banjir murni akibat kesalahan manusia itu sendiri. Namun Hikmahnya, supaya sejak dini kita dapat membenahi diri hingga menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Kedua, belajar mencintai dan menjaga kelestarian alam agar terciptanya ke-seimbangan eko sistem alam secara berkesinambungan. Hingga dengan begitu, secara syariat kita telah berupaya mengantisipasi atau meminimalisir tejadinya bencana yang kita tidak harapkan.
Ketiga, tidak saling menyalahkan, tapi harus saling memberikan solusi dalam mengatasi persoalan banjir. Karena persoalan ini tidak cukup hanya kita bebankan kepada pemerintah saja, tapi juga harus ada kesadaran serta tanggungjawab semua pihak.
Keempat, segala sesuatu yang kita miliki, sesungguhnya merupakan titi-pan. Hingga kapan saja. Dimana saja Allah dapat mengambilnya tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sebagai-mana rangkaian kalimat istirja’ yaitu: “Inna-lillaahi Wainna ilaihi raaji’un” Sesung-guhnya semuanya milik Allah, maka akan kembali kepada-Nya jua. Hingga kita tidak lagi memikirkan sesuatu yang telah lenyap dari geng-gaman kita, agar hati kita menjadi tenang, sabar serta tetap tawakal,
Lagi pula di balik bencana banjir, ka-dang malah dapat memberi keber-kahan bagi saudara-saudara kita. Se-perti para pedagang payung, jas hujan, penawar jasa payung, penga-ngkut barang melaui ban serta gerobak dorongnya. Hal ini merupakan cara Allah dalam mengatur rotasi pembagian rejeki.
Subhanallah! Sungguh apa yang Allah ciptakan tak ada satu-pun yang sia-sia, apabila kita menerimanya dengan penuh kesabaran, kesadaran serta keikhlasan serta berupaya ingin melakukan perbaikan.
Dalam kaidah ilmu mantiq (Ilmu logika) “Al-’Alam Mutagoyyirun” se-suatu yang berubah atau bergerak adalah alam. Seperti perubahan musim kemarau menjadi penghujan. Hal ini bagian dari alam yang dikemas sedemikian rupa oleh aturan dan sis-tem manajemen Allah SWT.
Al-Qur’an surah Assyuuro menggambarkan, tentang hujan sebagai pertan-da dibukakannya pintu rahmat serta rejeki bagi seluruh makhluk hidup yang berada di muka bumi. Terjemahannya adalah:
“Dan Dia-lah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji” (QS. As Syuura 28).
Ayat di atas menegaskan bahwa hujan merupakan sunnatillah, dan salah satu bagian penentu keberlangsungan kehidupan hayati.
Hanya persoalannya, ketika manusia tak lagi bersahabat dengan alam. Melakukan pembalakan hutan (Ilegal Logging). Berdirinya rumah-rumah liar di sepanjang bantaran sungai. Gedu-ng-gedung bertingkat, village yang berdiri tanpa prosedur standar plan-ning ruang tata kota. Membuang sampah bukan pada tempatnya, dan termasuk sistem drainase yang amburadul.
Hal ini-lah sesungguhnya yang menjadi penyebab utama terjadinya bencana banjir yang belakangan ini masih terus melanda ke beberapa daerah di Indonesia. Hingga keberadaan hujan menjadi momok yang menakutkan, karena hujan seakan telah berubah fungsi menjadi sumber bencana banjir, yang merenggut nyawa, melenyapkan harta benda, bahkan telah melum-puhkan aktivitas perekonomian ma-syarakat secara menyeluruh.
Kesadaran masyarakat secara umum, menjaga kebersihan lingkungan, mem-buang sampah pada tempatnya, juga cinta terhadap kelestarian alam, agar terciptanya keseimbangan eko sistem alam yang sedianya menjadi prioritas utama dalam mengantisipasi terjadinya bencana banjir.
Kemudian ditambah perbaikan sistem kinerja pemerintah daerah maupun pusat. Karena umumnya sering kita disibukan oleh sebuah bencana yang tengah terjadi hari ini. Tetapi sering lupa saat kondisi mulai berangsur normal.
Dalam kata lain, kesibukan kita hanya berlaku pada saat badai melanda, namun lupa memperbaikinya ketika badai telah berlalu.
Oleh karenanya dapat kita garis bawahi, bahwa terjadinya bencana banjir yang sering melanda di beberapa daerah lebih disebabkan oleh ke-salahan manusia (Human error). Se-bagaimana dalam surah Arrum Allah memberikan ultimatum bahwa:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, yang maksudnya Allah memberikan pelajaran agar me-rasakan apa yang sebagian mereka telah perbuat, dan juga agar mereka dapat kembali ke jalan yang bena”: (QS. Arrum, 41).
 Ada beberapa catatan penting yang dapat kita simpulkan di balik musibah ini.
Pertama, harus menyadari bahwa datangnya bencana banjir murni akibat kesalahan manusia itu sendiri. Namun Hikmahnya, supaya sejak dini kita dapat membenahi diri hingga menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Kedua, belajar mencintai dan menjaga kelestarian alam agar terciptanya ke-seimbangan eko sistem alam secara berkesinambungan. Hingga dengan begitu, secara syariat kita telah berupaya mengantisipasi atau meminimalisir tejadinya bencana yang kita tidak harapkan.

Ketiga, tidak saling menyalahkan, tapi harus saling memberikan solusi dalam mengatasi persoalan banjir. Karena persoalan ini tidak cukup hanya kita bebankan kepada pemerintah saja, tapi juga harus ada kesadaran serta tanggungjawab semua pihak.

Keempat, segala sesuatu yang kita miliki, sesungguhnya merupakan titi-pan. Hingga kapan saja. Dimana saja Allah dapat mengambilnya tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sebagai-mana rangkaian kalimat istirja’ yaitu: “Inna-lillaahi Wainna ilaihi raaji’un” Sesung-guhnya semuanya milik Allah, maka akan kembali kepada-Nya jua. Hingga kita tidak lagi memikirkan sesuatu yang telah lenyap dari geng-gaman kita, agar hati kita menjadi tenang, sabar serta tetap tawakal,

Lagi pula di balik bencana banjir, ka-dang malah dapat memberi keber-kahan bagi saudara-saudara kita. Se-perti para pedagang payung, jas hujan, penawar jasa payung, penga-ngkut barang melaui ban serta gerobak dorongnya. Hal ini merupakan cara Allah dalam mengatur rotasi pembagian rejeki.
Subhanallah! Sungguh apa yang Allah ciptakan tak ada satu-pun yang sia-sia, apabila kita menerimanya dengan penuh kesabaran, kesadaran serta keikhlasan serta berupaya ingin melakukan perbaikan.



KESIMPULAN


Bencana banjir sesungguhnya tidak akan terjadi, apabila kita menyadari bahwa pentingnya menjaga lingkung-an dengan baik, serta melestarikan alam secara berkesinambungan.
Lagi pula Allah SWT menurunkan hujan, tentu telah disesuaikan dengan kebutuhan dan daya tampung bumi. Sesuai dengan firman-Nya:
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”
(QS. Az-Zukhruf, (43):11)
Ayat ini menegaskan, bahwa sejak dulu hingga kini hujan diturunkan berdasarkan kafasitas yang telah dise-suaikan dengan kebutuhan ragam ke-hidupan hayati. Jadi kalaupun terjadinya banjir, murni akibat kesalahan manusia itu sendiri yang kerap mela-kukan kerusakan di muka bumi (Human error). Wallahu ‘alam bis-shawab.


MAKALAH

HIKMAH DIBALIK BENCANA

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Pelajaran Al – Quran Hadist





DISUSUN OLEH :
ü RAHMAT  FADILAH
ü RUDI GUNTORO
ü RIYAN EKA



\


KELAS : IX - C
\SMP ISLAM CIPASUNG
SINGAPARNA  TASIKMALAYA
2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar