HIKMAH DARI BENCANA
Dalam kaidah
ilmu mantiq (Ilmu logika) “Al-’Alam Mutagoyyirun” se-suatu yang berubah atau
bergerak adalah alam. Seperti perubahan musim kemarau menjadi penghujan. Hal
ini bagian dari alam yang dikemas sedemikian rupa oleh aturan dan sis-tem
manajemen Allah SWT.
Al-Qur’an surah
Assyuuro menggambarkan, tentang hujan sebagai pertan-da dibukakannya pintu
rahmat serta rejeki bagi seluruh makhluk hidup yang berada di muka bumi.
Terjemahannya adalah:
“Dan Dia-lah
yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.
Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji” (QS. As Syuura 28).
Ayat di atas
menegaskan bahwa hujan merupakan sunnatillah, dan salah satu bagian penentu
keberlangsungan kehidupan hayati.
Hanya persoalannya, ketika manusia tak lagi
bersahabat dengan alam. Melakukan pembalakan hutan (Ilegal Logging). Berdirinya
rumah-rumah liar di sepanjang bantaran sungai. Gedu-ng-gedung bertingkat,
village yang berdiri tanpa prosedur standar plan-ning ruang tata kota. Membuang
sampah bukan pada tempatnya, dan termasuk sistem drainase yang amburadul.
Hal ini-lah sesungguhnya yang menjadi penyebab
utama terjadinya bencana banjir yang belakangan ini masih terus melanda ke
beberapa daerah di Indonesia. Hingga keberadaan hujan menjadi momok yang
menakutkan, karena hujan seakan telah berubah fungsi menjadi sumber bencana
banjir, yang merenggut nyawa, melenyapkan harta benda, bahkan telah
melum-puhkan aktivitas perekonomian ma-syarakat secara menyeluruh.
Kesadaran masyarakat secara umum, menjaga
kebersihan lingkungan, mem-buang sampah pada tempatnya, juga cinta terhadap
kelestarian alam, agar terciptanya keseimbangan eko sistem alam yang sedianya
menjadi prioritas utama dalam mengantisipasi terjadinya bencana banjir.
Kemudian ditambah perbaikan sistem kinerja
pemerintah daerah maupun pusat. Karena umumnya sering kita disibukan oleh sebuah
bencana yang tengah terjadi hari ini. Tetapi sering lupa saat kondisi mulai
berangsur normal.
Dalam kata lain, kesibukan kita hanya berlaku
pada saat badai melanda, namun lupa memperbaikinya ketika badai telah berlalu.
Oleh karenanya dapat kita garis bawahi, bahwa
terjadinya bencana banjir yang sering melanda di beberapa daerah lebih
disebabkan oleh ke-salahan manusia (Human error). Se-bagaimana dalam surah
Arrum Allah memberikan ultimatum bahwa:
ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat
dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, yang maksudnya Allah
memberikan pelajaran agar me-rasakan apa yang sebagian mereka telah perbuat,
dan juga agar mereka dapat kembali ke jalan yang bena”: (QS. Arrum, 41).
Bencana banjir yang kini masih menyelimuti
beberapa daerah, mudah-mudahan menjadi pelajaran berharga buat ke depannya.
Ada beberapa catatan penting yang dapat kita
simpulkan di balik musibah ini.
Pertama, harus menyadari bahwa datangnya
bencana banjir murni akibat kesalahan manusia itu sendiri. Namun Hikmahnya,
supaya sejak dini kita dapat membenahi diri hingga menjadi lebih baik dari
hari-hari sebelumnya.
Kedua, belajar
mencintai dan menjaga kelestarian alam agar terciptanya ke-seimbangan eko
sistem alam secara berkesinambungan. Hingga dengan begitu, secara syariat kita
telah berupaya mengantisipasi atau meminimalisir tejadinya bencana yang kita
tidak harapkan.
Ketiga, tidak
saling menyalahkan, tapi harus saling memberikan solusi dalam mengatasi
persoalan banjir. Karena persoalan ini tidak cukup hanya kita bebankan kepada
pemerintah saja, tapi juga harus ada kesadaran serta tanggungjawab semua pihak.
Keempat, segala
sesuatu yang kita miliki, sesungguhnya merupakan titi-pan. Hingga kapan saja.
Dimana saja Allah dapat mengambilnya tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Sebagai-mana rangkaian kalimat istirja’ yaitu: “Inna-lillaahi Wainna
ilaihi raaji’un” Sesung-guhnya semuanya milik Allah, maka akan kembali
kepada-Nya jua. Hingga kita tidak lagi memikirkan sesuatu yang telah lenyap
dari geng-gaman kita, agar hati kita menjadi tenang, sabar serta tetap tawakal,
Lagi pula di
balik bencana banjir, ka-dang malah dapat memberi keber-kahan bagi
saudara-saudara kita. Se-perti para pedagang payung, jas hujan, penawar jasa
payung, penga-ngkut barang melaui ban serta gerobak dorongnya. Hal ini
merupakan cara Allah dalam mengatur rotasi pembagian rejeki.
Subhanallah!
Sungguh apa yang Allah ciptakan tak ada satu-pun yang sia-sia, apabila kita
menerimanya dengan penuh kesabaran, kesadaran serta keikhlasan serta berupaya
ingin melakukan perbaikan.
Dalam kaidah ilmu mantiq (Ilmu logika) “Al-’Alam
Mutagoyyirun” se-suatu yang berubah atau bergerak adalah alam. Seperti
perubahan musim kemarau menjadi penghujan. Hal ini bagian dari alam yang
dikemas sedemikian rupa oleh aturan dan sis-tem manajemen Allah SWT.
Al-Qur’an surah
Assyuuro menggambarkan, tentang hujan sebagai pertan-da dibukakannya pintu
rahmat serta rejeki bagi seluruh makhluk hidup yang berada di muka bumi.
Terjemahannya adalah:
“Dan Dia-lah
yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.
Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji” (QS. As Syuura 28).
Ayat di atas
menegaskan bahwa hujan merupakan sunnatillah, dan salah satu bagian penentu
keberlangsungan kehidupan hayati.
Hanya persoalannya, ketika manusia tak lagi
bersahabat dengan alam. Melakukan pembalakan hutan (Ilegal Logging). Berdirinya
rumah-rumah liar di sepanjang bantaran sungai. Gedu-ng-gedung bertingkat,
village yang berdiri tanpa prosedur standar plan-ning ruang tata kota. Membuang
sampah bukan pada tempatnya, dan termasuk sistem drainase yang amburadul.
Hal ini-lah sesungguhnya yang menjadi penyebab
utama terjadinya bencana banjir yang belakangan ini masih terus melanda ke
beberapa daerah di Indonesia. Hingga keberadaan hujan menjadi momok yang
menakutkan, karena hujan seakan telah berubah fungsi menjadi sumber bencana
banjir, yang merenggut nyawa, melenyapkan harta benda, bahkan telah
melum-puhkan aktivitas perekonomian ma-syarakat secara menyeluruh.
Kesadaran masyarakat secara umum, menjaga
kebersihan lingkungan, mem-buang sampah pada tempatnya, juga cinta terhadap
kelestarian alam, agar terciptanya keseimbangan eko sistem alam yang sedianya
menjadi prioritas utama dalam mengantisipasi terjadinya bencana banjir.
Kemudian ditambah perbaikan sistem kinerja
pemerintah daerah maupun pusat. Karena umumnya sering kita disibukan oleh
sebuah bencana yang tengah terjadi hari ini. Tetapi sering lupa saat kondisi
mulai berangsur normal.
Dalam kata lain, kesibukan kita hanya berlaku
pada saat badai melanda, namun lupa memperbaikinya ketika badai telah berlalu.
Oleh karenanya dapat kita garis bawahi, bahwa
terjadinya bencana banjir yang sering melanda di beberapa daerah lebih
disebabkan oleh ke-salahan manusia (Human error). Se-bagaimana dalam surah
Arrum Allah memberikan ultimatum bahwa:
ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, yang maksudnya Allah memberikan pelajaran agar
me-rasakan apa yang sebagian mereka telah perbuat, dan juga agar mereka dapat
kembali ke jalan yang bena”: (QS. Arrum, 41).
Ada
beberapa catatan penting yang dapat kita simpulkan di balik musibah ini.
Pertama, harus menyadari bahwa datangnya
bencana banjir murni akibat kesalahan manusia itu sendiri. Namun Hikmahnya,
supaya sejak dini kita dapat membenahi diri hingga menjadi lebih baik dari hari-hari
sebelumnya.
Kedua, belajar
mencintai dan menjaga kelestarian alam agar terciptanya ke-seimbangan eko
sistem alam secara berkesinambungan. Hingga dengan begitu, secara syariat kita
telah berupaya mengantisipasi atau meminimalisir tejadinya bencana yang kita
tidak harapkan.
Ketiga, tidak
saling menyalahkan, tapi harus saling memberikan solusi dalam mengatasi
persoalan banjir. Karena persoalan ini tidak cukup hanya kita bebankan kepada
pemerintah saja, tapi juga harus ada kesadaran serta tanggungjawab semua pihak.
Keempat, segala
sesuatu yang kita miliki, sesungguhnya merupakan titi-pan. Hingga kapan saja.
Dimana saja Allah dapat mengambilnya tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Sebagai-mana rangkaian kalimat istirja’ yaitu: “Inna-lillaahi Wainna
ilaihi raaji’un” Sesung-guhnya semuanya milik Allah, maka akan kembali
kepada-Nya jua. Hingga kita tidak lagi memikirkan sesuatu yang telah lenyap
dari geng-gaman kita, agar hati kita menjadi tenang, sabar serta tetap tawakal,
Lagi pula di balik bencana banjir, ka-dang
malah dapat memberi keber-kahan bagi saudara-saudara kita. Se-perti para
pedagang payung, jas hujan, penawar jasa payung, penga-ngkut barang melaui ban
serta gerobak dorongnya. Hal ini merupakan cara Allah dalam mengatur rotasi
pembagian rejeki.
Subhanallah!
Sungguh apa yang Allah ciptakan tak ada satu-pun yang sia-sia, apabila kita
menerimanya dengan penuh kesabaran, kesadaran serta keikhlasan serta berupaya
ingin melakukan perbaikan.
KESIMPULAN
Bencana banjir
sesungguhnya tidak akan terjadi, apabila kita menyadari bahwa pentingnya
menjaga lingkung-an dengan baik, serta melestarikan alam secara
berkesinambungan.
Lagi pula Allah
SWT menurunkan hujan, tentu telah disesuaikan dengan kebutuhan dan daya tampung
bumi. Sesuai dengan firman-Nya:
“Dan yang
menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan
dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari
dalam kubur).”
(QS.
Az-Zukhruf, (43):11)
Ayat ini
menegaskan, bahwa sejak dulu hingga kini hujan diturunkan berdasarkan kafasitas
yang telah dise-suaikan dengan kebutuhan ragam ke-hidupan hayati. Jadi kalaupun
terjadinya banjir, murni akibat kesalahan manusia itu sendiri yang kerap
mela-kukan kerusakan di muka bumi (Human error). Wallahu ‘alam bis-shawab.
MAKALAH
HIKMAH DIBALIK BENCANA
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Pelajaran Al – Quran Hadist
DISUSUN OLEH :
ü RAHMAT FADILAH
ü RUDI
GUNTORO
ü RIYAN
EKA
\
KELAS : IX - C
\SMP ISLAM CIPASUNG
SINGAPARNA
TASIKMALAYA
2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar