MAKALAH
FLORA DAN FAUNA DI DI INDONESIA
Disusun
oleh:
AHMAD
HASAN HARIRI
Kelas : VII D
MADRASAH
TSANAWIYAH CIPASUNG
TAHUN 2014/2015
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
BAB II PEMBAHASAN
KERAGAMAN FLORA DAN FAUNA DI JAWA BARAT 2
Contoh Macam-Macam Flora Dan Fauna Jawa Barat 2
1. Tumbuhan (Flora) 2
1) Gandaria 2
2) Kembang Sepatu 3
3) Suplir 4
2. Hewan (Fauna) 5
1) Surili 5
2) Badak Jawa 7
3) Macan Tutul Jawa 11
BAB III PENUTUP
Kesimpulan 13
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
BAB II PEMBAHASAN
KERAGAMAN FLORA DAN FAUNA DI JAWA BARAT 2
Contoh Macam-Macam Flora Dan Fauna Jawa Barat 2
1. Tumbuhan (Flora) 2
1) Gandaria 2
2) Kembang Sepatu 3
3) Suplir 4
2. Hewan (Fauna) 5
1) Surili 5
2) Badak Jawa 7
3) Macan Tutul Jawa 11
BAB III PENUTUP
Kesimpulan 13
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hutan merupakan aset pemerintah yang
sangat penting maka sudah seharusnya pemerintah ikut serta menjaga akan
kelestarian hutan beserta semua yang ada di dalamnya. Pelestarian hutan sangat
berpengaruh terhadap kelangsungan hidup flora dan fauna, selain itu juga sangat
berpengaruh terhadap kesuburan tanah di sekitarnya. Hingga sekarang masih
masyarakat yang belum mengetahui dan mengerti akan kepentingan hutan sehingga
mereka hanya dapat memanfaatkah hasil hutan tetapi tidak mampu menjaga
kelestariannya.
Maka dari itu terdapat suatu hutan yang
di dalamnya terdapat berbagai floran dan fauna yang dilindungi. Hutan ini
disebut hutan lindung. Hutan lindung merupakan hutan yang dikelola oleh
pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, seperti halnya yang
telah kita ketahui yakni hutan lindung di kawasan cagar alam Pangandaran.
Di kawasan itu masih terdapat berbagai
jenis flora dan fauna. Keanekaragaman ini akan berpengeruh terhadap keadaan di
sekitarnya termasuk keadaan tanah yang ditempatinya. Hal ini akan terus
berlangsung sehingga menimbulkan hubungan yang tak dapat dipisahkan.
Di Indonesia sendiri sebagai negara
kepulauan, secara geologi merupakan pertemuan dua lempeng kulit bumi, yaitu
lempeng (paparan) Sunda atau lempeng Eurasia dan lempeng paparan sahul atau
lempeng pasifik. Pada zaman glasial, kedua lempengan ini merupakan suatu
daratan yang bersatu dengan Asia dan Australia. Keterkaitan dengan sejarah
geologi masa lalu menghasilkan keanekaragaman kehidupan berbagai jenis flora
dan fauna di Indonesia khususnya Jawa Barat yang secara biogeografis sangat
kompleks dan khas. Terjadinya keanekaragaman flora dan fauna di Indonesia pun
disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, iklim, keadaan tanah, relief permukaan
bumi, dan biotik.
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
MACAM-MACAM FLORA DAN FAUNA JAWA BARAT
1.
Tumbuhan
(Flora)
1)
Gandaria
Gandaria merupakan nama pohon dan buah
yang mempunyai nama latin (ilmiah) Bouea macrophylla. Pohon gandaria juga
ditetapkan sebagai flora identitas dari provinsi Jawa Barat, mendampingi macan
tutul (Panthera pardus) yang ditetapkan sebagai fauna identitas provinsi Jawa
Barat.
Pohon gandaria (Bouea macrophylla)
disebut juga sebagai ramania atau kundangan di beberapa daerah di Indonesia
disebut dengan berbagai nama yang berbeda seperti gandaria (Jawa), jatake,
gandaria (Sunda), remieu (Gayo), barania (Dayak ngaju), dandoriah (Minangkabau),
wetes (Sulawesi Utara), Kalawasa, rapo-rapo kebo (Makasar), buwa melawe
(Bugis).
Ciri-ciri : Pohon gandaria (Bouea
macrophylla) mempunyai tinggi hingga mencapai 27 meter. Pohon yang ditetapkan
sebagai flora identitas Jawa Barat ini memiliki tajuk yang membulat, rimbun
dengan untaian daunnya yang berjuntai. Pohon ini lambat pertumbuhannya.
Daun gandaria berbentuk bundar telur memanjang sampai lanset atau jorong. Permukaan daun mengkilat dan mempunyai ujungnya yang runcing. Ukuran daunnya berkisar antara 11- 45 cm (panjang) dan 4 – 13 cm (lebar).
Daun gandaria berbentuk bundar telur memanjang sampai lanset atau jorong. Permukaan daun mengkilat dan mempunyai ujungnya yang runcing. Ukuran daunnya berkisar antara 11- 45 cm (panjang) dan 4 – 13 cm (lebar).
Bunga gandaria muncul dari ketiak daun
dan berbentuk malai. Bunga berwarna kekuningan yang kemudian berubah
kecoklatan. Buah gandaria berbentuk agak bulat dengan diameter antara 2.5-5 cm.
Buah gandaria yang masih muda berwarna hijau. Ketika mulai tua dan matang buah
berwarna kuning hingga jingga. Buah gandaria memiliki daging buah yang
mengeluarkan cairan kental. Buah ini memiliki bau khas yang menyengat dan
memiliki rasa agak asam hingga manis.
Untuk perbanyakan pohon gandaria (Bouea
macrophylla) bisa melalui persemaian biji ataupun dengan cara mencangkok.
Habitat dan Persebaran : Tanaman gandaria (Bouea macrophylla) merupakan tumbuhan asli Indonesia yang juga terdapat di semenanjung Malaysia dan Thailand. Di Indonesia tanaman ini banyak ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Maluku.
Habitat dan Persebaran : Tanaman gandaria (Bouea macrophylla) merupakan tumbuhan asli Indonesia yang juga terdapat di semenanjung Malaysia dan Thailand. Di Indonesia tanaman ini banyak ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Maluku.
Pohon gandaria tumbuh di daerah beriklim
tropis yang basah. Secara alami, tumbuhan yang menjadi flora identitas provinsi
Jawa barat ini tumbuh di daerah dataran rendah hingga pada ketinggian 300 meter
dpl. Namun pada tanaman yang dibudidayakan, gandaria mampu tumbuh dengan baik
hingga ketinggian 850 meter dpl.
Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Plantae;
Divisi: Magnoliophyta; kelas: Magnoliopsida; Ordo: Sapindales; Famili:
Anacardiaceae; Genus: Bouea; Spesies: Bouea macrophylla.
Nama Binomial: Bouea macrophylla. Nama
Indonesia: Gandaria
2) Kembang Sepatu
Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis
L.) banyak ditanam sebagai tanaman hias di daerah tropis dan subtropis. Bunga
besar, berwarna merah dan tidak berbau. Bunga dari berbagai kultivar dan
hibrida bisa berupa bunga tunggal (daun mahkota selapis) atau bunga ganda (daun
mahkota berlapis) yang berwarna putih hingga kuning, oranye hingga merah tua
atau merah jambu.
Deskripsi : Bunga terdiri dari 5 helai
daun kelopak yang dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat
seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5 lembar atau lebih
jika merupakan hibrida. Tangkai putik berbentuk silinder panjang dikelilingi
tangkai sari berbentuk oval yang bertaburan serbuk sari. Biji terdapat di dalam
buah berbentuk kapsul berbilik lima.
Pada umumnya tinggi tanaman sekitar 2
sampai 5 meter. Daun berbentuk bulat telur yang lebar atau bulat telur yang
sempit dengan ujung daun yang meruncing. Di daerah tropis atau di rumah kaca
tanaman berbunga sepanjang tahun, sedangkan di daerah subtropis berbunga mulai
dari musim panas hingga musim gugur.
Bunga berbentuk trompet dengan diameter
bunga sekitar 6 cm. hingga 20 cm. Putik (pistillum) menjulur ke luar dari dasar
bunga. Bunga bisa mekar menghadap ke atas, ke bawah, atau menghadap ke samping.
Pada umumnya, tanaman bersifat steril dan tidak menghasilkan buah. Tanaman
berkembang biak dengan cara stek, pencangkokan, dan penempelan.
Manfaat : Kembang sepatu banyak
dijadikan tanaman hias karena bunganya yang cantik. Bunga digunakan untuk
menyemir sepatu di India dan sebagai bunga persembahan. Di Tiongkok, bunga yang
berwarna merah digunakan sebagai bahan pewarna makanan. Di Indonesia, daun dan bunga
digunakan dalam berbagai pengobatan tradisional. Kembang sepatu yang dikeringkan
juga diminum sebagai teh.
3) Suplir
Suplir adalah tumbuhan paku populer
untuk penghias ruang atau taman yang termasuk dalam marga Adiantum, yang
tergolong dalam anaksuku Vittarioideae, suku Pteridaceae . Suplir memperbanyak
diri secara generatif dengan spora yang terletak pada bagian tepi sisi bawah
daun yang sudah dewasa.
Suplir memiliki penampilan yang khas,
yang membuatnya mudah dibedakan dari jenis paku-pakuan lain. Daunnya tidak
berbentuk memanjang, tetapi cenderung membulat. Spora terlindungi oleh
sporangium yang dilindungi oleh indusium. Kumpulan indusia (sorus) berada di
sisi bawah daun pada bagian tepi yang agak terlindung oleh lipatan daun.
Tangkai entalnya khas karena berwarna hitam dan mengkilap, kadang-kadang
bersisik halus ketika dewasa. Sebagaimana paku-pakuan lain, daun tumbuh dari
rimpang dalam bentuk melingkar ke dalam seperti tangkai biola (disebut
circinate vernation) dan perlahan-lahan membuka. Akarnya serabut dan tumbuh
dari rimpang.
Pemanfaatan : Suplir tidak memiliki
nilai ekonomi penting selain sebagai tanaman hias yang bisa ditanam di dalam
ataupun di luar ruang namun tidak tahan penyinaran matahari langsung. Suplir
menyukai tanah yang gembur, kaya bahan organik (humus). Pemupukan dengan kadar
nitrogen lebih tinggi disukainya. Pembentukan spora memerlukan tambahan fosfor
dan kalium.
Pemeliharaan : Suplir sebagai tanaman hias harus memperhatikan penyiraman. Kekeringan yang dialami suplir tidak bisa diperbaiki hanya dengan penyiraman karena daun yang kering tidak bisa pulih. Penanganannya adalah dengan membuang seluruh ental yang kering hingga dekat rizoma dan memberi sedikit media tumbuh tambahan. Dalam waktu beberapa hari tunas baru akan muncul.
Pemeliharaan : Suplir sebagai tanaman hias harus memperhatikan penyiraman. Kekeringan yang dialami suplir tidak bisa diperbaiki hanya dengan penyiraman karena daun yang kering tidak bisa pulih. Penanganannya adalah dengan membuang seluruh ental yang kering hingga dekat rizoma dan memberi sedikit media tumbuh tambahan. Dalam waktu beberapa hari tunas baru akan muncul.
2. Hewan (Fauna)
1) Surili
Morfologi : Pada umumnya warna bagian
punggung (dorsal) tubuh surili dewasa berwarna hitam atau coklat tua keabuan.
Pada bagian kepala sampai jambul berwarna hitam. Tubuh bagian depan (ventral)
mulai dari bawah dagu, dada, perut, bagian dalam lengan, kaki dan ekor berwarna
putih. Warna kulit muka dan telinga hitam pekat agak kemerahan, warna iris mata
coklat gelap dan warna bibirkemerahan. Pada individu yang baru lahir, tubuhnya
berwarna putih keperak-perakan dengan garis hitam mulai dari kepala hingga
ekor. Panjang tubuh individu jantan dan betina hampir sama yaitu berkisar
antara 430-600 mm. Panjangekor berkisar antara 560-720 mm. Berat tubuh
rata-rata 6,5 kg.
Habitat : Surili hidup di kawasan hutan
hujan tropis primer maupun sekunder mulai dari hutan pantai (ketinggian 0
meter) sampai hutan pegunungan (ketinggian sampai 2000 meter diatas permukaan
laut). Seringkali juga surili dijumpai di perbatasan antara hutan dengan kebun
penduduk.
Makanan : Surili termasuk jenis primata
yang banyak mengkonsumsi daun muda atau kuncup daun sebagai makanannya. Bila
dilihat komposisi makanan yang dikonsumsi surili, 64% dari makanannya adalah
daun muda, 14% buah dan biji, 7% bunga dan sisanya berupa serangga, jamur dan
tanah. Di samping itu jenis tumbuhan yang menjadi makanan surili juga sangat
beragam. Beberapa hasil penelitian memperlihatkan bahwa surili mengkonsumsi
lebih dari 75 jenis tumbuhan yang berbeda.
Penyebaran : Surili (Presbytis comata)
hanya terdapat di Jawa Barat, terutama di kawasan hutan yang yang tergolong
kawasan konservasi (Taman Nasional, Cagar Alam) dan hutan lindung. Surili
tersebar mulai dari hutan pantai sampai hutan pegunungan mulai dari 0-2000
meter diatas permukaan laut.
Perilaku Sosial : Surili hidup
berkelompok dengan ukuran antara 7-12 individu. Setiap kelompok biasanya
terdiri atas satu ekor jantan dengan satu atau lebih betina (one male multi
female troop).
Aktivitas Harian : Surili aktif di siang hari (diurnal) dan lebih banyak melakukan aktivitasnya pada bagian atas dan tengah dari tajuk pohon (arboreal). Kadang-kadang jenis primata ini juga turun ke dasar hutan untuk memakan tanah. Pada saat anggotanya turun ke lantai hutan, pimpinan kelompok akan terlihat mengawasi dengan waspada. Pada malam hari kelompok surili tidur saling berdekatan pada ketinggian sekitar 20 m di atas permukaan tanah. Surili jarang menggunakan pohon sebagai tempat tidur yang sama dengan hari sebelumnya.
Status Konservasi : Surili merupakan satwa yang hanya terdapat (endemik) di Jawa Barat dan Banten. Satwa ini dilindungi oleh perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yaitu berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 247/Kpts/Um/1979 tanggal 5 April 1979, SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tanggal 10 Juni 1991 dan Undang-undang No. 5 Tahun 1990. Penyusutan habitat merupakan ancaman terbesar bagi populasi Surili. Saat ini jenis primata ini hanya dapat dijumpai di kawasan lindung dan konservasi dengan jumlah yang tersisa berkisar antara 4.000-6.000 ekor.
Aktivitas Harian : Surili aktif di siang hari (diurnal) dan lebih banyak melakukan aktivitasnya pada bagian atas dan tengah dari tajuk pohon (arboreal). Kadang-kadang jenis primata ini juga turun ke dasar hutan untuk memakan tanah. Pada saat anggotanya turun ke lantai hutan, pimpinan kelompok akan terlihat mengawasi dengan waspada. Pada malam hari kelompok surili tidur saling berdekatan pada ketinggian sekitar 20 m di atas permukaan tanah. Surili jarang menggunakan pohon sebagai tempat tidur yang sama dengan hari sebelumnya.
Status Konservasi : Surili merupakan satwa yang hanya terdapat (endemik) di Jawa Barat dan Banten. Satwa ini dilindungi oleh perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yaitu berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 247/Kpts/Um/1979 tanggal 5 April 1979, SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tanggal 10 Juni 1991 dan Undang-undang No. 5 Tahun 1990. Penyusutan habitat merupakan ancaman terbesar bagi populasi Surili. Saat ini jenis primata ini hanya dapat dijumpai di kawasan lindung dan konservasi dengan jumlah yang tersisa berkisar antara 4.000-6.000 ekor.
2) Badak Jawa
Badak jawa atau Badak bercula-satu kecil
(Rhinoceros sondaicus) adalah anggota famili Rhinocerotidae dan satu dari lima
badak yang masih ada. Badak ini masuk ke genus yang sama dengan badak india dan
memiliki kulit bermosaik yang menyerupai baju baja. Badak ini memiliki panjang
3,1–3,2 m dan tinggi 1,4–1,7 m. Badak ini lebih kecil daripada badak india dan
lebih dekat dalam besar tubuh dengan badak hitam. Ukuran culanya biasanya lebih
sedikit daripada 20 cm, lebih kecil daripada cula spesies badak lainnya. Badak
jawa dapat hidup selama 30-45 tahun di alam bebas. Badak ini hidup di hutan
hujan dataran rendah, padang rumput basah dan daerah daratan banjir besar.
Badak jawa kebanyakan bersifat tenang, kecuali untuk masa kenal-mengenal dan
membesarkan anak, walaupun suatu kelompok kadang-kadang dapat berkumpul di
dekat kubangan dan tempat mendapatkan mineral. Badak dewasa tidak memiliki
hewan pemangsa sebagai musuh. Badak jawa biasanya menghindari manusia, tetapi
akan menyerang manusia jika merasa diganggu. Peneliti dan pelindung alam jarang
meneliti binatang itu secara langsung karena kelangkaan mereka dan adanya
bahaya mengganggu sebuah spesies terancam. Peneliti menggunakan kamera dan
sampel kotoran untuk mengukur kesehatan dan tingkah laku mereka. Badak Jawa
lebih sedikit dipelajari daripada spesies badak lainnya.
Deskripsi : Badak jawa lebih kecil
daripada sepupunya, badak india, dan memiliki besar tubuh yang dekat dengan
badak hitam. Panjang tubuh badak Jawa (termasuk kepalanya) dapat lebih dari
3,1–3,2 m dan mencapai tinggi 1,4–1,7 m. Badak dewasa dilaporkan memiliki berat
antara 900 dan 2.300 kilogram. Penelitian untuk mengumpulkan pengukuran akurat
badak Jawa tidak pernah dilakukan dan bukan prioritas.[4] Tidak terdapat
perbedaan besar antara jenis kelamin, tetapi badak Jawa betina ukuran tubuhnya
dapat lebih besar. Badak di Vietnam lebih kecil daripada di Jawa berdasarkan
penelitian bukti melalui foto dan pengukuran jejak kaki mereka.
Penyebaran dan habitat : Taman Nasional Ujung Kulon di Jawa adalah habitat bagi sisa badak Jawa yang masih hidup. Perkiraan yang paling optimistis memperkirakan bahwa lebih sedikit dari 100 badak Jawa masih ada di alam bebas. Mereka dianggap sebagai mamalia yang paling terancam; walaupun masih terdapat badak Sumatra yang tempat hidupnya tidak dilindungi seperti badak Jawa, dan beberapa pelindung alam menganggap mereka memiliki risiko yang lebih besar. Badak Jawa diketahui masih hidup di dua tempat, Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat pulau Jawa dan Taman Nasional Cat Tien yang terletak sekitar 150 km sebelah utara Kota Ho Chi Minh.
Penyebaran dan habitat : Taman Nasional Ujung Kulon di Jawa adalah habitat bagi sisa badak Jawa yang masih hidup. Perkiraan yang paling optimistis memperkirakan bahwa lebih sedikit dari 100 badak Jawa masih ada di alam bebas. Mereka dianggap sebagai mamalia yang paling terancam; walaupun masih terdapat badak Sumatra yang tempat hidupnya tidak dilindungi seperti badak Jawa, dan beberapa pelindung alam menganggap mereka memiliki risiko yang lebih besar. Badak Jawa diketahui masih hidup di dua tempat, Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat pulau Jawa dan Taman Nasional Cat Tien yang terletak sekitar 150 km sebelah utara Kota Ho Chi Minh.
Sifat : Badak jawa adalah binatang
tenang dengan pengecualian ketika mereka berkembang biak dan apabila seekor
inang mengasuh anaknya. Kadang-kadang mereka akan berkerumun dalam kelompok
kecil di tempat mencari mineral dan kubangan lumpur. Berkubang di lumpur adalah
sifat umum semua badak untuk menjaga suhu tubuh dan membantu mencegah penyakit
dan parasit. Badak jawa tidak menggali kubangan lumpurnya sendiri dan lebih
suka menggunakan kubangan binatang lainnya atau lubang yang muncul secara
alami, yang akan menggunakan culanya untuk memperbesar. Tempat mencari mineral
juga sangat penting karena nutrisi untuk badak diterima dari garam. Wilayahi
jantan lebih besar dibandingkan betina dengan besar wilayah jantan 12–20 km²
dan wilayah betina yang diperkirakan 3–14 km². Wilayah jantan lebih besar
daripada wilayah wanita. Tidak diketahui apakah terdapat pertempuran
teritorial.
Jantan menandai wilayah mereka dengan tumpukan kotoran dan percikan urin. Goresan yang dibuat oleh kaki di tanah dan gulungan pohon muda juga digunakan untuk komunikasi. Anggota spesies badak lainnya memiliki kebiasaan khas membuang air besar pada tumpukan kotoran badak besar dan lalu menggoreskan kaki belakangnya pada kotoran. Badak Sumatra dan Jawa ketika buang air besar di tumpukan, tidak melakukan goresan. Adaptasi sifat ini diketahui secara ekologi; di hutan hujan Jawa dan Sumatera, metode ini mungkin tidak berguna untuk menyebar bau.
Jantan menandai wilayah mereka dengan tumpukan kotoran dan percikan urin. Goresan yang dibuat oleh kaki di tanah dan gulungan pohon muda juga digunakan untuk komunikasi. Anggota spesies badak lainnya memiliki kebiasaan khas membuang air besar pada tumpukan kotoran badak besar dan lalu menggoreskan kaki belakangnya pada kotoran. Badak Sumatra dan Jawa ketika buang air besar di tumpukan, tidak melakukan goresan. Adaptasi sifat ini diketahui secara ekologi; di hutan hujan Jawa dan Sumatera, metode ini mungkin tidak berguna untuk menyebar bau.
Badak jawa memiliki lebih sedikit suara
daripada badak sumatra; sangat sedikit suara badak jawa yang diketahui. Badak
Jawa dewasa tidak memiliki musuh alami selain manusia. Spesies ini, terutama
sekali di Vietnam, adalah spesies yang melarikan diri ke hutan ketika manusia
mendekat sehingga sulit untuk meneliti badak. Ketika manusia terlalu dekat
dengan badak jawa, badak itu akan menjadi agresif dan akan menyerang, menikam
dengan gigi serinya di rahang bawah sementara menikam keatas dengan kepalanya.
Sifat anti-sosialnya mungkin merupakan adaptasi tekanan populasi; bukti sejarah
mengusulkan bahwa spesies ini pernah lebih berkelompok.
Makanan : Badak jawa adalah hewan herbivora dan makan bermacam-macam spesies tanaman, terutama tunas, ranting, daun-daunan muda dan buah yang jatuh. Kebanyakan tumbuhan disukai oleh spesies ini tumbuh di daerah yang terkena sinar matahari: pada pembukaan hutan, semak-semak dan tipe vegetasi lainnya tanpa pohon besar. Badak menjatuhkan pohon muda untuk mencapai makanannya dan mengambilnya dengan bibir atasnya yang dapat memegang. Badak Jawa adalah pemakan yang paling dapat beradaptasi dari semua spesies badak. Badak diperkirakan makan 50 kg makanan per hari. Seperti badak Sumatra, spesies badak ini memerlukan garam untuk makanannya. Tempat mencari mineral umum tidak ada di Ujung Kulon, tetapi badak Jawa terlihat minum air laut untuk nutrisi sama yang dibutuhkan.
Makanan : Badak jawa adalah hewan herbivora dan makan bermacam-macam spesies tanaman, terutama tunas, ranting, daun-daunan muda dan buah yang jatuh. Kebanyakan tumbuhan disukai oleh spesies ini tumbuh di daerah yang terkena sinar matahari: pada pembukaan hutan, semak-semak dan tipe vegetasi lainnya tanpa pohon besar. Badak menjatuhkan pohon muda untuk mencapai makanannya dan mengambilnya dengan bibir atasnya yang dapat memegang. Badak Jawa adalah pemakan yang paling dapat beradaptasi dari semua spesies badak. Badak diperkirakan makan 50 kg makanan per hari. Seperti badak Sumatra, spesies badak ini memerlukan garam untuk makanannya. Tempat mencari mineral umum tidak ada di Ujung Kulon, tetapi badak Jawa terlihat minum air laut untuk nutrisi sama yang dibutuhkan.
Reproduksi : Sifat seksual badak Jawa
sulit dipelajari karena spesies ini jarang diamati secara langsung dan tidak
ada kebun binatang yang memiliki spesimennya. Betina mencapai kematangan seksual
pada usia 3-4 tahun sementara kematangan seksual jantan pada umur 6.
Kemungkinan untuk hamil diperkirakan muncul pada periode 16-19 bulan. Interval
kelahiran spesies ini 4–5 tahun dan anaknya membuat berhenti pada waktu sekitar
2 tahun. Empat spesies badak lainnya memiliki sifat pasangan yang mirip.
Ujung Kulon : Semenanjung Ujung Kulon
dihancurkan oleh letusan gunung Krakatau tahun 1883. Badak Jawa mengkolonisasi
kembali semenanjung itu setelah letusan, tetapi manusia tidak pernah kembali
pada jumlah yang besar, sehingga menjadi tempat berlindung. Pada tahun 1931,
karena badak Jawa berada di ambang kepunahan di Sumatra, pemerintah
Hindia-Belanda menyatakan bahwa badak merupakan spesies yang dilindungi, dan
masih tetap dilindungi sampai sekarang. Pada tahun 1967 ketika sensus badak
dilakukan di Ujung Kulon, hanya 25 badak yang ada. Pada tahun 1980, populasi
badak bertambah, dan tetap ada pada populasi 50 sampai sekarang. Walaupun badak
di Ujung Kulon tidak memiliki musuh alami, mereka harus bersaing untuk memperebutkan
ruang dan sumber yang jarang dengan banteng liar dan tanaman Arenga yang dapat
menyebabkan jumlah badak tetap berada dibawah kapasitas semenanjung. Ujung
Kulon diurus oleh menteri Kehutanan Republik Indonesia. Ditemukan paling
sedikit empat bayi badak Jawa pada tahun 2006.
2)
Macan
Tutul Jawa
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas)
atau macan kumbang adalah salah satu subspesies dari macan tutul yang hanya
ditemukan di hutan tropis, pegunungan dan kawasan konservasi Pulau Jawa,
Indonesia. Macan tutul ini memiliki dua variasi warna kulit yaitu berwarna
terang (oranye) dan hitam (macan kumbang). Macan tutul jawa adalah satwa
indentitas Provinsi Jawa Barat.
Dibandingkan dengan macan tutul lainnya,
macan tutul jawa berukuran paling kecil, dan mempunyai indra penglihatan dan
penciuman yang tajam. Subspesies ini pada umumnya memiliki bulu seperti warna
sayap kumbang yang hitam mengilap, dengan bintik-bintik gelap berbentuk
kembangan yang hanya terlihat di bawah cahaya terang. Bulu hitam Macan Kumbang sangat
membantu dalam beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap. Macan
Kumbang betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan.
Hewan ini soliter, kecuali pada musim berbiak. Macan tutul ini lebih aktif berburu mangsa di malam hari. Mangsanya yang terdiri dari aneka hewan lebih kecil biasanya diletakkan di atas pohon.
Macan tutul merupakan satu-satunya kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa. Frekuensi tipe hitam (kumbang) relatif tinggi. Warna hitam ini terjadi akibat satu alel resesif yang dimiliki hewan ini.
Sebagian besar populasi macan tutul dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, meskipun di semua taman nasional di Jawa dilaporkan pernah ditemukan hewan ini, mulai dari Ujung Kulon hingga Baluran. Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan, penangkapan liar, serta daerah dan populasi dimana hewan ini ditemukan sangat terbatas, macan tutul jawa dievaluasikan sebagai Kritis sejak 2007 di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I. Satwa ini dilindungi di Indonesia, yang tercantum di dalam UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999.
Hewan ini soliter, kecuali pada musim berbiak. Macan tutul ini lebih aktif berburu mangsa di malam hari. Mangsanya yang terdiri dari aneka hewan lebih kecil biasanya diletakkan di atas pohon.
Macan tutul merupakan satu-satunya kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa. Frekuensi tipe hitam (kumbang) relatif tinggi. Warna hitam ini terjadi akibat satu alel resesif yang dimiliki hewan ini.
Sebagian besar populasi macan tutul dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, meskipun di semua taman nasional di Jawa dilaporkan pernah ditemukan hewan ini, mulai dari Ujung Kulon hingga Baluran. Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan, penangkapan liar, serta daerah dan populasi dimana hewan ini ditemukan sangat terbatas, macan tutul jawa dievaluasikan sebagai Kritis sejak 2007 di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I. Satwa ini dilindungi di Indonesia, yang tercantum di dalam UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999.
Status
konservasi : Kritis
Klasifikasi ilmiah :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Carnivora
Famili : Felidae
Genus : Panthera
Spesies : P. pardus
Upaspesies : P. p. melas
Klasifikasi ilmiah :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Carnivora
Famili : Felidae
Genus : Panthera
Spesies : P. pardus
Upaspesies : P. p. melas
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Indonesia memiliki banyak keanekaragaman makhluk hidup diantaranya dilihat dari flora dan fauna yang ada di Jawa Barat. Jawa Barat meiliki flora dan fauna endemic tersendiri yang harus diketahui dan dijaga bahkan dilestariakn oleh kita sebagai penduduk Jawa Barat khususnya.
Dengan semakin berkembangnya zaman dan ekonomi semakin tinggi
dengan segala kebutuhan yang harus dipenuhi, manusia akan melakukan apapun
untuk dapat mencukupi dan memuaskan kebutuhannya misalnya dengan cara pemburuan
liar flora dan fauna langka tanpa berfikir untuk menangkar atau mengembang
biakan.
Oleh karenanya jangan sampai segala bentuk keanekaaragaman tersebut punah akibat ulah manusia itu sendiri. Maka dari itu kita sebagai makhluk hidup yang sempurna yang memiliki akal dan hati nurani harus sadar dan mau menjaga serta melestarikan keanekaragaman tersebut agar tidak punah.
Oleh karenanya jangan sampai segala bentuk keanekaaragaman tersebut punah akibat ulah manusia itu sendiri. Maka dari itu kita sebagai makhluk hidup yang sempurna yang memiliki akal dan hati nurani harus sadar dan mau menjaga serta melestarikan keanekaragaman tersebut agar tidak punah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar